Mengapa Ada Gempa Susulan Hingga 70 kali?

Selasa, 16 Juli 2019 | 11:39
bbci
Warga di tempat pengungsian
JAKARTA, RIAUGREE.COM- Hingga Senin (15/07) malam Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 70 gempa susulan setelah gempa dengan magnitudo 7,2 mengguncang kawasan Maluku Utara pada hari Minggu (14/07).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami (BMKG), Rahmat Triyono, mengatakan gempa besar memang biasanya diikuti oleh banyak gempa susulan.

"Sampai pukul 19:00 WIB hari Senin, setelah sekitar 24 jam dari gempa besar, telah terjadi 70 kali gempa susulan, 29 di antaranya dirasakan. Magnitudo susulan yang paling besar adalah 5,8. Ini dirasakan cukup kuat," kata Rahmat kepada BBC News Indonesia, hari Senin (15/07).

Rahmat meminta gempa-gempa susulan ini perlu diwaspadai oleh warga yang berada di sekitar sumber gempa.

Dengan masih adanya potensi gempa susulan yang akan terjadi, kata Rahmat, bangunan-bangunan dan rumah yang sebelumnya miring atau retak-retak akibat gempa 7,2 pada hari Minggu, dengan gempa susulan yang tidak begitu besar, bisa saja rumah dan bangunan itu akhirnya roboh.

"Untuk sementara, warga di sekitar sumber gempa, baik di Halmahera Selatan dan Labuha di Pulau Bacan, kalau melihat bangunan sudah tidak layak, sebaiknya tidak dihuni dulu," kata Rahmat.
Sesar Sorong-Bacan

Ia mengatakan dari observasi yang dilakukan BMKG, frekuensi gempa susulan menunjukkan penurunan.

"Namun dengan data yang diambil dalam kurun 24 jam ini, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa gempa-gempa susulan akan segera berakhir," katanya.

Ia menjelaskan bahwa gempa 7,2 pada hari Minggu dipicu oleh aktivitas sesar Sorong-Bacan, kedalaman 10 kilometer dengan pusat gempa ada di darat, 62 kilometer timur laut Labuha, Maluku Utara.

Banyak warga yang berinisiatif menjauhi pantai meski BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami.

"Namun, tetap kami apresiasi langkah masyarakat melakukan evakuasi. Melalui BPBD kami minta mereka untuk kembali ke rumah masing-masing," kata Rahmat. Hasil analisis BMKG menunjukkan jenis sesar mendatar tidak menimbulan tsunami.

Pada hari Minggu (07/07) terjadi gempa dengan magnitudo 7 di antara Ternate dan Sulawesi Utara. Rahmat menjelaskan gempa ini tidak terkait dengan gempa yang terjadi pada 14 Juli.

Sumber gempa bumi tektonik antara Sulawesi Utara dan Ternate ada di Punggungan Mayu.

"Punggungan Mayu terbentuk akibat tekanan atau dorongan dari lempeng mikro Halmahera dan yang di Sangihe. Yang Halmahera di timur menyusup ke barat, sementara yang di Sangihe, yang di barat, menyusup ke arah timur. Dari keduanya ini membentuk Punggungan Mayu," jelas Rahmat.

"Di situlah episenter gempa sepekan lalu," katanya.

Gempa pada hari Minggu (14/07) menyebabkan dua orang meninggal dunia dan lebih dari 2.000 orang mengungsi di 14 titik pengungsian, kata juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, Rita Rosita.

"Informasi yang kami terima, korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan," kata Rita kepada BBC News Indonesia, hari Senin (15/07).

Rita juga menyebabkan puluhan rumah rusak, demikian juga dengan dua unit jembatan.

Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 15 hingga 21 Juli 2019.(bbci)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top