OLAHRAGA tidak pernah benar-benar lepas dari politik. Tapi kali ini tarikannya
terlalu kasat mata. Di tengah proses penjaringan Ketua KONI Dumai, dua
nama dari DPRD Kota Dumai ikut mengambil formulir. Mereka adalah Wakil
Ketua DPRD Dumai Johannes MP Tetelepta dan Ketua Komisi I DPRD Dumai
Edison. Undang-undang mungkin membolehkan. Namun etika harus bicara.
Jangan sampai KONI Dumai berubah dari rumah pembinaan atlet, menjadi
ruang perpanjangan kekuasaan.
UNDANG-Undang
Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan memang sudah mencabut larangan
rangkap jabatan bagi pejabat publik di kepengurusan KONI. Aturan lama
UU 3/2005 yang memisahkan kursi dewan dan kursi KONI sudah tidak berlaku
lagi.
Tapi
"boleh" secara hukum bukan berarti "pantas" secara nalar publik. Dan di
Dumai, pertanyaannya sederhana, untuk apa anggota dewan butuh satu kursi
lagi?.
Dalih
yang salah satunya mungkin untuk "memperlancar anggaran" adalah
jebakan. Selama ini para pembela rangkap jabatan selalu pakai argumen
klasik. Dengan jabatan yang disandang, dana lebih mudah turun. Anggaran
pembinaan, dana hibah, CSR dan lainnya semua bisa jadi lancar.
Dalih
itu mungkin benar. Tapi itu juga masalahnya. Kalau KONI hanya bisa
hidup karena ada anggota dewan di dalamnya, berarti KONI gagal menjadi
lembaga mandiri. Olahraga kita berubah dari prestasi menjadi proyek
lobi.
Lebih
ironi lagi, yang meloloskan anggaran dan yang menerima anggaran jadi
orang yang sama, atau setidaknya satu lingkaran. Di mana fungsi
pengawasan DPRD? Di mana checks and balances?
KONI
butuh kemandirian, bukan ketergantungan. Kalau tiap tahun KONI harus
"numpang wibawa" wakil ketua dewan atau ketua komisi agar tidak mati,
maka selama itu pula pembinaan atlet tidak akan pernah profesional.
Tidak
kalah pentingnya, mari kita jujur. Penilaian publik terhadap kinerja
DPRD saat ini sedang tidak bagus-bagusnya. Fungsi penganggaran dan
fungsi pengawasan terhadap eksekutif, BUMD, dan penggunaan APBD masih
sering dianggap formalitas.
Di
tengah tumpukan PR itu, dua pimpinan dewan justru menambah beban baru.
Mengurus cabang olahraga, atlet, pelatih, event, dan konflik internal
cabor. Bisakah seseorang menjalankan fungsi pengawasan 24 jam di DPRD,
lalu di malam harinya rapat membahas agenda KONI ?. Fisikanya mungkin.
Kualitasnya yang patut dipertanyakan.
Rakyat
memilih mereka untuk mengawasi pemerintah, bukan untuk mengawasi wasit
cabor karate. Jika waktu, energi, dan fokus terbelah, yang rugi tetap
warga Dumai.
KONI bukan yayasan amal. KONI memegang akses anggaran daerah, hibah, sponsor, dan penentuan siapa dapat berangkat ke event.
Ketika
Wakil Ketua DPRD atau Ketua Komisi I DPRD Dumai duduk sebagai Ketua
KONI, maka secara struktural ia adalah pihak yang mengawasi dinas
terkait, sekaligus pihak yang akan meminta dana ke dinas yang sama untuk
KONI. Garisnya tipis sekali antara "memperjuangkan olahraga" dan
"mengamankan kepentingan".
Apalagi
menjelang tahun politik. Olahraga adalah panggung paling empuk untuk
pencitraan melalui pembagian bantuan, pelepasan atlet, seremonial
kejuaraan. Godaan menggunakan logo KONI untuk kepentingan pribadi dan
elektoral itu nyata. UU 11/2022 membuka pintu, tapi tidak menutup celah
penyalahgunaan.
Yang
dibutuhkan KONI hari ini bukan orang yang paling pandai orasi di
paripurna. Yang dibutuhkan adalah manajer yang paham pembinaan usia
dini, fundraising yang sehat, tata kelola transparan, dan keberanian
memotong birokrasi. Bukan orang yang setiap minggu harus izin sidang,
kunjungan kerja atau studi banding.
Jika
alasannya "Demi Dumai berprestasi", maka buktikan dengan mundur dari
jabatan dewan dulu. Pilih satu. Karena memimpin itu butuh sepenuh waktu,
bukan separuh hati.
Dumai
punya potensi olahraga besar. Atlet, pelatih, dan orang tua atlet sudah
lelah jadi objek. Mereka butuh sistem, bukan patron. Dan keputusan ada
di tangan Musorkotlub 27 Agustus 2026 mendatang.
Jika
kursi dewan dan kursi Ketua KONI akhirnya diduduki orang yang sama,
maka yang kita rayakan nanti bukan medali emas, tapi konsolidasi
kekuasaan.
Sabtu, 15 Agustus 2026
*Penulis adalah seorang praktisi media di Riau, dan Mantan Ketua PWI Dumai