• Home
  • Ruang Opini
  • Menara Pandang Kota Dumai: Pemandu Arah Masa Depan dari Ketinggian

Menara Pandang Kota Dumai: Pemandu Arah Masa Depan dari Ketinggian

Ditulis Oleh: Agung Marsudi*
Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:08
Agung Marsudi
DI ARABICA usai diundang menjadi narasumber seminar interaktif anti korupsi di Dumai, Rabu (21/1/2026) saya didaulat oleh beberapa awak media untuk memberi komentar terkait dinamika politik pembangunan kota Dumai. Dari soal hulu hilir, DBH, APBD, hingga pengangguran dan tata kota.

Masih segar dalam ingatan, dulu saya pernah mendapat SK dari Walikota Dumai terkait perjuangan DBH. Tapi setelah itu terlupakan. Kini kepada media, karena kecintaan saya pada Kota Dumai, saya menyampaikan gagasan, jika ke depan, Dumai harus memiliki bangunan ikonik yang layak menjadi kebanggaan kota.

Rebuilding kota dan dialektika pembangunan Kota Dumai tak bisa dibatasi oleh siklus lima tahunan. Kota pelabuhan strategis di pesisir Riau ini perlu memiliki arah filosofis jangka panjang yang kokoh, berani, dan visioner. Salah satu simbol gagasan besar itu adalah Menara Pandang Kota Dumai (MPKD)—sebuah landmark monumental yang digagas sebagai pemandu arah masa depan dari ketinggian.

Outlook pembangunan Dumai 2026-2030, saatnya masyarakat Dumai melakukan dialektika redefinisi terhadap jati diri kotanya. “Pertanyaan strategisnya; Dumai ini sesungguhnya menghadap ke mana' Laut, industri, perdagangan, atau peradaban'”

Pembangunan kota idealnya memiliki cetak biru filosofis yang melampaui kepentingan politik jangka pendek. “Simbolnya adalah Menara Pandang Kota Dumai". Simbol cara pandang segala arah. Timur Barat peradaban. Utara Selatan pembangunan. Sebuah landmark yang bukan sekadar bangunan, tapi pemandu arah pembangunan jangka panjang.

Kita bisa bandingkan gagasan ini dengan ikon nasional. “Jika Jakarta memiliki Monas, maka Dumai harus punya Menara Pandang. Tingginya bisa 100 meter. Soal nama, serahkan sepenuhnya kepada kearifan lokal masyarakat Dumai. Desain dan rencana konstruksi pun bisa disayembarakan secara terbuka agar melibatkan partisipasi publik.

Nilai filosofis menara pandang tersebut menyerupai mercusuar—sangat relevan dengan identitas Dumai sebagai kota pelabuhan. Kita bisa belajar dari Menara Pandang Teratai di Purwokerto, Jawa Tengah, yang sukses menjadi ikon kota, destinasi wisata, sekaligus pundi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menara Pandang Dumai bisa menjadi fasilitas publik yang monumental, destinasi wisata baru, dan sumber ekonomi baru bagi daerah. Lokasi strategisnya di taman bukit gelanggang, menara terdiri dari tujuh lantai utama (filosofi Putri Tujuh, tujuh kecamatan yang ada di Dumai, tujuh lapis langit). Lantai satu berisi rilief atau diaroma sejarah kota Dumai, diikuti lantai dua dan seterusnya, berisi ruang perpustakaan, ruang diskusi, etalase pembangunan dan bisnis. Puncaknya lantai tujuh sebagai ruang pandang.

Dari ketinggian, publik bisa memandang laut lepas, melihat dinamika industri Dumai, hingga menembus Tol Permai sebagai gerbang masuk investasi. Itu bukan sekadar pemandangan, tapi refleksi sekaligus visi kemajuan kota.

"Apa tanda Dumai maju, warga bersatu bahu membahu"

Untuk itu, seluruh elemen masyarakat ayo bersatu mengawal gagasan besar ini. Gerak cepat bentuk tim penggagas dan tim strategis secara inklusif. Duduk bersama, membedah gagasan ini, dan bersinergi mewujudkan rencana yang membanggakan ini.

Dumai bukan hanya kota idaman, tapi kota masa depan.


*Jakarta, 24 Januari 2026*

*Penulis adalah Founder Duri Institute


BERITA LAINNYA
Kesalehan Sosial di Tengah Bencana
Jumat, 05 Desember 2025 | 19:31
Menebang Hutan, Menggali Liang Kubur
Jumat, 11 Juli 2025 | 13:01
Menaikkan Insentif Fiskal untuk Pengendalian Inflasi
Jumat, 15 September 2023 | 17:20
BERIKAN KOMENTAR
Buy twitter verification Buy Facebook verification Buy Tiktok verification SMM Panel
Top