Maju Riau Karena Desa

Statistisi Pertama BPS Kab Kepulauan Meranti
Selasa, 15 Januari 2019 | 21:30
RiauGreen.com
Poto:Dessy Syukriya Aryati
Hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 10 Desember yang lalu. 
Pendataan Podes yang dilaksanakan pada Mei 2018 di seluruh nusantara menunjukkan bahwa Indonesia memilliki 83.931 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri atas 75.436 desa, 8.444 kelurahan, dan 51 UPT/SPT. 

Jumlah desa meningkat 2,19 persen dibanding pendataan Podes tahun 2014. Podes 2018 juga mencatat sebanyak 7.232 kecamatan dan 514 kabupaten/kota. Selain menghasilkan data jumlah wilayah administrasi, Podes juga digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Desa (IPD). 

IPD ini menggambarkan tingkat kemajuan atau perkembangan desa pada satu waktu. Hasilnya, dari 75.436 total desa yang ada di Indonesia, 73,40 persen desa di Indonesia termasuk dalam kategori Desa Berkembang, 7,43 persen desa termasuk Desa Mandiri dan sisanya sebesar 19,71 persen. masuk kategori Desa Tertinggal. 

Pendataan Podes 2018 merupakan pendataan terhadap ketersediaan infrastruktur, potensi sosial serta ekonomi yang dimiliki oleh wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Ini merupakan satu-satunya penyediaan data kewilayahan di Indonesia oleh BPS. 

Kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi masyarakat, perangkat desa serta pemerintah daerah untuk lebih mengenal, menyusun rencana dan strategi terbaik untuk mengoptimalkan potensi desa masing-masing secara mandiri dan berkelanjutan.

Potensi Desa di Riau

Dari hasil Podes 2018, Provinsi Riau memiliki 1.875 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri atas 1.607 desa. Dan 268 kelurahan yang tersebar 12 kabupaten/kota. 

Menurut status IPD, 87,43 persen desa di Riau termasuk sebagai Desa Berkembang, 7,09 persen termasuk Desa Mandiri dan 5,48 persen termasuk sebagai Desa tertinggal.

Pembangunan desa menjadi satu prioritas bagi Pemerintah saat ini. Sesuai tujuan pada Nawacita ketiga, yaitu 'Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat

daerah-daerah dan desa dalam kerangka kerja Negara kesatuan'. Bila ditelaah lebih dalam, sebenarnya ada banyak desa potensi yang mampu lebih dari sekedar menjadi berkembang, terutama di Provinsi Riau. Baru-baru ini, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI (Kemendes PDTT) memberikan penghargaan kepada desa-desa terbaik berskala nasional. 

Desa Gunung Sari di Kecamatan Gunung Sahilan Kabupaten Kampar menerima penghargaan desa terbaik berdasarkan pengukuran IDM (Indeks Desa Membangun). Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan mengingat Desa Gunung

Sari yang berstatus 'tertinggal' pada 2014. Di tahun 2018, desa ini melejit menjadi berstatus 'mandiri'. Kedepannya, perangkat desa setempat akan mengembangkan Desa Gunung Sari menjadi daerah agrowisata buah-buahan. Selain dapat memandirikan desa, konsep ini juga akan menambah potensi daerah tujuan wisata di Riau.

Tak hanya itu, Desa Sungai Cina, Desa Semukut dan Desa Kundur di Kabupaten Kepulauan Meranti meraih penghargaan desa terbaik pada Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa oleh Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI (Kemendes PDTT) Tingkat Provinsi Riau Tahun 2018. 

Desa Sungai Cina di Kecamatan Rangsang Barat terpilih sebagai Desa Terbaik Kategori Penguatan Dana Desa dan Pelaksanaan Padat Karya Tunai; Desa Semukut di Kecamatan Pulau Merbau sebagai Desa Terbaik Kategori Pelayanan Informasi dan Keterbukaan Publik; serta Desa Kundur di Kecamatan Tebing Tinggi Barat sebagai Desa Terbaik Kategori Prakarsa dan Inovasi.

Inovasi Desa Kundur Kabupaten Kepulauan Meranti dalam mengolah air gambut menjadi air layak minum memang patut diapresiasi lebih. Inovasi ini berhasil mencukupi kebutuhan air bersih warga. Air bersih berkualitas amat sulit didapatkan mengingat wilayah Meranti yang berupa kawasan gambut. 

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 yang dilakukan BPS mencatat, untuk kebutuhan air sehari-hari, terutama untuk minum, sebanyak 83,07 persen penduduk Meranti mengandalkan air hujan. Jika sudah memasuki musim kemarau, barulah warga beralih ke air kemasan atau air isi ulang.

Namun, tidak semua warga mampu membeli air isi ulang. Berangkat dari kondisi yang sulit, ide mengolah air gambut pun menjadi tantangan. Selain bermanfaat untuk masyarakat Desa Kundur, inovasi ini juga dapat diterapkan di wilayah lain di Riau. 

Hal ini mengingat kondisi alamnya yang hampir sama terutama di wilayah pesisir. Sebenarnya, memajukan desa dapat dimulai dengan mengembangkan produk-produk unggulan di masing-masing desa. Misalnya, desa dengan potensi pertanian, desa dengan potensi industri, maupun desa dengan potensi wisata. 

Pengembangan produk unggulan sesuai potensi diiringi dengan inovasi berbasis teknologi tentu akan menjanjikan masa depan di desa. Di tengah geliat sektor pariwisata, sektor pertanian dengan segala tantangannya masih menjadi tumpuan hidup sebahagian besar masyarakat, terutama di desa.

Hal ini mengingat kontribusi sektor pertanian terhadap perekomonian Riau tahun 2017 sebesar 23,63 persen, meningkat 4,63 poin dibanding tahun 2013. Pendataan Podes 2018 juga mencatat, sebanyak 1.687 desa di Riau bertopang pada sektor pertanian. 

Sektor pertanian masih menjadi sektor tumpuan masyarakat di desa. Sebahagian besar penduduk yang bekerja pada sektor ini mengusahakan kelapa sawit (829 desa) dan karet (492 desa).  Sisanya, mengusahakan kelapa, padi, palawija dan hortikultura.

Sektor pertanian dan industri pengolahan mendominasi kegiatan ekonomi Riau sebesar 48,94 persen pada tahun 2017. Artinya, selain potensi pertanian, potensi industri pengolahan juga menarik untuk dilirik. 

Hasil Listing Sensus Ekonomi 2016 telah menunjukkannya. Sebesar 98,83 persen usaha di kategori industri pengolahan merupakan usaha dengan skala mikro kecil (UMK). Besarnya dominasi UMK ini sebaiknya menjadi prioritas pengembangan daerah, terutama yang ada di desa. 

Pendataan Podes menunjukkan bahwa industri barang dari kayu ada di 781 desa, industri makan minum ada di 548 desa dan industri dari kain/tenun ada di 303 desa. Mensinergikan hasil pendataan berbasis kewilayahan dengan data lain yang relevan ternyata mampu membuka mata kita akan banyak potensi yang ada di desa.

Desa Harapan Riau

Kita semua tentu berharap akan muncul potensi-potensi desa lainnya di Riau. Tentu dengan segala keunikannya masing-masing. Seperti halnya manusia, pada dasarnya kemajuan suatu daerah ditopang oleh kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.

Selain iu, kemampuan masyarakat untuk melihat peluang juga perlu terus diasah. Hasil pendataan Podes dapat dimanfaatkan sebagai pendeteksi awal terhadap potensi ekonomi desa di Riau. 

Pemanfaatan hasil Podes akan lebih bermakna jika kita dan desa terus berbenah, menyikapi kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan. Mari cermati potensi desa dengan memanfaatkan hasil Podes 2018 guna memajukan desa. Karena maju Riau berkat desa bukan angan belaka. 

Editor: Hendrianto
Penulis: Dessy Syukriya Aryati, SST
TTL : Pekanbaru, 26 Mei 1990
Pekerjaan/Jabatan : Statistisi Pertama BPS Kab Kepuluan Meranti Prov Riau. 

Loading...
BERITA LAINNYA
Sawit Potensi & Problematika Ibu Pertiwi
Minggu, 21 April 2019 | 09:58
Yuk, Gotong Royong 10K Bangun Asrama Gratis
Senin, 15 April 2019 | 18:04
Lika-liku Bisni Jasa Titip (Jastip)
Senin, 15 April 2019 | 18:02
Politik Identitas, Millenial Cerdas
Jumat, 29 Maret 2019 | 16:37
Benarkah Dana Desa untuk Kemakmuran Desa?
Rabu, 23 Januari 2019 | 10:01
Memuhasabah untuk Meraih Berkah
Kamis, 17 Januari 2019 | 15:02
Selamatkan Burung Rangkong Dari Kepunahan
Kamis, 17 Januari 2019 | 13:09
BERIKAN KOMENTAR
Top