• Home
  • Bisnis
  • Aturan Uni Eropa dan Keterbatasan Pasokan Uji Akses Asia ke Pasar Ekspor Utama, Seiring Kembalinya Plasticity Forum ke Malaysia untuk Mencari Solusi

Aturan Uni Eropa dan Keterbatasan Pasokan Uji Akses Asia ke Pasar Ekspor Utama, Seiring Kembalinya Plasticity Forum ke Malaysia untuk Mencari Solusi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:35
Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram Salin Link
Keterangan Foto: Mr. Douglas Woodring, Founder of the Plasticity Forum

Mengapa produsen, pelaku bisnis, merek, dan pembuat kebijakan di seluruh Asia-Pasifik harus hadir dalam forum tersebut seiring aturan baru membentuk ulang cara material berpindah.

KUALA LUMPUR, MALAYSIA - Media OutReach Newswire - 8 Oktober 2026 - Perusahaan yang menjual produknya ke Eropa akan segera mengetahui apakah rantai pasok mereka telah siap menghadapi berbagai aturan baru. Pada 21 November, Uni Eropa akan melarang ekspor limbah plastik ke negara-negara non-OECD, sementara peraturan baru mengenai kendaraan dan kemasan secara bertahap akan mewajibkan penggunaan bahan daur ulang dalam produk yang mereka jual. Hanya beberapa hari sebelumnya, pada 16 dan 17 November, Plasticity Forum Kuala Lumpur (KL) 2026 akan mempertemukan berbagai merek, produsen, pelaku industri plastik, dan pembuat kebijakan di M Hotel, Kuala Lumpur, untuk membahas bagaimana kawasan ini dapat mengamankan material yang dibutuhkan sekaligus tetap kompetitif ketika berbagai aturan tersebut semakin diperketat.

Pasokan plastik daur ulang pascakonsumsi (PCR) di Asia Tenggara mulai terdampak perubahan tersebut. Thailand dan Indonesia menghentikan impor limbah plastik pada Januari 2025, sementara Malaysia memperketat aturan impor limbah plastik dan, sejak April 2026, melarang sepenuhnya impor limbah elektronik (e-waste). Material tersebut sangat penting bagi produk-produk yang ditujukan untuk pasar Uni Eropa. Berdasarkan aturan kendaraan Uni Eropa, model kendaraan baru harus mengandung setidaknya 15% plastik daur ulang mulai 2032, meningkat menjadi 25% mulai 2036. Sementara itu, aturan mengenai kemasan menetapkan batas minimum kandungan bahan daur ulang mulai 2030. Aturan eco-design yang lebih luas juga diperkirakan akan diberlakukan pada produk seperti elektronik dan tekstil dalam beberapa tahun mendatang. Para produsen akan membutuhkan pasokan yang andal dan memenuhi ketentuan agar dapat terus menjual produk mereka ke pasar-pasar utama.

"Model lama, yaitu mengirim limbah ke tempat yang biaya pengolahannya paling murah, sedang berakhir, sementara berbagai aturan berubah lebih cepat daripada yang telah dipersiapkan oleh banyak perusahaan," kata Douglas Woodring, Pendiri Plasticity Forum.

"Ini adalah masa terbaik bagi perusahaan untuk membuat komitmen, tetapi sekaligus menjadi masa yang paling sulit untuk mewujudkannya dalam operasional. Anda tidak dapat memproduksi barang sesuai standar baru jika bahan bakunya tertahan di balik perbatasan atau justru berakhir di tempat pembuangan akhir. Perusahaan yang mulai membangun rantai pasok yang memenuhi ketentuan sejak sekarang akan menjadi perusahaan yang masih mampu menjual produknya ke pasar-pasar tersebut di masa mendatang."

Selama dua hari, Plasticity Forum KL 2026 akan membahas berbagai persoalan kebijakan dan pasar yang berada di balik tantangan tersebut, mulai dari Extended Producer Responsibility (EPR) dan investasi hingga permintaan konsumen serta Traktat Plastik PBB (UN Plastics Treaty). Forum ini juga akan menghadirkan sesi khusus untuk sektor elektronik, otomotif, dan plastik untuk keperluan kontak dengan makanan (food-grade plastics). Sebuah panel terbuka yang melibatkan merek, produsen plastik, dan pemasok plastik hasil pemulihan akan membahas berbagai hal yang berjalan baik, yang tidak berjalan baik, serta solusi yang benar-benar dapat diterapkan dalam praktik. Sementara itu, diskusi meja bundar akan menjadi masukan bagi sesi penutupan bertajuk "From Plasticity 2026 to the World", yang akan merangkum pesan-pesan yang ingin disampaikan para peserta kepada merek, regulator, investor, dan PBB.

"Asia Tenggara merupakan kawasan yang paling merasakan dampak perubahan ini, dan Kuala Lumpur adalah tempat yang tepat untuk menentukan langkah selanjutnya. Kawasan ini memiliki peluang untuk membangun sistem material sirkular yang lebih bernilai dan lebih tangguh, bukan sekadar bereaksi terhadap aturan-aturan baru," tambah Woodring.

Sejak diluncurkan pada KTT Rio+20 pada 2012, Plasticity Forum telah diselenggarakan di 13 kota di seluruh dunia dan kini kembali ke wilayah Greater Kuala Lumpur, yang juga menjadi tuan rumah forum tersebut pada 2018. Plasticity Forum KL 2026 akan berlangsung pada 16 dan 17 November di M Hotel dan terbuka bagi siapa saja yang memiliki peran dalam rantai pasok plastik serta ingin turut menentukan arah perkembangan industri ini ke depan.

Organisasi dapat berpartisipasi dalam Plasticity KL 2026 dengan menghadiri acara, memberikan wawasan dan membagikan informasi mengenai acara tersebut kepada jaringan mereka, atau mendukung forum sebagai sponsor, peserta pameran, maupun pendukung. Untuk informasi pendaftaran dan kemitraan, kunjungi Plasticity Forum.

https://plasticityforum.regfox.com/plasticity-2026



📢 Publisir Berita & Kegiatan Instansi Anda di RiauGreen

Jangkau pembaca luas & terindeks Google News. Pilih paket rilis pers, advertorial, atau kemitraan media.

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top