• Home
  • Ruang Opini
  • Menjaga Air Riau Berarti Menjaga Gambut dan Masa Depan Lingkungan

Menjaga Air Riau Berarti Menjaga Gambut dan Masa Depan Lingkungan

Oleh: Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.
Senin, 17 Agustus 2026 | 18:12
Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram Salin Link
Ir. Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.

Riau memiliki kekayaan alam yang sangat berkaitan dengan air.

Sungai, rawa, gambut, hutan dan kawasan pesisir membentuk satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung. Namun hubungan tersebut sering kali baru terasa ketika kondisi berubah.

Saat hujan berkurang dan musim kering berlangsung lebih panjang, tanah mulai mengering, sumber air mengalami tekanan dan risiko kebakaran hutan serta lahan meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, persoalan air tidak lagi hanya menjadi persoalan ketersediaan air bagi manusia.

Ia menjadi persoalan keberlanjutan ekosistem.

Bagi Riau, menjaga air berarti menjaga gambut, hutan dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan tersebut.

Gambut Tidak Boleh Kehilangan Air

Gambut merupakan salah satu ekosistem penting Riau.

Salah satu karakter utamanya adalah kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar.

Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya dapat dipertahankan.

Namun ketika muka air turun terlalu jauh dan gambut mengalami pengeringan, risikonya meningkat.

Gambut menjadi lebih mudah terbakar.

Karena itu, persoalan karhutla sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan tata kelola air.

Selama ini pembicaraan tentang kebakaran sering berfokus pada api.

Padahal pencegahan yang lebih mendasar adalah menjaga kondisi yang membuat api sulit berkembang.

Gambut yang tetap basah adalah salah satu benteng penting dalam pencegahan karhutla.

Air dan Karhutla Tidak Bisa Dipisahkan

Ketika musim kering datang, kondisi hidrologis gambut harus menjadi perhatian.

Curah hujan menurun.

Evaporasi tetap berlangsung.

Air dari lahan dapat terus keluar melalui drainase.

Jika tidak diimbangi dengan masuknya air, kondisi gambut semakin kering.

Dalam situasi seperti itu, risiko kebakaran meningkat.

Karena itu, pemantauan tinggi muka air dan kondisi kelembapan gambut seharusnya menjadi bagian penting dari sistem pencegahan.

Kita tidak boleh menunggu api muncul untuk menyatakan suatu kawasan berada dalam kondisi berbahaya.

Kanal Harus Dikelola, Bukan Sekadar Dibangun

Kanal memiliki fungsi dalam pengelolaan kawasan.

Namun pada lahan gambut, keberadaan kanal juga dapat memengaruhi keseimbangan air.

Jika air terlalu cepat mengalir keluar, muka air dapat turun dan gambut menjadi lebih kering.

Karena itu, pengelolaan kanal perlu mempertimbangkan kondisi musim.

Ketika curah hujan tinggi, pengelolaan air diperlukan untuk mengurangi kelebihan air.

Ketika kemarau, air perlu dipertahankan agar gambut tidak mengalami pengeringan berlebihan.

Artinya, tata air harus bersifat adaptif.

Tidak cukup hanya membangun saluran.

Yang lebih penting adalah bagaimana air di dalam sistem tersebut dikelola.

Air Hujan Adalah Bagian dari Solusi

Riau memiliki periode hujan yang dapat menghasilkan air dalam jumlah besar.

Namun air yang datang tidak selalu menjadi cadangan.

Jika air hujan langsung dialirkan keluar kawasan, kesempatan untuk menyimpannya menjadi hilang.

Karena itu, pendekatan pengelolaan air perlu diarahkan pada retensi dan penyimpanan.

Embung, kolam retensi, kawasan rawa yang dipertahankan, pemanenan air hujan dan ruang resapan dapat menjadi bagian dari strategi.

Prinsipnya sederhana.

Air yang datang pada musim hujan perlu sebagian disimpan untuk menghadapi musim kering.

Dengan pendekatan tersebut, kita tidak hanya memikirkan bagaimana mengurangi kelebihan air, tetapi juga bagaimana menjaga keberadaan air.

Kota dan Lingkungan Tidak Boleh Dipisahkan

Pertumbuhan Pekanbaru dan kawasan perkotaan Riau terus berlangsung.

Pembangunan membawa manfaat ekonomi dan sosial.

Namun perubahan tutupan lahan juga mengubah siklus hidrologi.

Permukaan yang tertutup bangunan dan jalan membuat air lebih cepat menjadi limpasan.

Kesempatan infiltrasi berkurang.

Pada musim hujan, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem drainase.

Pada musim kering, berkurangnya infiltrasi dapat mengurangi pengisian cadangan air.

Karena itu, kota harus memiliki ruang untuk air.

Ruang terbuka hijau, taman, kolam retensi dan kawasan resapan harus dipertahankan.

Lingkungan bukan hambatan pembangunan.

Lingkungan adalah bagian dari sistem yang membuat pembangunan dapat bertahan.

Perkebunan Juga Memiliki Tanggung Jawab Tata Air

Perkebunan merupakan bagian penting dari lanskap Riau.

Karena itu, pengelolaan perkebunan juga harus memperhatikan keseimbangan hidrologis.

Pada lahan mineral maupun gambut, kebutuhan air tanaman harus diperhitungkan bersama kondisi lingkungan.

Khusus kawasan gambut, pengelolaan drainase harus dilakukan dengan hati-hati.

Jika air terlalu cepat dikeluarkan, risiko pengeringan meningkat.

Jika terlalu banyak air tertahan, produktivitas juga dapat terganggu.

Tantangannya adalah menemukan keseimbangan.

Dengan kata lain, tata air harus dirancang bukan hanya untuk tanaman, tetapi juga untuk menjaga fungsi ekosistem.

Perubahan Iklim Membutuhkan Tata Kelola yang Adaptif

Pola iklim tidak selalu sama dari tahun ke tahun.

Fenomena seperti El Niño dapat memengaruhi kondisi kering di Indonesia, sementara dinamika Indian Ocean Dipole juga dapat berkontribusi terhadap perubahan pola curah hujan di wilayah Indonesia.

Namun fenomena iklim bukan satu-satunya faktor.

Kondisi lingkungan lokal menentukan seberapa besar dampak tersebut dirasakan.

Wilayah yang kehilangan tutupan vegetasi, kawasan resapan dan cadangan air tentu memiliki kerentanan berbeda dibandingkan wilayah yang fungsi ekologisnya masih terjaga.

Karena itu, adaptasi iklim harus berjalan bersama dengan perlindungan lingkungan.

Data Lingkungan Harus Digunakan untuk Mencegah

Saat ini pemantauan lingkungan semakin berkembang.

Data satelit dapat membantu melihat titik panas dan perubahan tutupan lahan.

Informasi curah hujan dapat digunakan untuk memantau kondisi kering.

Pengukuran tinggi muka air dapat membantu mengetahui kondisi gambut.

Namun data tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan.

Jika suatu kawasan menunjukkan kecenderungan semakin kering, pengawasan perlu diperkuat.

Jika risiko karhutla meningkat, pencegahan harus dilakukan.

Jika sumber air menurun, masyarakat perlu mendapatkan informasi lebih awal.

Teknologi seharusnya membantu kita bergerak sebelum bencana.

Masyarakat adalah Bagian dari Ekosistem

Pengelolaan lingkungan tidak akan berhasil jika masyarakat hanya ditempatkan sebagai penerima kebijakan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut dan hutan memiliki pengetahuan lokal mengenai perubahan lingkungan.

Mereka mengetahui kondisi kanal.

Mereka mengetahui sumber air.

Mereka dapat melihat asap lebih awal.

Karena itu, masyarakat perlu menjadi bagian dari sistem pengawasan dan pencegahan.

Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas.

Teknologi menyediakan data.

Masyarakat memberikan informasi lapangan.

Ketiganya perlu bekerja bersama.

Menjaga Air adalah Investasi Lingkungan

Sering kali perlindungan lingkungan dianggap sebagai biaya.

Padahal menjaga air dan gambut sebenarnya merupakan investasi.

Gambut yang tetap basah berarti risiko kebakaran dapat ditekan.

Kawasan resapan yang dipertahankan berarti cadangan air lebih terjaga.

Hutan yang dilindungi berarti siklus air tetap memiliki penyangga.

Air hujan yang disimpan berarti ketergantungan terhadap sumber air saat kemarau dapat dikurangi.

Semua itu memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

Karena kerusakan lingkungan pada akhirnya selalu memiliki biaya.

Biayanya dapat berupa kebakaran, asap, gangguan kesehatan, kerugian ekonomi dan hilangnya fungsi ekosistem.

Riau Perlu Melihat Air sebagai Satu Kesatuan

Sungai tidak berdiri sendiri.

Gambut tidak berdiri sendiri.

Hutan tidak berdiri sendiri.

Perkebunan dan kota juga tidak berdiri sendiri.

Semuanya terhubung melalui air.

Karena itu, tata kelola air seharusnya tidak dibatasi oleh satu sektor.

Pengelolaan gambut harus terhubung dengan pencegahan karhutla.

Tata ruang harus terhubung dengan sistem hidrologi.

Pengelolaan perkebunan harus memperhatikan kondisi air.

Kebijakan perkotaan harus mempertimbangkan infiltrasi dan limpasan.

Inilah pendekatan yang diperlukan ketika kondisi iklim semakin dinamis.

Jangan Menunggu Krisis untuk Menjaga Air

Kita tidak dapat mengendalikan hujan.

Kita tidak dapat menghentikan kemarau.

Kita juga tidak dapat mengubah fenomena iklim sesuai keinginan.

Tetapi kita dapat memilih bagaimana lingkungan dipersiapkan.

Kita dapat mempertahankan kawasan gambut tetap basah.

Kita dapat menyimpan air hujan.

Kita dapat melindungi kawasan resapan.

Kita dapat mengelola kanal dengan lebih adaptif.

Kita dapat membangun kota dengan memberikan ruang bagi air.

Dan kita dapat melibatkan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Riau tidak hanya membutuhkan kebijakan untuk menghadapi api. Riau membutuhkan kebijakan untuk menjaga air sebelum api muncul.

Sebab menjaga air berarti menjaga gambut.

Menjaga gambut berarti menjaga ekosistem.

Dan menjaga ekosistem berarti menjaga masa depan masyarakat Riau.

Tentang Penulis

Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Memiliki bidang keahlian pada hidrologi dan sumber daya air serta aktif dalam penelitian mengenai pengelolaan sumber daya air, konservasi lingkungan, dan risiko bencana hidrometeorologi.



📢 Publisir Berita & Kegiatan Instansi Anda di RiauGreen

Jangkau pembaca luas & terindeks Google News. Pilih paket rilis pers, advertorial, atau kemitraan media.

BERITA LAINNYA
Kesalehan Sosial di Tengah Bencana
Jumat, 05 Desember 2025 | 19:31
Menebang Hutan, Menggali Liang Kubur
Jumat, 11 Juli 2025 | 13:01
BERIKAN KOMENTAR
Top