DI
ARABICA usai diundang menjadi narasumber seminar interaktif anti
korupsi di Dumai, Rabu (21/1/2026) saya didaulat oleh beberapa awak
media untuk memberi komentar terkait dinamika politik pembangunan kota
Dumai. Dari soal hulu hilir, DBH, APBD, hingga pengangguran dan tata
kota.
Masih
segar dalam ingatan, dulu saya pernah mendapat SK dari Walikota Dumai
terkait perjuangan DBH. Tapi setelah itu terlupakan. Kini kepada media,
karena kecintaan saya pada Kota Dumai, saya menyampaikan gagasan, jika
ke depan, Dumai harus memiliki bangunan ikonik yang layak menjadi
kebanggaan kota.
Rebuilding
kota dan dialektika pembangunan Kota Dumai tak bisa dibatasi oleh
siklus lima tahunan. Kota pelabuhan strategis di pesisir Riau ini perlu
memiliki arah filosofis jangka panjang yang kokoh, berani, dan visioner.
Salah satu simbol gagasan besar itu adalah Menara Pandang Kota Dumai
(MPKD)—sebuah landmark monumental yang digagas sebagai pemandu arah masa
depan dari ketinggian.
Outlook
pembangunan Dumai 2026-2030, saatnya masyarakat Dumai melakukan
dialektika redefinisi terhadap jati diri kotanya. “Pertanyaan
strategisnya; Dumai ini sesungguhnya menghadap ke mana' Laut, industri,
perdagangan, atau peradaban'”
Pembangunan
kota idealnya memiliki cetak biru filosofis yang melampaui kepentingan
politik jangka pendek. “Simbolnya adalah Menara Pandang Kota Dumai".
Simbol cara pandang segala arah. Timur Barat peradaban. Utara Selatan
pembangunan. Sebuah landmark yang bukan sekadar bangunan, tapi pemandu
arah pembangunan jangka panjang.
Kita
bisa bandingkan gagasan ini dengan ikon nasional. “Jika Jakarta
memiliki Monas, maka Dumai harus punya Menara Pandang. Tingginya bisa
100 meter. Soal nama, serahkan sepenuhnya kepada kearifan lokal
masyarakat Dumai. Desain dan rencana konstruksi pun bisa disayembarakan
secara terbuka agar melibatkan partisipasi publik.
Nilai
filosofis menara pandang tersebut menyerupai mercusuar—sangat relevan
dengan identitas Dumai sebagai kota pelabuhan. Kita bisa belajar dari
Menara Pandang Teratai di Purwokerto, Jawa Tengah, yang sukses menjadi
ikon kota, destinasi wisata, sekaligus pundi sumber Pendapatan Asli
Daerah (PAD).
Menara
Pandang Dumai bisa menjadi fasilitas publik yang monumental, destinasi
wisata baru, dan sumber ekonomi baru bagi daerah. Lokasi strategisnya di
taman bukit gelanggang, menara terdiri dari tujuh lantai utama
(filosofi Putri Tujuh, tujuh kecamatan yang ada di Dumai, tujuh lapis
langit). Lantai satu berisi rilief atau diaroma sejarah kota Dumai,
diikuti lantai dua dan seterusnya, berisi ruang perpustakaan, ruang
diskusi, etalase pembangunan dan bisnis. Puncaknya lantai tujuh sebagai
ruang pandang.
Dari
ketinggian, publik bisa memandang laut lepas, melihat dinamika industri
Dumai, hingga menembus Tol Permai sebagai gerbang masuk investasi. Itu
bukan sekadar pemandangan, tapi refleksi sekaligus visi kemajuan kota.
"Apa tanda Dumai maju, warga bersatu bahu membahu"
Untuk
itu, seluruh elemen masyarakat ayo bersatu mengawal gagasan besar ini.
Gerak cepat bentuk tim penggagas dan tim strategis secara inklusif.
Duduk bersama, membedah gagasan ini, dan bersinergi mewujudkan rencana
yang membanggakan ini.
Dumai bukan hanya kota idaman, tapi kota masa depan.
*Jakarta, 24 Januari 2026*
*Penulis adalah Founder Duri Institute