- - Pasar yang menguntungkan penyewa di kawasan APAC diperkirakan akan melambat seiring semakin ketatnya kondisi pasar.
- - Pasar yang mengalami keterbatasan pasokan?Australia, Jepang, dan Singapura?menghadapi persaingan yang semakin meningkat.
- - Sebanyak 54% pasar global dan 60% pasar APAC memperkirakan adanya pertumbuhan tarif sewa, yang memperkuat tekanan kenaikan harga.
HONG KONG SAR ? Media OutReach
Newswire ? 3 Juli 2026 ? Pasar logistik di kawasan Asia-Pasifik (APAC)
memasuki fase yang semakin kompleks, dengan perbedaan kondisi di setiap
negara yang kini semakin memengaruhi strategi penyewa maupun investor.
Berdasarkan laporan Waypoint 2026 dari Cushman & Wakefield, APAC tetap menjadi kawasan yang paling menguntungkan bagi penyewa (tenant-favorable) di dunia. Sebanyak 47% pasar di kawasan ini berpihak kepada penyewa, meningkat dari 33% pada 2025,
meskipun kondisi tersebut sangat bervariasi di setiap negara seiring
terus berkembangnya perbedaan antara dinamika pasokan dan permintaan.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pasar industri dan logistik di daratan Tiongkok saat ini berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi penyewa karena pasokan yang melimpah dan permintaan yang cenderung melemah. Tingginya jumlah gudang kosong di berbagai wilayah Tiongkok mengurangi daya tawar pemilik properti dalam menentukan harga, sehingga menekan tarif sewa dan meningkatkan posisi tawar penyewa. Meski demikian, Tiongkok tetap kompetitif secara global berkat biaya sewa dan tenaga kerja yang relatif rendah, yang terus mendukung posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur utama dunia.
Ke depan, pasar logistik di daratan Tiongkok diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dari sisi pasokan dalam jangka pendek. Tingkat kekosongan diproyeksikan terus meningkat karena pembangunan fasilitas baru masih lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan dari penyewa. Meski menghadapi tantangan tersebut, baik pemilik properti maupun penyewa tetap optimistis terhadap prospek fundamental jangka panjang pasar logistik Tiongkok dalam proses negosiasi sewa.
Managing Director sekaligus Head of Industrial & Logistics Services China di Cushman & Wakefield, Tony Su, mengatakan bahwa pasar gudang logistik premium di daratan Tiongkok secara keseluruhan masih menunjukkan tren yang stabil. Dari sisi pasokan dan permintaan, pemilik properti lebih memprioritaskan kualitas perpanjangan kontrak serta nilai aset jangka panjang dengan memilih penyewa yang stabil, seperti perusahaan manufaktur, dan tetap berhati-hati dalam menawarkan kontrak jangka panjang dengan tarif rendah. Di sisi lain, para penyewa masih sangat sensitif terhadap harga dan mengutamakan fleksibilitas untuk melakukan ekspansi. Menurutnya, meskipun terdapat perbedaan strategi dalam proses penyewaan, kedua belah pihak tetap melakukan negosiasi dengan keyakinan bahwa prospek pasar akan membaik, yang mencerminkan pulihnya kepercayaan secara bertahap terhadap sektor gudang logistik premium.
Asia-Pasifik Beragam, Asia Tenggara Menjadi Pusat Pertumbuhan Baru
Pasar yang mengalami keterbatasan pasokan, seperti Australia, Jepang, dan Singapura, kini menghadapi persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan ruang logistik. Tingkat kekosongan diperkirakan terus menurun karena proyek pembangunan baru masih terbatas. Kondisi ini tercermin dalam tren kawasan, di mana 43% pasar APAC diperkirakan akan mengalami penurunan tingkat kekosongan dalam tiga tahun mendatang sebagai indikasi pasar yang semakin ketat. Sebaliknya, kondisi yang lebih menguntungkan bagi penyewa masih terjadi di beberapa wilayah India dan daratan Tiongkok, di mana pasokan baru yang tinggi memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan penyewa. Secara keseluruhan, sekitar sepertiga pasar di APAC diperkirakan akan mengalami peningkatan tingkat kekosongan akibat masih berlangsungnya aktivitas pembangunan.
Perbedaan kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk menerapkan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing negara. Bagi pemilik properti, menyelaraskan aset dengan sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan tinggi seperti e-commerce, manufaktur, teknologi tinggi, dan otomotif, sekaligus memastikan bangunan mampu mendukung kebutuhan daya listrik dan otomatisasi, menjadi semakin penting.
Head of Investor Services and Logistics & Industrial Asia Pacific di Cushman & Wakefield, Dennis Yeo, mengatakan bahwa setiap pasar di kawasan APAC berada pada tahap pertumbuhan yang berbeda-beda, didorong oleh permintaan penyewa yang tetap kuat terutama dari sektor e-commerce dan manufaktur. Menurutnya, keterbatasan pasokan di pasar seperti Jepang dan Australia memicu persaingan yang lebih ketat, sementara ketersediaan ruang yang masih cukup besar di Tiongkok dan India justru membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha.
Permintaan terhadap fasilitas logistik di kawasan APAC masih didominasi oleh sektor e-commerce dan manufaktur, seiring berlanjutnya diversifikasi rantai pasok global. Dalam konteks ini, Asia Tenggara muncul sebagai pusat pertumbuhan baru. Negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, dan Thailand mencatat peningkatan aktivitas penyewa yang didorong oleh relokasi fasilitas produksi dan strategi regionalisasi perusahaan. Sementara itu, sektor teknologi tinggi dan otomotif tetap menjadi sumber utama permintaan di kawasan Asia Utara. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya fasilitas logistik modern yang memiliki lokasi strategis, siap menghadapi kebutuhan masa depan, serta mampu mendukung perubahan kebutuhan operasional dan teknologi.
Prospek Global: Pasar Semakin Ketat dan Biaya Terus Meningkat
Secara global, laporan tersebut menunjukkan bahwa kondisi pasar yang menguntungkan bagi penyewa diperkirakan menurun dari 52% pada 2026 menjadi 33% pada 2029, seiring menurunnya tingkat kekosongan dan terbatasnya pasokan baru. Sebaliknya, pasar yang lebih menguntungkan bagi pemilik properti diproyeksikan meningkat dari 26% menjadi 39%, menandakan perubahan keseimbangan pasar secara global. Pada saat yang sama, permintaan terhadap aset logistik berkualitas tinggi di lokasi strategis terus meningkat karena perusahaan melakukan penataan ulang rantai pasok guna mengurangi risiko geopolitik, perdagangan, dan perubahan iklim. Saat ini, tarif sewa logistik global tercatat 36% lebih tinggi dibandingkan 2020, dan 54% pasar diperkirakan akan mengalami kenaikan tarif sewa dalam tiga tahun mendatang.
Di kawasan Amerika, pasar logistik diperkirakan akan mengalami perubahan paling besar menuju kondisi yang lebih menguntungkan bagi pemilik properti, seiring tercapainya keseimbangan baru antara pasokan dan permintaan di berbagai pusat logistik utama Amerika Serikat. Sementara itu, tren nearshoring atau relokasi produksi ke negara yang lebih dekat dengan pasar utama terus mendorong permintaan terhadap fasilitas logistik di Meksiko.
Di kawasan EMEA (Eropa, Timur Tengah, dan Afrika), penurunan tingkat kekosongan yang disertai terbatasnya pembangunan proyek baru semakin mengurangi fleksibilitas penyewa. Selain itu, tingginya biaya energi kini menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi investasi serta meningkatkan permintaan terhadap aset logistik yang hemat energi.
Head of International Research Cushman & Wakefield, Dr. Dominic Brown, mengatakan bahwa fase berikutnya dalam siklus industri logistik akan sangat ditentukan oleh tingkat kesiapan perusahaan. Menurutnya, bisnis yang mampu membangun ketahanan melalui strategi real estat yang memanfaatkan teknologi, otomatisasi, serta aset yang memiliki ketahanan energi akan berada pada posisi yang jauh lebih baik untuk menghadapi berbagai gangguan sekaligus meraih pertumbuhan jangka panjang.
Tentang Cushman & Wakefield
Cushman & Wakefield (NYSE: CWK) merupakan salah satu perusahaan jasa real estat komersial terkemuka di dunia yang melayani pemilik maupun pengguna properti. Perusahaan ini memiliki sekitar 53.000 karyawan yang bekerja di hampir 350 kantor di 60 negara. Di kawasan Greater China, Cushman & Wakefield mengoperasikan jaringan 23 kantor yang melayani berbagai pasar lokal. Pada tahun 2025, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$10,3 miliar dari berbagai layanan inti, termasuk penilaian aset, konsultasi, layanan proyek dan pengembangan, pasar modal, layanan bagi pengguna properti, industri dan logistik, ritel, serta berbagai layanan real estat lainnya.






