DUMAI, RIAUGREEN.COM - Keluhan masyarakat sekitar pelabuhan akibat aktifitas bongkar muat ampas dan bungkil sawit yang dilakukan PT SPMT (Subholding Pelindo Multi terminal) dituding telah membuat nafas sebagian masyarakat sesak.
Selain itu, sejumlah rumah di pemukiman warga sekitar pelabuhan juga berimbas debu ampas dan bungkil sawit yang berterbangan hingga masuk kedalam halaman maupun teras warga bahkan debu dan ampas sawit ada yang masuk hingga ke dalam rumah warga.
Kendati demikian, PT SPMT (Subholding Pelindo Multi Terminal) selaku operator bongkar muat di pelabuhan Dumai, terkesan tidak peduli dengan kondisi masyarakat terdampak.
Walau beberapa warga terdampak secara langsung telah menyampaikan keluhan, namun PT SPMT diduga tidak bergeming bahkan abai terhadap warga terdampak.
Kondisi ini, membuat Abdul Rahim SE, Ketua Harian Forum Pembaruan Komunikasi Lembaga Kerukunan Masyarakat Dumai (FPK LKKMD) 17 suku kota Dumai, mendesak operator bongkar muat ampas dan bungkil sawit PT Subholding Pelindo Multi Terminal lebih peka terhadap dampak lingkungan yang timbul akibat bongkar muat.
Untuk mencegah timbulnya, dampak terhadap lingkungan terutama terhadap manusia sekitar pelabuhan. Menurut Abdul Rahim, PT Subholding Pelindo Multi Terminal selaku operator bongkar muat memperhatikan kelayakan peralatan yang digunakan.
Karena debu ampas dan bungkil sawit yang berterbangan hingga menimbulkan seak nafas bagi sebagian masyarakat telah membuat resah masyarakat sekitar pelabuhan.
"Ini problem kemasyarakatan yang timbul akibat dampak bongkar muat. Selain, kami mendesak Operator bongkar muat memperhatikan kelayakan peralatan yang di gunakan," ungkap Abdul Rahim SE yang mengaku orang tua kandungnya tinggal di gg idola juga kena dampak debu ampas dan bungkil sawit.
Sebelumnya, sejumlah tokoh masyarakat maupun pemuda termasuk lurah Dumai Kota telah menyampaikan keluhan masyarakat, namun perusahaan slow respon.
Kaminuddin, tokoh masyarakat Kota Dumai yang berdomisili di jalan teratai kecamatan Dumai Kota mengungkapkan rasa kecewanya atas ketidak pedulian pihak perusahaan atas dampak bongkar muat di pelabuhan Dumai.
"Jika pelindo tidak bisa mengatasi ampas debu sawit yang membuat sesak nafas, dirinya punya cara sendiri mengatasinya," ungkap Kaminuddin di laman komentarnya .
Rizal (55) salah seorang tokoh pemuda jalan Kamboja Dumai, langsung mendatangi (23/02) mendatangi kantor Pelabuhan Indonesia I Cabang Dumai, didampingi RT 014 Denew Indra SE mendesak agar proses bongkar muat dihentikan.
"Banyak rumah yang terdampak akibat proses bongkar muat. Teras dan halaman saya setiap pagi di penuhi debu sawit," terang Rizal kesal.
Ketua Panitia Ramadhan Masjid Istiqlal Denew Indra SE, menjelaskan proses bongkar muat ampas maupun bungkil sawit menimbulkan dampak bagi masyarakat.
"Sudah dua hari, bau menyengat dan debu berterbangan sampai ke halaman Masjid Istiqlal," ungkap Denew Indra
Sementara, Manager PT Sub Holding Pelindo Multi Terminal, Tedy Fadilah saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya belum mengangkat telepon meski nada deringnya aktif. (54f)