Survei Terbaru DHL eCommerce Ungkap Kesenjangan antara Penggunaan dan Kepercayaan terhadap AI, Meningkatnya Minat pada Model Berlangganan, serta Keterbukaan terhadap Beragam Opsi Pembayaran Digital
HANOI, VIETNAM ? Media OutReach Newswire - 16 Juli 2026 - E-commerce di kawasan Asia Pasifik memasuki fase baru yang semakin matang seiring pesatnya adopsi teknologi modern oleh konsumen maupun pelaku usaha. Tiga faktor utama kini membentuk kembali lanskap perdagangan digital di kawasan ini, yaitu meningkatnya permintaan terhadap pengalaman belanja berbasis kecerdasan buatan (AI), bertumbuhnya minat terhadap model berlangganan (subscription), serta semakin luasnya pilihan metode pembayaran yang fleksibel. Temuan tersebut berasal dari survei global terbaru DHL eCommerce yang melibatkan pembeli online dan pelaku bisnis di Australia, China, India, Malaysia, dan Thailand.

?Seiring gaya hidup digital yang terus berkembang di Asia Pasifik, inovasi dalam e-commerce akan melaju semakin cepat dengan berbagai kemungkinan yang bahkan belum sepenuhnya dapat kita prediksi saat ini,? ujar Pablo Ciano, CEO DHL eCommerce. ?Yang sudah pasti, ekspektasi konsumen akan terus meningkat. Pengalaman berbelanja yang mulus, intuitif, dan dipersonalisasi tetap menjadi kunci untuk menarik pelanggan. Namun, peluang terbesar terletak pada kemampuan menjembatani berbagai kesenjangan, terutama dalam hal kepercayaan, kemudahan, dan kebebasan memilih, guna membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.?
Adopsi AI Meningkat Pesat, tetapi Kesenjangan antara Penggunaan dan Kepercayaan Masih Terlihat
Di seluruh Asia Pasifik, adopsi AI terus menunjukkan perkembangan baik di kalangan konsumen maupun pelaku bisnis. Sekitar 40% pembeli online telah menggunakan teknologi berbasis AI, seperti chatbot dan asisten virtual, untuk memperoleh layanan pelanggan atau rekomendasi produk selama proses berbelanja. Angka tersebut diperkirakan akan terus meningkat, dengan 37% responden lainnya menyatakan ingin memanfaatkan AI untuk tujuan serupa di masa mendatang. Hal ini menunjukkan tingginya minat terhadap pengalaman berbelanja yang lebih personal dan intuitif.
Dari sisi bisnis, tingkat adopsi AI juga sangat tinggi. Sebanyak 80% perusahaan menyatakan telah menggunakan AI dalam platform e-commerce mereka. Dua penerapan AI yang paling banyak dilakukan adalah memberikan rekomendasi produk yang dipersonalisasi kepada pelanggan serta membantu proses ulasan produk atau perbandingan gambar. Tingginya literasi digital konsumen dan ekosistem perdagangan yang maju menjadi faktor utama yang mendukung kemampuan perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik dalam memimpin pengembangan agentic commerce, yaitu sistem perdagangan digital yang memanfaatkan agen AI untuk mengambil keputusan dan menjalankan transaksi secara lebih mandiri.
Ke depan, mayoritas perusahaan memperkirakan penggunaan AI akan terus meningkat dalam lima tahun mendatang, terutama untuk memprediksi tren pasar, menghadirkan fitur uji coba virtual (virtual try-on), serta mendeteksi potensi penipuan.
Meski demikian, masih terdapat kesenjangan yang cukup jelas antara tingkat penggunaan dan tingkat kepercayaan terhadap AI. Walaupun konsumen telah aktif memanfaatkan berbagai layanan berbasis AI, keinginan mereka untuk membiarkan AI mengambil keputusan pembelian masih beragam. Sebanyak 62% responden mengaku khawatir terhadap perlindungan privasi, sementara 50% mempertanyakan akurasi AI. Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh kalangan pelaku usaha.
Model Berlangganan Semakin Diminati, Terutama untuk Layanan Pengiriman dan Pengembalian Barang
Permintaan terhadap pengalaman belanja berbasis langganan terus meningkat di Asia Pasifik. Sebagian besar responden mengaku telah memiliki setidaknya satu layanan berlangganan untuk produk tertentu, bahkan 35% di antaranya memiliki tiga atau lebih langganan produk. Harga yang lebih murah atau bersifat istimewa serta program loyalitas menjadi dua alasan utama yang mendorong konsumen memilih model berlangganan.
Selain itu, minat terhadap layanan berlangganan yang berkaitan dengan logistik juga meningkat secara signifikan. Sebanyak 61% responden di Australia, 32% di China, 52% di India, 47% di Malaysia, dan 42% di Thailand menyatakan telah berlangganan setidaknya satu program layanan pengiriman dan pengembalian barang. Potensi pertumbuhan juga masih sangat besar, karena satu dari dua responden menyatakan akan mempertimbangkan untuk berlangganan layanan tersebut dalam lima tahun ke depan.
Sejalan dengan tren tersebut, sebanyak 71% pelaku usaha di Asia Pasifik telah menawarkan layanan pengiriman dan pengembalian berbasis langganan, sementara 21% lainnya berencana menghadirkannya dalam lima tahun mendatang. Model ini diperkirakan akan mengutamakan manfaat berupa tarif yang lebih hemat, layanan prioritas, fleksibilitas yang lebih besar, serta berbagai program penghargaan loyalitas yang sesuai dengan preferensi konsumen.
Sistem Pembayaran Semakin Beragam untuk Memenuhi Kebutuhan Akan Kecepatan, Pilihan, dan Kemudahan
Ekosistem pembayaran digital di Asia Pasifik berkembang sangat cepat dengan tingkat kesesuaian yang tinggi antara preferensi konsumen dan layanan yang disediakan pelaku usaha. Konsumen di kawasan ini masih banyak menggunakan kartu kredit/debit dan dompet digital untuk bertransaksi secara online. Namun, penggunaan metode pembayaran baru seperti Buy Now Pay Later (BNPL), mata uang kripto, serta autentikasi biometrik juga terus mengalami peningkatan. Tren ini paling terlihat di China, India, Malaysia, dan Thailand, di mana perdagangan berbasis perangkat seluler (mobile-first commerce) menjadi pendorong utama pertumbuhan solusi pembayaran digital.
Didukung oleh tingginya penggunaan perangkat seluler, perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik kini telah menyediakan beragam pilihan metode pembayaran, termasuk dompet digital, BNPL, hingga sistem pembayaran berbasis biometrik. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi hambatan saat proses pembayaran (checkout), sekaligus meningkatkan tingkat keberhasilan transaksi (conversion rate).
Tentang DHL eCommerce Trends Report 2026
DHL eCommerce Trends Report 2026 merupakan hasil survei terhadap 29.000 konsumen dan 5.800 pelaku usaha di berbagai kawasan dunia, meliputi Eropa, Amerika Utara, Asia Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika Sub-Sahara. Dengan menggabungkan perspektif konsumen dan pelaku bisnis dalam satu laporan terpadu, studi ini memberikan berbagai wawasan praktis yang dapat membantu pelaku e-commerce merespons perubahan kebutuhan operasional serta dinamika pasar yang terus berkembang.
https://group.dhl.com/en.html
https://www.linkedin.com/company/dhlecommerce/posts/'feedView=all
DHL ? Perusahaan Logistik untuk Dunia
DHL merupakan merek global terkemuka di industri logistik. Berbagai divisi DHL menghadirkan portofolio layanan logistik yang komprehensif, mulai dari pengiriman paket domestik dan internasional, solusi pengiriman serta pemenuhan pesanan (fulfillment) untuk e-commerce, layanan ekspres internasional, transportasi darat, udara, dan laut, hingga pengelolaan rantai pasok industri. Dengan sekitar 389.000 karyawan yang tersebar di lebih dari 220 negara dan wilayah di seluruh dunia, DHL menghubungkan masyarakat dan dunia usaha secara aman serta andal, sekaligus mendukung kelancaran arus perdagangan global yang berkelanjutan. Melalui solusi khusus bagi berbagai pasar dan sektor yang terus berkembang, seperti teknologi, ilmu hayati dan layanan kesehatan, rekayasa, manufaktur dan energi, otomotif dan mobilitas, serta ritel, DHL semakin memperkuat posisinya sebagai ?Perusahaan Logistik untuk Dunia?.
DHL merupakan bagian dari DHL Group. Pada tahun 2025, grup ini membukukan pendapatan sekitar 82,9 miliar euro. Melalui praktik bisnis yang berkelanjutan serta komitmen terhadap masyarakat dan lingkungan, DHL Group berupaya memberikan kontribusi positif bagi dunia. DHL Group juga menargetkan untuk mencapai operasional logistik dengan emisi nol bersih (net-zero emissions) pada tahun 2050.