• Home
  • Bisnis
  • WRISE Group Luncurkan WRISE AI Labs dan Tunjuk Dr. Jeffrey Wu sebagai Group Chief Scientist untuk Mempercepat Transformasi Manajemen Kekayaan Berbasis AI

WRISE Group Luncurkan WRISE AI Labs dan Tunjuk Dr. Jeffrey Wu sebagai Group Chief Scientist untuk Mempercepat Transformasi Manajemen Kekayaan Berbasis AI

Jumat, 31 Juli 2026 | 17:32

Pertemuan Satuan Tugas (Task Force) DISG ke-18 Digelar di Bangkok, Thailand

BANGKOK, THAILAND - Media OutReach Newswire - 30 Juli 2026 - Dialogue for Innovative and Sustainable Growth (DISG), sebuah platform kerja sama ekonomi bilateral sektor publik dan swasta antara ASEAN dan Jepang yang dipimpin oleh Masuo Kuremura, menyelenggarakan Pertemuan Satuan Tugas (Task Force) DISG ke-18 pada 8 Juli 2026 di Carlton Hotel Bangkok Sukhumvit, Bangkok, Thailand.

Di tengah perubahan yang berlangsung cepat dalam lanskap ekonomi internasional, para peserta kembali menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama antara Jepang dan ASEAN. Sebagai wujud komitmen bersama tersebut, pertemuan ini menghasilkan pengesahan resmi 'Deklarasi Bersama Satuan Tugas DISG' (selanjutnya disebut Deklarasi Bersama), yang memuat berbagai langkah kolaboratif di lima bidang prioritas melalui kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta.

Sambutan Pembuka dan Presentasi Utama

Pada pembukaan pertemuan, Ketua DISG Masuo Kuremura menyampaikan sambutan pembuka, yang kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai empat pilar strategis kerja sama ASEAN'Jepang, yaitu:

  1. Ketahanan Rantai Pasok (Supply Chain Resilience)
  1. Ko-kreasi Inovasi (Co-creation of Innovation)
  2. Investasi AI dan Digital
  3. Transisi Energi

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global terkait ketahanan rantai pasok, Kuremura membahas kemungkinan mendukung kemandirian industri melalui konsultasi dengan sejumlah negara utama ASEAN. Untuk mendorong kolaborasi inovasi, ia memaparkan keberhasilan penyelenggaraan Fast Track Pitch, yang berhasil menarik 410 pendaftar dan 776 peserta di empat negara tetangga, serta penyelenggaraan Young Leaders Summit.

Di bidang investasi AI dan digital, ia menyoroti pentingnya kerja sama dalam pengembangan pusat data (data center) dan industri semikonduktor. Sementara pada sektor transisi energi, ia memperkenalkan inisiatif AZEC+ (Asia Zero Emission Community Plus), yang memperluas kerangka dekarbonisasi yang sudah ada dengan memasukkan perspektif keamanan yang lebih luas. Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya menerjemahkan berbagai kerangka kerja tersebut menjadi proyek dan pembahasan yang lebih konkret.

Setelah sesi pembukaan, rangkaian pidato utama diawali oleh Prof. Dr. Pavida Pananond, Profesor Bisnis Internasional di Thammasat Business School, yang membawakan materi berjudul 'Tantangan dan Harapan terhadap Kerja Sama ASEAN'Jepang'. Ia menjelaskan bahwa rantai pasok global tengah mengalami perubahan struktural dari model yang berorientasi pada efisiensi menjadi model yang lebih mengutamakan keamanan dan ketahanan. Menurutnya, makna ketahanan dapat berbeda-beda bergantung pada perspektif masing-masing negara maupun strategi perusahaan. Ia juga menyampaikan tiga implikasi penting bagi dunia usaha, yaitu:

  1. Memahami keunggulan spesifik yang dimiliki setiap negara dan kawasan.
  1. Mengidentifikasi titik-titik penting dalam rantai nilai (value chain).
  2. Membangun ketahanan lintas kawasan, industri, dan perusahaan yang melampaui sekadar efisiensi biaya.

Selanjutnya, Yuta Okuyama, Chief of Staff President's Office di Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), menyampaikan presentasi bertajuk 'From Shock to Strategy: Towards a New Generation of ASEAN-Japan Cooperation and Regional Economic Resilience'. Ia menjelaskan berbagai upaya ERIA dalam memperkuat platform regional melalui analisis rantai pasok serta dialog publik-swasta Track 1.5. Okuyama juga memperkenalkan inisiatif penyusunan strategi cadangan minyak regional ASEAN, sekaligus menegaskan komitmen ERIA untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keamanan kawasan melalui pendekatan kolaboratif.

Presentasi Kamar Dagang dan Industri Filipina serta Thailand

Sesi kedua dibuka dengan presentasi dari Perry Ferrer, Presiden Philippine Chamber of Commerce and Industry (PCCI). Ia menjelaskan berbagai tantangan struktural yang dihadapi Filipina, antara lain keterbatasan kualitas infrastruktur, kesenjangan pendapatan, serta dampak ekonomi akibat seringnya terjadi topan. Namun, ia juga menyoroti sejumlah keunggulan strategis negara tersebut, seperti industri semikonduktor dan elektronik yang kuat, komposisi penduduk yang didominasi usia muda, inisiatif Koridor Ekonomi Luzon yang melibatkan Jepang, Amerika Serikat, dan Filipina, serta sumber daya silika berkadar tinggi. Ferrer menegaskan bahwa hubungan bilateral kedua negara bersifat saling melengkapi, di mana Jepang menyediakan modal dan teknologi, sedangkan Filipina menawarkan tenaga kerja yang dinamis serta sumber daya mineral penting.

Selanjutnya, Voratat Tantimongkolsuk, Wakil Sekretaris Jenderal Board of Trade of Thailand yang mewakili Thai Chamber of Commerce (TCC), menyampaikan bahwa rantai pasok global saat ini berada pada titik perubahan akibat meningkatnya risiko geopolitik dan gangguan logistik maritim. Dengan memanfaatkan posisi strategis kawasan Mekong sebagai penghubung Asia Timur dan ASEAN, ia mengusulkan peningkatan konektivitas darat-laut serta efisiensi transportasi truk melalui kerangka Greater Mekong Subregion (GMS). Ia menilai logistik digital dan logistik hijau sebagai prioritas utama kerja sama ASEAN'Jepang, serta menegaskan bahwa kepercayaan antarpemangku kepentingan merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan rantai pasok yang tangguh dan berkelanjutan.

Diskusi dan Pertukaran Pandangan

Diskusi panel berlangsung dinamis dengan fokus pada ketahanan rantai pasok dan pengembangan sumber daya manusia.

  • - Perry Ferrer dari PCCI mengusulkan penerapan sistem visualisasi rantai pasok serta pentingnya membangun kerangka saling pengakuan terhadap tenaga kerja terampil.
  • - Hans Lukiman dari KADIN Indonesia menekankan perlunya menciptakan jalur agar para pekerja yang kembali ke tanah air dapat memanfaatkan keterampilan yang mereka peroleh untuk mendukung industri domestik.
  • - Nguyen Vu Kien dari Vietnam Chamber of Commerce and Industry (VCCI) mendorong pengembangan sistem keterlacakan (traceability) rantai pasok.
  • - Sementara itu, Musa Adnin dari ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) Brunei mengangkat contoh nyata bahwa tidak ada perusahaan Jepang yang berpartisipasi dalam tender pembangunan pusat data di negaranya baru-baru ini. Menurutnya, 'Jepang memiliki teknologi yang unggul, tetapi masih tertinggal dibandingkan perusahaan Barat dan China dalam hal eksekusi bisnis serta kecepatan implementasi.'

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Yumiko Hata, Direktur Divisi Asia dan Pasifik di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI), menyampaikan apresiasinya. Ia mengatakan, 'Kami akan terus mendorong berbagai langkah untuk memperkuat keamanan energi dan ketahanan rantai pasok melalui kerja sama yang erat dengan kamar dagang di masing-masing negara.'

Sebagai penutup diskusi, Ketua DISG Masuo Kuremura mempresentasikan Deklarasi Bersama Satuan Tugas DISG, yang kemudian secara resmi diadopsi oleh seluruh peserta.

Latar Belakang Deklarasi Bersama

Meskipun ASEAN terus mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat, kawasan ini juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok energi yang berasal dari Selat Hormuz, hingga perubahan struktural industri akibat perkembangan AI dan digitalisasi. Dalam konteks tersebut, Jepang dan ASEAN menyusun Deklarasi Bersama sebagai landasan untuk membangun fondasi ekonomi yang berkelanjutan dan tangguh secara bersama.

Pokok-Pokok Deklarasi Bersama

Deklarasi Bersama bertujuan memperkuat kemitraan antara sektor publik dan swasta serta meningkatkan kerja sama regional melalui lima bidang prioritas berikut.

1. Membangun Rantai Pasok yang Tangguh

Jepang dan ASEAN mengakui bahwa stabilitas dan keberagaman rantai pasok, termasuk untuk material dan teknologi strategis, merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi kawasan. Kedua pihak akan memperkuat jaringan produksi, logistik, dan pengadaan melalui kerja sama industri yang lebih erat guna meningkatkan ketahanan sekaligus mengurangi risiko konsentrasi.

2. Kerja Sama di Bidang Keamanan Ekonomi

Jepang dan ASEAN akan memperkuat kemitraan yang saling menguntungkan dan saling melengkapi di tengah tingginya volatilitas global. Kerja sama akan difokuskan pada pertukaran informasi, pengembangan sumber daya manusia, serta promosi investasi di sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, otomotif, AI, infrastruktur digital, dan energi.

3. Kerja Sama dalam Transisi Energi dan Energi Generasi Berikutnya

Kedua pihak akan mengejar dua tujuan utama, yakni memperkuat keamanan energi sekaligus mencapai netralitas karbon melalui pembangunan infrastruktur pasokan dan kerja sama teknologi di bidang energi generasi baru, seperti biofuel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan Small Modular Reactors (SMR). Ketahanan energi kawasan juga akan diperkuat melalui pemanfaatan kerangka ASEAN Power Grid (APG), Asia Zero Emission Community (AZEC), serta Partnership on Wide Energy and Resources Resilience Asia (POWERR Asia).

4. Mendorong Inovasi dan Peningkatan Daya Saing Industri

Transformasi digital (DX) dan transformasi hijau (GX) diposisikan sebagai kunci pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri. Jepang dan ASEAN akan mendorong kolaborasi antarpelaku usaha serta inovasi terbuka di bidang AI, pemanfaatan data, dan mobilitas generasi berikutnya. Tujuannya adalah menciptakan inovasi yang lahir dari kawasan ASEAN melalui kerja sama antara perusahaan besar, usaha kecil dan menengah (UKM), perusahaan rintisan (startup), serta kalangan akademisi.

5. Pengembangan Talenta Generasi Mendatang dan Kontribusi terhadap Masyarakat

Deklarasi ini menegaskan bahwa pengembangan talenta dan pertukaran sumber daya manusia secara aktif merupakan syarat penting bagi pembangunan yang berkelanjutan. Jepang dan ASEAN akan memperluas pertukaran pemimpin muda, tenaga ahli, serta wirausahawan muda untuk mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih beragam, inklusif, dan tangguh.

https://ameicc.org/disg/
https://www.facebook.com/AMEICC


Tentang DISG

Dialogue for Innovative and Sustainable Growth (DISG) didirikan pada tahun 2020 sebagai tindak lanjut dari kesepakatan yang dicapai dalam Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN'Jepang. DISG merupakan platform dialog antara sektor publik dan swasta yang bertujuan memperdalam kerja sama ekonomi bilateral antara ASEAN dan Jepang.

Dengan berfokus pada berbagai bidang yang berdampak besar, seperti transformasi digital, ekonomi hijau, dan peningkatan daya saing industri, DISG mengubah potensi kerja sama menjadi berbagai inisiatif nyata melalui diskusi para ahli dari kalangan swasta, akademisi, dan pemerintah.

DISG juga bekerja sama dengan 13 organisasi ekonomi utama, termasuk Japan External Trade Organization (JETRO) dan ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC), untuk membangun siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) antara sektor publik dan swasta. Melalui mekanisme ini, berbagai tantangan di lapangan dan perkembangan proyek dapat dilaporkan secara langsung kepada Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN'Jepang (AEM-METI) sebagai bahan perumusan kebijakan dan penguatan kerja sama ekonomi kedua kawasan.



BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top