- Home
- Seni & Budaya
- Ghatib Beghanyut, Tradisi Ritual Tolak Bala Masyarakat Siak Semenjak Kesultanan Siak
Ghatib Beghanyut, Tradisi Ritual Tolak Bala Masyarakat Siak Semenjak Kesultanan Siak
Senin, 23 November 2015 | 16:06
tradisi Ghatib Beghanyut, ritual tolak bala yang dilakukan masyarakat Siak secara turun temurun. (foto internet)
SIAK, RIAUGREEN.COM - Kekayaan budaya dan tradisi keislaman sejak masa Kesultanan Siak masih terjaga dengan baik. Salah satunya tradisi Ghatib Beghanyut, ritual tolak bala yang dilakukan masyarakat Siak secara turun temurun.
Pada Jumat (20/11/2015) malam, seratusan warga Siak memakai pakaian putih-putih dan bersorban. Usai shalat Isya, mereka berkumpul di pelabuhan LLASDP yang berada di jantung Kota Siak Sri Indrapura. Sebelum memulai ritual, panitia yang dikoordinir Pemerintah Kabupaten Siak menyiapkan makan malam bagi semua yang datang. Usai makan, dibukalah acara selayaknya kegiatan pemerintah.
Tidak lama memberikan sambutan, Bupati Siak Syamsuar mengiring seluruh jemaah ke dermaga di pelabuhan. Tua- muda, anak-anak, laki dan perempuan naik ke sebuah kapal penyeberangan. Yang tua-tua mengambil posisi di bagian tengah. Karpet permadani sudah terbentang, lengkap pula dengan makan-minumnya.
Di bagian lain, belasan sampan dan kapal kecil ikut mengiringi kapal penyebarangan ini. Suasana malam itu semakin berbeda dan menakjubkan. Seratusan jemaah sudah berada di dalam kapal, menunggu arah arus sungai kemana kapal akan hanyut.
Jemaah ini dipimpin imam Naksabandiyah dari Kubu, Rokan Hilir, yakni H. Zulfikar. Ia didampingi seorang pemuka agama dari Siak, Abdur Razak. Semua yang naik di kapal dipastikan dalam keadaan suci atau berwuduk.
Kala kapal bertolak, suara azan langsung dikumandangkan seorang muazin. Tanda kapal sudah hanyut mengikuti arus sungai Siak.
Kapal hanyut ke arah Pelabuhan Belantik. Doa-doa dan zikir mulai digelar. Jemaah tampak khusuk bermohon kepada Yang Maha Kuasa. Kalimat-kalimat tauhid mulai mendominasi. Kalimat tahlil bergema, diucapkan jemaah sekeras yang ia bisa tanpa mengetahui kapal itu sedang berada di koordinat berapa.
Kalimat tahlil juga menggema dari kapal-kapal kecil yang berada di belakang kapal yang kami tumpangi.
Semakin keras kalimat tahlil menggema, semakin jauh kapal kami hanyut. Warga di Kota Siak Sri Indrapura yang tidak berkesempatan iku di kapalt, dapat melihat dari tepian sungai yang dalam itu. Ritual berhanyut, yang diberi nama Ghatib Beghanyut ini bermaksud mendoakan negeri terhindar dari segala bencana. Untuk itu, mereka menghanyutkan segala yang tidak menyenangkan bagi penduduk negeri bekas Siak'>Kesultanan Siak itu.
Sepanjang kapal hanyut, para pezikir begitu khusyuk. Ada yang menadahkan tangan tinggi-tinggi kala pemimpin jemaah memanjatkan doa. Ada pula yang menggelengkan kepala dengan kencang kala kalimat tahlil diucapkan. Semuanya tampak larut dengan seluruh pengharapan kepada Allah SWT.
Tak heran pula, ada yang bertahlil sampai keluar air matanya dan menangis tersedu kala memanjatkan doa. Betapa mengharukannya ritual tolak bala warga Siak Sri Indrapura ini.
Setelah lebih satu jam berhanyut, kapal berhenti di sebuah tepian. Tepatnya di Pelabuhan Belantik, masih dalam kawasan Kecamatan Siak. Dari pelabuhan ini, para jemaah dijemput dengan bus untuk kembali ke pelabuhan LLASDP, baru kemudian pulang ke rumah masing-masing.
Selama lebih satu jam kapal hanyut, sudah banyak doa yang dimohonkan, sudah panjang tahlil yang diucapkan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siak Kadri Yafis mengatakan, sejarah Ghatib Beghanyut berawal dari adanya wabah bencana di Siak zaman dulu. Seperti adanya harimau mengamuk, musim orang hitam (ilmu hitam), dan banyaknya penyakit.
Dimaksudkan untuk mengusir segala bala bencana itu, pihak kesultanan menggelar zikir, doa, dan tahlil di atas kapal sambil mengikuti arah arus sungai Siak. Ritual ini dilakukan hampir setiap tahun.
"Pada tahun 1976, masa saya masih kecil, ritual ini juga terus dilakukan. Waktu itu, ada isu orang hitam, yang membuat warga ketakutan. Maka, para tetua menggelar Ghatib Beghanyut, dengan tujuan memohon kepada Allah," kata Kadri.
Sementara Bupati Siak Syamsuar mengatakan, Ghatib Beghanyut merupakan tradisi yang sudah menjadi kebudayaan masyarakat Siak yang kental dengan keislaman. Ghatib Beghanyut itu tidak sekadar ritual keagamaan untuk hari ini. Melainkan dilestarikan dan digelar setiap tahunnya.
"Tradisi ini kita masukkan ke dalam kalender kebudayaan dan kepariwisataan kita. Selain kegiatan ini sangat mulia, juga hanya ada di Siak. Ini tentunya akan menarik perhatian banyak orang, yang akan tertarik untuk ikut di masa-masa mendatang," kata Syamsuar.
Menurut dia, Ghatib Beghanyut bisa mengusung wisata keagamaan di Siak. Apalagi, sejak tiga tahun belakangan tradisi Ghatib Beghanyut sudah mulai populer di berbagai daerah. "Banyak jemaah tarekat yang tertarik dengan tradisi kita ini, berzikir di atas sungai Siak," kata dia.
"Promosi tradisi masyarakat kita yang seperti ini akan terus kami gencarkan. Kekayaan tradisi ini harus kita jaga dan kita terus kita kembangkan," imbuhnya.
editor : Hafiz
source : pekanbaru.tribunnews.com
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR