• Home
  • Bisnis
  • Taiwan Melampaui Rata-Rata Asia dalam Adopsi AI di Tempat Kerja: 96% Profesional Menggunakan AI dalam Pekerjaan, Kepercayaan Diri terhadap Keterampilan Tertinggi di antara 10 Pasar

Taiwan Melampaui Rata-Rata Asia dalam Adopsi AI di Tempat Kerja: 96% Profesional Menggunakan AI dalam Pekerjaan, Kepercayaan Diri terhadap Keterampilan Tertinggi di antara 10 Pasar

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:45
Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram Salin Link

Hampir 8 dari 10 Profesional Melihat AI sebagai Peluang Karier, Bukan Ancaman

  • - 96% profesional di Taiwan telah menggunakan AI dalam pekerjaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia sebesar 93%; sementara 79% meyakini AI akan memberikan dampak positif terhadap peluang karier mereka di masa depan, dibandingkan 75% di seluruh Asia.
  • - 73% profesional Taiwan yakin dengan kemampuan mereka untuk menjaga keterampilan tetap mutakhir seiring berkembangnya peran pekerjaan, menjadi tingkat tertinggi di antara 10 pasar Asia yang disurvei.
  • - Analitik prediktif dan dukungan pengambilan keputusan (62%) merupakan penggunaan AI yang paling umum di kalangan profesional Taiwan, yang menunjukkan bahwa adopsi AI telah bergerak melampaui pembuatan konten menuju analisis dan pengambilan keputusan.
  • - 76% perusahaan di Taiwan mengidentifikasi kemampuan berpikir kritis dan pemeriksaan fakta (fact-checking) sebagai kapabilitas utama di tempat kerja yang didukung AI, dibandingkan 64% di seluruh Asia.
  • - Kekhawatiran utama profesional Taiwan terkait AI adalah penyalahgunaan data dan kerahasiaan (54%) serta akuntabilitas atas keputusan yang didorong oleh AI (51%) - keduanya merupakan tingkat tertinggi yang tercatat di antara 10 pasar yang disurvei.
  • - 53% perusahaan di Taiwan memperkirakan setidaknya seperempat tenaga kerja mereka akan membutuhkan reskilling atau upskilling dalam lima tahun ke depan, yang menyoroti besarnya skala transformasi tenaga kerja yang akan terjadi.

TAIPEI, TAIWAN - Media OutReach Newswire - 31 Agustus 2026 - AI dengan cepat telah menjadi bagian dari keseharian dunia kerja di Asia. Berdasarkan The Jobs of Tomorrow: How AI is Reshaping Work Across Asia, riset terbaru dari Robert Walters, perusahaan solusi talenta yang paling tepercaya di dunia, sebanyak 93% profesional di 10 pasar Asia secara aktif menggunakan AI dalam pekerjaan, sementara 58% perusahaan telah secara resmi menerapkan AI di tempat kerja.

Taiwan berada di atas rata-rata Asia bukan hanya dalam hal adopsi AI, tetapi juga dalam optimisme karier dan kepercayaan diri dalam beradaptasi dengan perubahan kebutuhan keterampilan. Sebanyak 96% profesional di Taiwan telah menggunakan AI dalam pekerjaan, sementara 79% meyakini AI akan memberikan dampak positif terhadap peluang karier mereka di masa depan. Yang paling menonjol, 73% merasa yakin dapat menjaga keterampilan mereka tetap relevan seiring perubahan peran pekerjaan - tingkat tertinggi di antara seluruh 10 pasar yang disurvei.

Seiring AI semakin terintegrasi ke dalam alur kerja, dunia kerja di Taiwan mulai bergerak melampaui pertanyaan apakah AI perlu digunakan menuju bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara efektif dan bertanggung jawab - mulai dari penerapan AI untuk analisis dan pengambilan keputusan, hingga memvalidasi hasil yang dihasilkan AI serta menetapkan akuntabilitas yang lebih jelas. Robert Walters Taiwan mencatat bahwa dampak paling langsung bukanlah penghapusan pekerjaan secara besar-besaran, melainkan rekonfigurasi pekerjaan: pelaksanaan tugas-tugas rutin semakin banyak didukung oleh teknologi, sementara kontribusi manusia bergeser ke arah penilaian, pengawasan, dan tanggung jawab atas hasil yang dicapai.

Profesional Taiwan Paling Percaya Diri di Asia dalam Memperbarui Keterampilan

Meskipun penggunaan AI secara konsisten berada pada tingkat tinggi di seluruh Asia, tingkat kepercayaan diri para profesional dalam beradaptasi dan memperbarui keterampilan seiring perubahan dunia kerja menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.

Bagi para profesional di Taiwan, pengembangan keterampilan secara berkelanjutan menjadi semakin penting seiring AI mengubah persyaratan pekerjaan. Sebanyak 53% perusahaan di Taiwan memperkirakan setidaknya seperempat tenaga kerja mereka akan membutuhkan reskilling atau upskilling dalam lima tahun ke depan, sementara 18% memperkirakan kebutuhan tersebut akan berlaku bagi lebih dari separuh karyawan.

Pada saat yang sama, 73% profesional Taiwan yakin dengan kemampuan mereka untuk terus belajar dan menjaga keterampilan tetap mutakhir, dibandingkan dengan 51-59% di pasar Asia lainnya yang disurvei. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun skala transformasi keterampilan akan cukup signifikan, para profesional di Taiwan relatif percaya diri terhadap kemampuan mereka untuk beradaptasi.

John Winter, Country Manager Robert Walters Taiwan, mengatakan, "Seiring AI terus mengubah cara kita bekerja, kemampuan untuk menggunakan AI dengan baik dengan cepat menjadi kemampuan dasar. Hal yang akan membedakan para profesional di masa depan adalah kemampuan mereka untuk terus mengembangkan keterampilan dan mengubah teknologi menjadi hasil bisnis yang bermakna."

Melampaui Pembuatan Konten: 62% Profesional Taiwan Menggunakan AI untuk Analitik Prediktif dan Dukungan Pengambilan Keputusan

Di seluruh Asia, penerapan AI yang paling umum di tempat kerja adalah pembuatan konten (47%), analisis dan wawasan data (40%), serta penelitian (38%). Hal ini mencerminkan semakin besarnya peran AI sebagai lapisan awal untuk penyusunan draf, pengumpulan informasi, pemrosesan data, dan analisis dasar.

Taiwan tampaknya lebih berfokus pada aktivitas analitis dan dukungan pengambilan keputusan. Analitik prediktif dan dukungan pengambilan keputusan (62%) menjadi penerapan AI yang paling umum di kalangan profesional Taiwan, disusul pembuatan konten (58%) serta analisis dan wawasan data (40%).

Temuan tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI di tempat kerja Taiwan bukan hanya berada di atas rata-rata Asia dalam hal skala, tetapi juga telah bergerak melampaui sekadar dukungan produktivitas menuju analisis, pengembangan wawasan, dan pengambilan keputusan.

Mengomentari pergeseran tersebut, John Winter mengatakan, "Ketika AI bergerak dari pembuatan konten menuju analisis dan dukungan pengambilan keputusan, nilai yang diberikan para profesional juga akan berubah. Pembeda yang sebenarnya bukanlah seberapa cepat seseorang mendapatkan jawaban dari AI, melainkan apakah mereka mampu memvalidasi informasi, menerapkan konteks bisnis, serta mengubah wawasan tersebut menjadi keputusan dan hasil yang lebih baik."

Profesional Taiwan Lebih Sedikit Mengkhawatirkan Kehilangan Pekerjaan - dan Lebih Berfokus pada Data, Kepercayaan, serta Akuntabilitas

Dampak AI terhadap lapangan pekerjaan masih menjadi topik utama yang banyak dibahas. Di Taiwan, perusahaan mengidentifikasi Administrasi & Dukungan Bisnis (45%), Akuntansi & Keuangan (28%), serta TI & Transformasi Digital (22%) sebagai fungsi pekerjaan yang paling terekspos terhadap perubahan seiring AI semakin terintegrasi di tempat kerja.

Meskipun AI mengubah berbagai peran pekerjaan, para profesional Taiwan secara umum tetap optimistis terhadap dampaknya bagi karier mereka. Sebanyak 79% meyakini AI akan memberikan dampak positif terhadap peluang karier mereka. Sementara satu dari lima profesional di negara tetangga, Hong Kong, meyakini AI akan berdampak negatif terhadap peluang karier mereka, kekhawatiran di Taiwan lebih berfokus pada apakah AI dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab, bukan semata-mata apakah AI akan menggantikan pekerjaan. Sebanyak 54% profesional Taiwan mengkhawatirkan penyalahgunaan data dan kerahasiaan, sementara 51% mengkhawatirkan akuntabilitas atas keputusan yang didorong oleh AI. Keduanya merupakan tingkat tertinggi yang tercatat di antara 10 pasar Asia yang disurvei.

Secara bersamaan, perusahaan semakin menekankan kemampuan manusia yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif berdampingan dengan AI. Sebanyak 76% perusahaan di Taiwan mengidentifikasi kemampuan berpikir kritis dan pemeriksaan fakta (fact-checking) sebagai salah satu keterampilan terpenting di tempat kerja yang didorong oleh AI, yang menunjukkan semakin pentingnya penilaian manusia. Ketika AI semakin cepat dalam menyediakan informasi dan jawaban, nilai profesional semakin bergeser dari sekadar menemukan informasi menjadi memvalidasi informasi, menerapkan konteks yang tepat, serta mengetahui kapan harus mempertanyakan respons yang dihasilkan AI.

AI Membentuk Kembali Dunia Kerja Saat Ini, Seiring Mulai Terbentuknya "Pekerjaan Masa Depan"

Seiring adopsi AI semakin mendalam, permintaan terhadap para profesional yang mampu menggabungkan pemahaman teknologi, kemampuan mengolah data, dan penilaian bisnis semakin meningkat. Robert Walters mengidentifikasi tiga area utama yang mengalami pertumbuhan:

  • - Peran yang berdekatan dengan AI dan peran hibrida, yang menjembatani kebutuhan tim teknis dan bisnis, seperti AI Product Manager dan AI Business Analyst.
  • - Peran di bidang data, wawasan, dan transformasi, yang mengubah wawasan yang dihasilkan AI menjadi hasil bisnis yang terukur, seperti Data Analyst dan profesional Business Intelligence.
  • - Peran yang berkaitan dengan tata kelola, etika, dan kepercayaan, yang mendukung penerapan AI secara bertanggung jawab, termasuk AI Governance atau Risk Manager, Responsible AI Lead, dan Data Privacy Officer.

Secara keseluruhan, peran-peran tersebut mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam kebutuhan talenta, yang bergerak melampaui keahlian murni dalam rekayasa AI menuju profesional yang mampu menggabungkan teknologi, data, penilaian bisnis, dan kemampuan tata kelola.

John Winter menambahkan, "AI telah terintegrasi secara luas dalam cara para profesional di Taiwan bekerja, dan mereka yakin dengan kemampuan untuk terus belajar seiring berkembangnya keterampilan yang dibutuhkan. Bagi organisasi, langkah berikutnya bukan sekadar memperkenalkan lebih banyak perangkat AI, tetapi juga memikirkan kembali desain pekerjaan, kapabilitas tenaga kerja, serta bagaimana AI digunakan secara bertanggung jawab. AI dapat meningkatkan efisiensi, tetapi penilaian yang baik dan kemampuan untuk mengubah teknologi menjadi nilai bisnis yang nyata pada dasarnya tetap merupakan kemampuan manusia."

Catatan untuk Editor

Tentang The Jobs of Tomorrow: How AI is Reshaping Work Across Asia

Robert Walters melakukan survei terhadap hampir 5.000 profesional dan perusahaan di 10 pasar Asia - Taiwan, Hong Kong, Singapura, Jepang, Tiongkok Daratan, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam - selama kuartal keempat 2025.

Riset ini mengkaji bagaimana AI mengubah isi pekerjaan, kebutuhan keterampilan, dan jalur karier di seluruh Asia, serta kapabilitas yang dibutuhkan organisasi dan para profesional agar tetap kompetitif seiring percepatan adopsi AI.

Untuk mengakses laporan lengkap, silakan kunjungi:


Tentang Robert Walters

Robert Walters merupakan perusahaan solusi talenta yang paling tepercaya di dunia. Di berbagai negara, kami menyediakan layanan rekrutmen, recruitment process outsourcing (RPO), serta layanan konsultasi bagi perusahaan dari berbagai bentuk dan skala, sekaligus membuka peluang bagi individu dengan beragam keterampilan, ambisi, dan latar belakang. Kami membantu organisasi menemukan keterampilan dan solusi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka, serta membantu para profesional berbakat mengoptimalkan potensi unik yang mereka miliki.

Kantor Taipei mengkhususkan diri dalam penempatan kandidat untuk berbagai bidang, yaitu akuntansi & keuangan, elektronik & industri, layanan kesehatan, sumber daya manusia, TI & transformasi digital, pemasaran, manufaktur, penjualan, semikonduktor, perangkat lunak, serta rantai pasok, logistik & pengadaan.



📢 Publisir Berita & Kegiatan Instansi Anda di RiauGreen

Jangkau pembaca luas & terindeks Google News. Pilih paket rilis pers, advertorial, atau kemitraan media.

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top