• Home
  • Ruang Opini
  • Pembakaran Bendera Tauhid Bentuk Penghinaan kepada Ummat Islam (Merespon Pembakaran Bendera Tauhid di Garut)

Pembakaran Bendera Tauhid Bentuk Penghinaan kepada Ummat Islam (Merespon Pembakaran Bendera Tauhid di Garut)

Oleh: Alfira Khairunnisa, A.Md. Kom (Muslimah Peduli Umat Riau)
Kamis, 25 Oktober 2018 | 11:06
foto int
Ilustrasi
"Bendera tauhid adalah simbol keseluruhan umat islam dan milik islam. Tindakan pembakaran ini merupakan penghinaan kepada umat islam. Jangan dianggap sepele," kata Irvan Herman, politisi muda PAN Riau (GoRiau.com, 23/10/2018)

Aksi pembakaran Bendera Tauhid, pada Senin, (22/10/2018) mendapat reaksi dan kecaman dari berbagai pihak. Berbagai kalangan sangat menyayangkan Aksi yang dilakukan oleh Banser ini.

Meski Ketum GP Ansor membenarkan banser NU di Garut membakar bendera Tauhid saat peringatan hari santri. (CNN Indonesia, 22/10/2018) tetapi sampai saat ini, belum ada permintaan maaf dan rasa penyesalan dari Banser atas kejadiaan ini.

Video berdurasi 02.05 menit itu, memperlihatkan belasan anggota Banser Garut terlihat membakar bendera hitam dan bertuliskan aksara arab berwarna putih dengan kalimat Tauhid.

Mulanya, ada satu anggota banser yang membawa bendera berwarna hitam bertuliskan aksara arab yang bertuliskan kalimat tauhid. Kemudian belasan anggota Banser lainnya  berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api. Ikat kepala berwarna hitam bertuliskan aksara arab dengan kalimat Tauhid juga ikut dibakar. Kemudian, pada saat yang bersamaan ada salah satu dari mereka yang mengibarkan bendera Merah Putih berukuran besar. Disaat api terlihat mulai membesar dan nyaris melalap setengah dari bendera, nampak sejumlah anggota Banser semakin bersemangat menyanyikan Mars NU. Bahkan terlihat beberapa diantaranya turut mengepalkan tangan seirama dengan nada Mars Nu yang dinyanyikan.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Nahdlatul Ulama Yaqut Cholil Qoumas mengklaim pembakaran bedera Tauhid merupakan upaya untuk menjaga kalimat tauhid. Seyogyanya jika berupaya untuk menjaga kalimat tauhid. Jika hal itu upaya dari menjaga kalimat tauhid, bukankah sebaiknya diambil dan disimpan, bukan melakukan pembakaran. Sungguh sangat disayangkan. Berbagai pihak menduga bahwa pembakaran Bendera Tauhid ini dilandasi oleh ketidaksenangan kepada Ormas tertentu.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut menegaskan bahwa kalimat tauhid semestinya dimuliakan, dan tindakan membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid dengan kebencian hukumnya haram.

Ketua MUI Kabupaten Garut KH. Sirojul Munir juga menyatakan bahwa kalimat tauhid tak boleh dihinakan. "Harus dimuliakan, tidak boleh dihinakan semacam itu," ungkapnya, (Kiblat.Net, 22/10/2018).

22 Oktober bertepatan dengan hari santri. Berbagai daerah turut merayakan dan mewarnainya dengan berbagai acara.

Seyogyanya acara yang sangat sakral bagi setiap Pondok Pesantren ini bisa menunjukkan bagaimana seharusnya menghormati Bendera Tauhid yang bertuliskan kalimat Tauhid namun sangat disayangkan, dibalik perayaan hari santri tersebut ada sekelompok oknum yang mewarnainya dengan tidak semestinya. Dibelakang acara ada sekelompok oknum yang membakar bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid tersebut. Bukankah mereka juga ummat Islam yang harus senantiasa menjaga kalimat Tauhid tersebut? Dan bukankah setiap umat menginginkan hidup dengan kalimat Tauhid dan mati dengan kalimat Tauhid?

Bendera Tauhid Bukan Bendera Ormas Tertentu (HTI)

Ustadz Ismail Yusanto, pria yang dikenal sebagai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menyatakan bendera yang dibakar di Garut bukanlah bendera HTI. Beliau menyatakan bahwa HTI tidak memiliki Bendera (detik.com, 23/10/2018)

"Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera," kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10/2018).

"Ada banyak pernyataan yang mengatakan bahwa bendera yang dibakar kemarin adalah bendera HTI. Saya perlu tegaskan bahwa HTI tidak memiliki bendera," kata Ismail lewat keterangan tertulis di atas video yang diunggah di akun Twitter-nya itu.

"Yang dibakar dalam video yang beredar luas kemarin adalah Ar Roya (Panji Rasulullah), bendera berwarna hitam yang bertuliskan kalimat tauhid," kata Ustadz Ismail.

Dalam video, Ustadz Ismail menjelaskan yang dibakar di Garut itu adalah bendera Ar Roya. Pemahaman soal Ar Roya diperoleh lewat Hadits Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, yakni Rasulullah punya bendera Ar Roya berwarna hitam dan Al Liwa berwarna putih, yang di atasnya tertulis kalimat tauhid.

Bendera Tauhid Identitas Kaum Muslimin

Sungguh sangat miris dan disayangkan melihat kejadian ini. Bagaimana tidak? Pembakaran Bendera Tauhid adalah bentuk peremehan Tauhid. Sementara Bendera Tauhid adala identitas kaum muslimin. Didalam Islam bendera ini, baik ar-Rayah yang berwarna hitam maupun al-Liwa' yang berwarna putih, sama-sama bertuliskan "Laailaahaillallah Muhammad Rasulullah" di atasnya.  Bendera ini bukan sekadar bendera, tetapi merupakan identitas Islam, Bendera Rasulullah, bendera seluruh kaum Muslimin. Bukan bendera ormas tertentu. Bahkan untuk mempertahankan bendera ini, Ja'far bin Abi Thalib sanggup mengorbankan apapun yang dia miliki hingga gugur sebagai syahid saat Perang Mu'tah.

Sebagai identitas Islam dan kaum Muslimin, bendera ini tidak hanya dikibarkan dan dijaga, tetapi juga dihormati. Bendera ini tidak boleh dinjak, dijadikan bantal, dibawa atau diletakkan di tempat-tempat yang identik dengan penghinaan; seperti dibawa ke kamar mandi, dijadikan serbet, keset dan sejenisnya. Terlebih lagi dibakar.

Dalam ranah Fiqh,  jika membakar tulisan yang terkandung di dalamnya ayat-ayat Alqur'an dan dimaksudkan dalam rangka menjaga agar kalimah tersebut tidak terinjak-injak atau terhinakan dalam keadaan darurat dan sulit menjagana maka hukumnya makruh.

Seyogyanya jika bentuk penghormatan kepada kalimatTauhid,  akan terlihat dari raut wajah yang penuh ta'dzim. Tidak akan dilakukan dengan sesumbar, angkuh penuh kesombongan.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi siapa saja yang mengucapkan "la ilaha illallah", dan dia berharap wajah Allah dari ucapannya tersebut." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Semoga kita bisa lebih menjaga Bendera Tauhid dengan penghormatan yang tinggi dan tidak sedikitpun meremehkannya. Membela kalimat tauhid, dan semoga kelak akan bersama orang-orang yang selalu menjaga tauhidnya sampai berjumpa dengan Allah SWT. Wallahu a'lam bishowab.


loading...

BERITA LAINNYA
Banjir Yang Tak Kunjung Berakhir
Selasa, 06 November 2018 | 14:14
Menyoal Kecelakaan Pesawat Terbang
Selasa, 30 Oktober 2018 | 14:20
Dukaku bukan Dukamu
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Jeratan Hukum Pengguna Media Sosial
Kamis, 04 Oktober 2018 | 10:19
Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas
Senin, 17 September 2018 | 19:30
Lombok Menjerit, Negara Pailit
Jumat, 07 September 2018 | 12:07
Dilema Pengrajin Batu Bata di Pulau Rupat Bengkalis
Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:41
Menggugat Pragmatisme dalam Kaderisasi Parpol
Jumat, 06 Juli 2018 | 21:39
Menelaah kesuksesan pilkada inhil 2018
Minggu, 01 Juli 2018 | 00:13
BERIKAN KOMENTAR
Top