PELALAWAN, RIAUGREN.COM - PAGI itu, langit di atas Lanud Roesmin Nurjadin tampak cerah. Namun bagi ratusan personel yang berkumpul dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Nasional 2026, kewaspadaan tak pernah benar-benar surut. Di tengah ancaman musim kemarau yang selalu membawa risiko, upaya mencegah kebakaran menjadi pekerjaan tanpa jeda.
Di antara barisan itu, komitmen PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) terlihat nyata, bukan sekadar pernyataan, melainkan rangkaian kerja panjang yang berlangsung jauh sebelum api muncul.
Widi Santoso, Fire Mineral Coordinator Fire and Aviation Department RAPP, menyebut bahwa menjaga hutan tetap aman dari kebakaran bukanlah tugas yang bisa dilakukan secara reaktif. Ia dan timnya telah terbiasa bergerak lebih dulu, bahkan saat tanda-tanda kebakaran belum terlihat.
?Patroli darat rutin kami lakukan. Dari udara, pemantauan menggunakan drone juga terus berjalan. Di saat yang sama, kami turun langsung ke masyarakat untuk mengingatkan bahwa pencegahan adalah kunci,? ujarnya.
Di lapangan, upaya itu tampak dalam bentuk yang konkret. Posko-posko siaga berdiri di titik rawan, menjadi simpul kesiapsiagaan yang selalu aktif. Ketika api muncul, respons cepat menjadi penentu. Tim pemadam dikerahkan dengan dukungan armada lengkap, mulai dari kendaraan pemadam hingga helikopter pemantau, untuk memastikan api tidak meluas.
Namun cerita tentang pengendalian karhutla di Riau bukan hanya tentang alat dan teknologi. Ia juga tentang membangun kesadaran bersama.
Sejak 2014, grup APRIL, induk dari RAPP menginisiasi Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Program/FFVP). Program ini menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat desa, mengubah pendekatan dari sekadar penanggulangan menjadi pencegahan berbasis komunitas.
Hasilnya tidak kecil. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 42 desa dengan cakupan lebih dari 900.000 hektare. Lebih dari itu, angka kebakaran berhasil ditekan hingga lebih dari 90 persen sejak program dimulai, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa perubahan perilaku memiliki dampak besar.
Di balik capaian tersebut, investasi besar juga digelontorkan. Dua helikopter dan airboat disiagakan, puluhan kendaraan patroli beroperasi, ratusan pompa air dan ribuan selang tersedia untuk menghadapi kondisi darurat. Sistem pemantauan pun diperkuat dengan puluhan CCTV serta titik pengawasan kabut asap yang tersebar di berbagai wilayah Riau.
Sejak 2018, kehadiran Fire Coordination Centre menjadi pusat kendali yang mempercepat respons terhadap titik panas. Dari ruang ini, setiap pergerakan api dipantau, dianalisis, dan direspons secara terkoordinasi.
Namun kekuatan terbesar tetap terletak pada manusia. RAPP kini memiliki lebih dari seribu petugas pemadam profesional, didukung ribuan relawan yang tersebar di 125 desa. Mereka adalah garda terdepan yang siaga tanpa mengenal waktu.
Bahkan, tim khusus Fire Emergency Response Team (FERT) disiapkan untuk berjaga 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, menjadi simbol kesiapsiagaan yang tidak pernah tidur.
Komitmen ini juga melampaui batas konsesi perusahaan. Dalam radius tiga kilometer dari wilayah operasionalnya, RAPP tetap terlibat membantu pemadaman. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas pihak pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat.
Di Riau, di mana hutan dan lahan gambut menjadi bagian dari kehidupan, menjaga api tetap padam adalah perjuangan panjang. Dan di balik setiap musim kemarau, ada kerja senyap yang terus berlangsung, patroli yang tak henti, sosialisasi yang berulang, serta kesiapsiagaan yang tak boleh lengah.
Bagi RAPP, ini bukan sekadar tanggung jawab perusahaan. Ini adalah upaya menjaga masa depan, agar langit Riau tetap biru, dan hutan tetap hidup.