• Home
  • Nasional
  • Hujan Es Dilima Desa di Aceh sebagai Fenomena Alamiah

Hujan Es Dilima Desa di Aceh sebagai Fenomena Alamiah

Senin, 08 Juli 2019 | 13:23
Foto: cnni
lustrasi hujan es.
JAKARTA, RIAUGREEN.COM -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena hujan es yang terjadi di lima desa di Aceh pada Minggu (7/7).

Hary Tirto Djatmiko, Kabid Diseminasi Informasi Iklim & Kualitas Udara BMKG mengatakan fenomena hujan es (hail) merupakan sebagai hal alamiah yang biasa terjadi.

Hary menuturkan fenomena hujan es lebih banyak terjadi pada masa transisi atau pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.

"Kejadian hujan lebat atau es disertai kilat/ petir dan angin kencang berdurasi singkat lebih banyak terjadi saat masa transisi musim atau pancaroba," jelas Hary kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Senin (8/7).

Lihat juga: Musim Kemarau, Hujan Es Landa Lima Desa di Aceh
Menurutnya kecil kemungkinan fenomena serupa akan kembali terjadi di daerah yang sama. Kendati tidak menutup kemungkinan fenomena serupa terjadi di sejumlah daerah di Indonesia yang hingga saat ini masih terjadi hujan.

Lebih lanjut, Hary menerangkan sejumlah indikasi sebelum terjadinya hujan lebat/ es. Fenomena ini biasanya juga terjadi dalam durasi singkat.

- Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah.

- Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (lebih dari 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (lebih dari 60 persen).

- Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis - lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu - abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

- Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu - abu / hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

- Pepohonan di sekitar tempat berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat.

 Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat berdiri.

- Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita.

- Jika dalam satu hingga tiga hari berturut - turut tidak ada hujan pada musim transisi atau pancaroba atau penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Pada Minggu (7/7) hujan es terjadi di lima desa di Aceh Tengah, yakni Paya Dedep, Paya Tungel, Jeget Ayu, Jaging Jeget, dan Bukit Kemuning. Hujan es berukuran kelereng turun sekitar 10 menit mulai pukul 14.15 WIB hingga 14.25 WIB. (cnni)

Loading...
BERITA LAINNYA
Wiranto Siap Pecat TNI-Polri Gagal Atasi Karhutla
Sabtu, 14 September 2019 | 09:45
Geger Perploncoan Siswa SD untuk Latihan Tawuran
Sabtu, 14 September 2019 | 09:34
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Patuh Jaya 2019
Kamis, 29 Agustus 2019 | 13:46
Ajarkan Anak-Anak Papua Mahir Berbahasa Inggris
Senin, 26 Agustus 2019 | 19:39
BERIKAN KOMENTAR
Top