• Home
  • Dumai
  • Area Labuh Jangkar Diduga Tak Sesuai, GERAM 17 Suku Dumai Desak KSOP Bertindak Tegas

Area Labuh Jangkar Diduga Tak Sesuai, GERAM 17 Suku Dumai Desak KSOP Bertindak Tegas

Sabtu, 28 Februari 2026 | 10:39
Nanang, Ketua GERAM 17 Suku
DUMAI, RIAUGREEN.COM - Ruang tangkapan ikan yang selama ini menjadi sumber kehidupan nelayan tradisional terhalang oleh deretan kapal tongkang dan kapal lain yang parkir berserakan sehingga menganggu mata pencarian para nelayan tradisional.

Hal ini menyebabkan para nelayan tradisional mengeluh karena hasil tangkapan berkurang bahkan tak jarang para nelayan tradisional pulang dengan tanggan kosong.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari komunitas Gerakan Putra Putri Anak Melayu 17 Suku Kota Dumai. Dan meminta aparat atau otoritas kepelabuhan segera mengambil langkah kongkrit agar para nelayan tradisional tidak terganggu saat mencari ikan dilaut.

"Kita prihatin dengan nasib nelayan dalam mencari ikan, karena ruang tangkapan ikan selama ini, telah menjadi ruang parkir kapal," ungkap Nanang ketua GERAM 17 suku kepada media, Jumat (27/02) .

Menurut Nanang, untuk area labuh jangkar bagi kapal baik tongkang maupun kapal besar lainnya, telah ditentukan di selat Rupat, kenapa masih ada kapal yang labuh jangkar di pesisir pantai, yang notabenenya merupakan ruang tangkapan ikan bagi para nelayan tradisonal.

"Untuk labuh jangkar kapal ada di selat Rupat, kenapa ada juga yang parkir di pesisir pantai, sehingga menganggu aktifitas para nelayan tradisional," terang Nanang.

Untuk itu, pihaknya mendesak kesyahbandaran Kota Dumai untuk menindak tegas kapal kapal yang parkir di ruang tangkapan ikan nelayan. Karena menghambat nelayan tradisional mencari rezeki

"Jangan lagi bikin susah nelayan, Saya minta KSOP tegas tegakan aturan. bagi yang melanggar kenakan sangsi tegas " tutur Nanang.

Sebelumnya, Mansur, salah seorang masyarakat nelayan yang mengaku keberadaan kapal kapal tongkang maupun kapal besar lain, telah menyebabkan para nelayan terganggu aktifitas mencari ikan.

"Akibat, banyaknya Kapal tongkang tongkang maupun kapal besar lain parkir diarea tangkapan ikan, kami nelayan sulit untuk bergerak leluasa menangkap ikan," ujar Mansur.

Ketua Mastali Madu Kota Dumai ini, juga menyebutkan, sebagai masyarakat nelayan pihaknya hanya mengandalkan tenaga dan peralatan menangkap tradisonal, dan jangkauan mencari ikan di sekitar laut dangkal tidak masuk ke laut tengah.

"Jika ruang untuk menangkap ikan sudah dipenuhi kapal tongkang yang parkir, kemana lagi kami mencari ikan. Kami hanya nelayan tradisonal," keluh Mansur. (54f)

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Buy twitter verification Buy Facebook verification Buy Tiktok verification SMM Panel
Top