DUMAI, RIAUGREEN.COM - Hasil temuan lapangan Badan Wilayah Sungai Sumatera II Propinsi Riau, pada tinjauan lapangan ke wilayah kerja PT Pelindo beberapa waktu lalu, membuktikan penyempitan dan pendangkalan sistim drainase aliran air menuju ke laut menyebabkan terjadinya penumpukan air di darat. Sehingga terjadi genangan air karena lambatnya air kembali kelaut.
Temuan itu, tertuang dalam surat Badan Wilayah Sungai Sumatera II Riau tertanggal 29 Desember 2025 lalu.
Dalam surat hasil turun lapangan ke wilayah kerja Pelindo, tim rekomendasi teknis Badan Wilayah Sungai Sumatera II Pekanbaru menemukan beberapa point penyebab banjir di Kota Dumai.
Diantaranya, terjadinya penyempitan dan pendangkalan aliran drainase hampir seluruh wilayah kerja Pelindo, selain itu, beberapa pintu air menuju kelaut tidak berfungsi dengan baik.
Sementara sistim aliran drainase atau sungai merupakan satu kesatuan dengan sistim aliran air yang ada di perkotaan.
Selain itu tim teknis rekomendasi Badan Wilayah Sungai Sumatera II juga menemukan, beberapa bangunan atau gudang dan pabrik berdiri di atas draianase sehinga terjadi sedimentasi dan pendangakalan drainase dan aliran sungai.
Ditambah, terjadinya penyempitan pertemuan air di drainase yang dibangun PT Pelindo dan Pemerintah Kota sehinga terjadi penumpukan air di daratan.
Kordinator Aliansi Rakyat Untuk Keadilan Rizki Kurniawan menuturkan, dugaan pihaknya atas penyebab banjir terbukti dengan keluarnya surat tim teknis Badan Wilayah Sungai Sumatera bahwa telah terjadi pendangkalan dan penyempitan aliran drainase maupun sungai di wilayah kerja PT Pelindo.
Akibatnya terjadi penumpukan air di drainase kota, karena aliran air tidak berjalan dengan baik, selain itu hampir seluruh pintu air menuju kelaut tidak berfungsi.
"Apalagi di sejumlah drainase dan aliran sungai berdiri gudang dan bangunan pabrik, memperparah sedimentasi dan pendangkalan," pungkas Rizki Kurniawan. (54f)
Keteranga Foto: Tim teknis rekomendasi Badan wilayah Sungai Sumatera didampingi ketua komisi III Hasrizal SH dan perwakilan Aliansi Rakyat untuk Keadilan saat turun lapangan