• Home
  • Lingkungan
  • Inggris dan Indonesia Bekerja Sama untuk Melindungi Alam, Komunitas, dan “Raksasa Sumatra” seiring Penandatanganan Kemitraan Strategis Baru

Inggris dan Indonesia Bekerja Sama untuk Melindungi Alam, Komunitas, dan “Raksasa Sumatra” seiring Penandatanganan Kemitraan Strategis Baru

CEO WWF-Indonesia menghadiri forum diskusi tingkat tinggi di Lancaster House mendampingi agenda Presiden RI Prabowo Subianto
Jumat, 23 Januari 2026 | 15:25
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertemu dengan Yang Mulia Raja Charles III
JAKARTA, RIAUGREEN.COM - Hari ini (21 Januari 2026), Menteri Inggris untuk Kawasan Indo-Pasifik, Seema Malhotra, dan Utusan Khusus Presiden Indonesia untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menjadi tuan rumah forum diskusi tingkat tinggi di Lancaster House, London, untuk menggalang dukungan bagi konservasi keanekaragaman hayati dan lanskap unik Indonesia, termasuk melalui Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), sebuah upaya konservasi yang dipimpin Indonesia di Provinsi Aceh, serta melalui Kelompok Kerja Investor Spesies Khusus (Iconic Species Investor Working Group) yang baru guna menghimpun dukungan untuk berbagai taman nasional di Indonesia.

Diskusi tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, para Menteri, pelaku bisnis, pelaku filantropis dan perwakilan dari organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi Circular Bioeconomy Alliance (CBA). Diskusi tersebut diikuti resepsi singkat yang dihadiri Yang Mulia Raja Charles III, yang mendirikan CBA saat masih menjadi Prince of Wales untuk mempercepat transisi menuju ekonomi berbasis alam.

PECI menunjukkan bagaimana pengelolaan lanskap terpadu, dengan menggabungkan konservasi gajah, produksi agroforestri berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi lokal, dapat menjadi cetak biru praktis menuju ekonomi yang menempatkan alam sebagai pusat pembangunan di Indonesia. Dengan melindungi gajah Sumatra yang terancam punah serta hutan yang menjadi habitatnya, inisiatif ini memperkuat hubungan harmonis antara satwa liar, alam, dan masyarakat yang hidup berdampingan.

Hubungan yang saling terkait ini memberikan manfaat penting bagi masyarakat lokal, termasuk meningkatkan ketahanan iklim terhadap bencana seperti banjir bandang. Inisiatif ini juga mencerminkan kepemimpinan Indonesia dalam aksi keanekaragaman hayati dan iklim melalui model transparan yang dipimpin secara lokal dan didukung mitra internasional, yang dapat diperluas untuk mencakup mobilisasi keuangan untuk berbagai taman nasional di seluruh Indonesia.

Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik, Seema Malhotra, mengatakan:
“Inggris bangga bekerja sama dengan Indonesia untuk melindungi alam, termasuk gajah Sumatra. Proyek PECI membantu menjaga lingkungan sekaligus mendukung masyarakat dan lapangan pekerjaan. Acara hari ini menunjukkan bahwa dengan bekerja bersama, kita dapat memerangi perubahan iklim sekaligus melindungi alam.”

Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, mengatakan:
“Melalui program PECI di Provinsi Aceh, Indonesia memprioritaskan perlindungan gajah Sumatra yang terancam punah. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, program ini diperluas menjadi 90.000 hektar pada Agustus 2025. Dengan dukungan penuh Pemerintah Inggris serta kolaborasi WWF-Indonesia dan PT Tusam Hutani Lestari, upaya konservasi telah dilakukan untuk mendorong keharmonisan antara manusia dan satwa liar. PECI juga akan berfokus pada pengembangan agroforestri, ekowisata berbasis konservasi, serta implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai model konservasi nasional.”

CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, mengatakan:
“Melindungi habitat gajah Sumatra di wilayah Peusangan sangat penting untuk menjaga sumber air dan cadangan karbon guna menghadapi krisis iklim global. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pembiayaan konservasi inovatif dapat mendorong aksi lokal untuk melestarikan area keanekaragaman hayati di Indonesia, yang mencakup hingga 93 juta hektar, serta mendukung visi Indonesia untuk masa depan yang tangguh terhadap iklim.”

CEO Circular Bioeconomy Alliance, Marc Palahí, mengatakan:
“Kolaborasi ini menunjukkan apa yang mungkin dicapai ketika kita melampaui pendekatan yang terfragmentasi dan mengadopsi solusi terpadu pada tingkat lanskap. Dengan menggabungkan konservasi, produksi berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi lokal, PECI menawarkan cetak biru praktis tidak hanya untuk Aceh, tetapi juga untuk berbagai lanskap di seluruh Indonesia. Melalui Living Lab di Aceh dan Living Lab paralel kami dengan mitra di Jawa Barat, kami menunjukkan bagaimana ekonomi berbasis alam dapat diwujudkan di lapangan, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat mata pencaharian, dan membangun ketahanan jangka panjang bagi manusia dan alam.”

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Buy twitter verification Buy Facebook verification Buy Tiktok verification SMM Panel
Top