• Home
  • Nasional
  • WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Salurkan 250.000 Bibit Pohon untuk Pemulihan DAS Peusangan, Aceh

WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen Salurkan 250.000 Bibit Pohon untuk Pemulihan DAS Peusangan, Aceh

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:37

ACEH,RIAUGREEN.COM -  WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen, pemengaruh (influencer) yang memiliki kepedulian terhadap alam dan masyarakat, menggalang partisipasi publik dalam upaya pemulihan wilayah terdampak di Aceh. Upaya restorasi alam dimulai dengan kegiatan penyaluran dan penanaman bibit pohon sebanyak 250.000 bibit secara bertahap. Nantinya, bibit pohon yang didapatkan dari partisipasi publik ini ditanam di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan melalui kolaborasi para pihak dalam Program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI). Kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan kepada publik bahwa restorasi alam tidak hanya sekadar menanam pohon. Melalui Program PECI, keduanya menghubungkan partisipasi masyarakat dengan upaya memulihkan bentang alam sekaligus memperkuat sumber kehidupan warga, dan menjaga habitat Gajah Sumatra. Volunteer lintas generasi ikut berpartisipasi gerakan menanam ini, mulai dari kaum muda yang tergabung dari berbagai komunitas di Aceh termasuk Earth Hour Aceh dan Forum Kolaborasi PECI hingga masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan pegiat lingkungan.

WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen melakukan penanaman perdana bibit pohon di sekitar Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan pada Sabtu (18/06/26). Sebanyak 2.000 bibit pohon ditanam bersama masyarakat, relawan, komunitas, content creator, pemerintah daerah, dan berbagai mitra. Selanjutnya, sebanyak 250.000 bibit akan didistribusikan dan ditanam secara bertahap bersama masyarakat di tujuh desa di Lanskap Peusangan, yaitu Desa Alur Cincin, Alur Gading, Blang Ara, Musara Pakat, Negeri Antara, Simpang Lancang, dan Salah Siron Jaya. Upaya ini menjadi wujud nyata dari restorasi alam Aceh secara jangka panjang.

Lanskap Peusangan menjadi ruang hidup bersama bagi masyarakat dan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Bireun. Perubahan kondisi lanskap, tekanan terhadap habitat, dan meningkatnya perjumpaan antara manusia dan gajah telah menciptakan tantangan yang semakin kompleks. Bencana yang terjadi di Aceh juga menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan kebun dan sumber penghidupan, sehingga pemulihan ekonomi masyarakat dan kondisi ekologis lanskap perlu berjalan beriringan.

Melalui program PECI, WWF-Indonesia bersama masyarakat dan berbagai pihak mendorong transformasi dari interaksi negatif menuju koeksistensi manusia dan gajah melalui pendekatan berbasis lanskap. Upaya ini menghubungkan pengelolaan satwa liar sehingga turunnya interaksi negatif, pemulihan dan perbaikan habitat, agroforestri dan penguatan penghidupan masyarakat, pengembangan pengetahuan, kolaborasi lintas pihak, serta pembiayaan konservasi berkelanjutan.

?Konservasi satwa liar tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang berbagi ruang di lanskap yang sama. Karena itu, upaya menuju koeksistensi perlu menjawab kebutuhan keduanya: bagaimana habitat dapat dipulihkan dan interaksi negatif dengan gajah dapat dikelola, sekaligus masyarakat dapat memiliki penghidupan yang lebih kuat dan berkelanjutan,? ujar Dewi Lestari Yani Rizki, Direktur Konservasi WWF-Indonesia. "Konservasi tidak akan berhasil jika hanya berfokus pada satwa atau hutan. Restorasi habitat harus berjalan seiring dengan pemulihan sumber kehidupan warga. Kolaborasi bersama Wenanam menunjukkan bagaimana energi publik dapat diterjemahkan menjadi kerja konservasi yang berbasis sains dan memberikan dampak jangka panjang bagi manusia yang tinggal di sekitar habitat maupun di kota besar, paling penting adalah pelestarian Gajah Sumatra," Dewi melanjutkan keterangan.

Saat ini, program PECI menjadi wadah dalam mengimplementasikan Wenanam sebagai bentuk partisipasi publik dalam upaya pemulihan lanskap Peusangan. Dukungan publik yang dihimpun melalui Wenanam diterjemahkan menjadi kontribusi bibit yang memiliki nilai ekonomi seperti durian, jeruk, jambu lain-lain dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing area seperti tanaman pionir, rumput gajah dan lainnya. Di area kelola masyarakat, bibit akan mendukung pengembangan agroforestri untuk membantu memulihkan kebun dan memperkuat sumber penghidupan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi menghubungkan pemulihan ekonomi masyarakat dengan pengelolaan lanskap yang lebih selaras dengan upaya koeksistensi manusia dan gajah.

Sementara itu, di area sungai yang kondisi tanahnya masih berpasir, penanaman tahap awal difokuskan pada pemulihan dan perbaikan habitat. Tanaman pionir, termasuk jenis legume, bambu, dan tanaman pakan gajah, ditanam untuk membantu memperbaiki kondisi lahan dan unsur hara secara bertahap. Penanaman di area ini juga menjadi bagian dari pengembangan biobarrier alami dan upaya perbaikan habitat gajah. Pendekatan yang berbeda di setiap area menjadi bagian penting dari Wenanam 2026. Menanam tidak hanya berarti menambah jumlah pohon, tetapi memastikan bahwa jenis tanaman, lokasi, dan fungsi penanaman sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi ekologis lanskap.

?Wenanam lahir dari keinginan untuk mengajak lebih banyak orang ikut menanam harapan. Di Peusangan, saya belajar bahwa menanam bukan hanya soal berapa banyak pohonnya. Ada masyarakat yang kehilangan kebun dan perlu memulihkan penghidupannya, ada habitat yang perlu diperbaiki, dan ada hubungan antara manusia dan gajah yang perlu kita bangun kembali. Saya berharap apa yang kita mulai di sini bisa tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar, dan yang penting, Wenanam ini bukan hanya Jerhemy Owen saja, tetapi ini justru followers dan masyarakat indonesia yang menanam? ujar Jerhemy Owen, inisiator Wenanam.?

Program PECI dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak, yaitu Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, PT. Tusam Hutan Lestari, Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Daerah Kabupaten Bener Meriah, Bireun dan Aceh Tengah, Forum Kolaborasi PECI (FK-PECI), akademisi di universitas baik skala nasional maupun internasional, masyarakat lokal, termasuk Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) dan HSBC Indonesia, serta berbagai mitra pembangunan yang bersama-sama mendukung upaya menuju koeksistensi manusia dan gajah.

Kolaborasi WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen saling melengkapi. Wenanam menggerakkan partisipasi publik, sementara WWF-Indonesia memastikan setiap dukungan tersebut menjadi bagian dari program konservasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan ekologis dan sosial di lapangan. Turut mendukung kegiatan ini Arei Outdoor Gear, Eastspring Investments Indonesia, Tencent, FCDO, dan HSBC Indonesia. Dukungan Kitabisa mendukung mobilisasi partisipasi publik melalui platform penggalangan dana Jerhemy Owen dan WWF-Indonesia, sementara Mantappu Corp, mendukung kolaborasi serta pelibatan content creator untuk memperluas jangkauan gerakan ini.

Melalui Wenanam, sebanyak 250.000 bibit pohon ini menjadi simbol yang ditanam bersama-sama. Melalui Program PECI, harapan ini dirawat agar dapat tumbuh menjadi sumber kehidupan lebih kuat, habitat lebih baik, pengetahuan yang berkembang, dan jalan menuju koeksistensi antara manusia dan gajah di Peusangan. Tentunya, hal yang paling utama adalah masyarakat bukan hanya penerima manfaat, tetapi menjadi aktor penting dalam memulihkan sumber kehidupan, mengelola lanskap, dan membangun cara hidup berdampingan dengan gajah yang lebih aman dan berkelanjutan.



BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top