• Home
  • Bisnis
  • Riset Terbaru Mengungkap Cara Keluarga Terkaya di Asia Menyalurkan Filantropi

Riset Terbaru Mengungkap Cara Keluarga Terkaya di Asia Menyalurkan Filantropi

Selasa, 08 September 2026 | 08:46
Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram Salin Link

Penelitian global mengkaji bagaimana kekayaan yang relatif baru, kepemilikan bisnis yang masih berlanjut, dan pengelolaan amanah keluarga memengaruhi praktik filantropi di kalangan keluarga terkaya di Asia

  • - Sekitar 94 persen keluarga terkaya di Asia merupakan pemilik kekayaan generasi pertama atau kedua.
  • - Sekitar 95 persen keluarga terkaya di Asia masih mempertahankan kendali atas bisnis yang menghasilkan kekayaan mereka.

SINGAPURA - Media OutReach Newswire - 8 September 2026 - Seiring dengan terus berkembangnya kekayaan pribadi secara global dan diperkirakan sekitar US$74 triliun akan berpindah antargenerasi dalam 20 hingga 25 tahun mendatang, pemahaman mengenai bagaimana keluarga kaya menjalankan kegiatan filantropi menjadi semakin penting. Penelitian terbaru dari The Bridgespan Group, berdasarkan analisis terhadap 186 individu dan keluarga terkaya di 20 negara yang mencakup Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, memberikan gambaran mengenai bagaimana keluarga-keluarga terkaya di dunia menyalurkan donasi, bidang apa yang mereka danai, bagaimana mereka mengorganisasi kegiatan filantropi, serta bagaimana mereka berupaya menciptakan perubahan.

Didukung oleh Bridgespan's Funders Council, yang terdiri atas Institute of Philanthropy, The Rockefeller Foundation, dan Gates Foundation, serta kontribusi dari Financial Services Development Council dan Wealth Management Institute, laporan High-Impact Family Philanthropy: What Makes Family Giving Distinctive merupakan tahun ketiga dari seri High-Impact Philanthropy. Laporan ini melanjutkan penelitian sebelumnya mengenai filantropi kelembagaan dan pemberian dana oleh perusahaan.

"Penelitian ini hadir pada momentum yang sangat penting bagi filantropi keluarga, khususnya ketika kekayaan pribadi terus bertumbuh," ujar Xueling Lee, salah satu penulis sekaligus partner di Bridgespan. "Penelitian kami membantu mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai bagaimana keluarga-keluarga terkaya di dunia mengorganisasi kegiatan filantropi dan mengejar dampak, serta menemukan karakteristik yang membedakan filantropi keluarga di Asia."

Di Asia, di mana para pendiri dan pemimpin generasi kedua sering kali masih terlibat erat dalam bisnis yang menghasilkan kekayaan mereka, kegiatan filantropi kerap berkaitan dengan pertanyaan yang lebih luas mengenai pengelolaan amanah kekayaan (stewardship), kepemilikan bisnis, suksesi, dan keterlibatan dengan masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia kekayaan yang relatif masih baru, kepemilikan bisnis yang masih berlanjut, serta hubungan yang erat antara keluarga, bisnis, dan filantropi. Penelitian Bridgespan mengenai pemberian dana oleh perusahaan turut menyoroti dinamika ini: perusahaan yang terkait dengan pendiri atau keluarga mencakup 11 dari 20 perusahaan pemberi dana terbesar di Asia, dibandingkan dengan hanya empat perusahaan di antara 20 perusahaan pemberi dana terbesar di dunia.

"Di luar besarnya dana yang mereka sumbangkan, banyak keluarga memiliki perspektif jangka panjang, komitmen pribadi yang kuat, serta hubungan lintas sektor yang dibangun selama puluhan tahun," ujar Brian San, sekretaris jenderal Institute of Philanthropy. "Kualitas-kualitas ini sangat relevan di Asia, di mana bisnis milik keluarga masih menjadi kekuatan penting dan filantropi sering kali memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan amanah keluarga, kepemimpinan bisnis, dan keterlibatan masyarakat. Laporan ini menyoroti bagaimana karakteristik tersebut dapat membantu keluarga mendorong kolaborasi, mendukung inovasi, serta berkontribusi terhadap dampak yang bermakna dalam jangka panjang."

"Penelitian ini mengonfirmasi apa yang telah kami saksikan secara langsung: filantropi keluarga telah mendorong sejumlah solusi paling berani dan penelitian paling inovatif saat ini. Para pemberi dana ini memiliki posisi yang unik untuk mengambil risiko dan membangun koalisi yang mampu menyelesaikan persoalan besar dan kompleks hingga ke akar permasalahannya," ujar Deepali Khanna, senior vice president dan head of Asia (division) di The Rockefeller Foundation. "Beberapa inisiatif yang paling kami banggakan, seperti Global Energy Alliance for People and Planet, bermula karena lembaga filantropi keluarga bersedia berkomitmen sejak tahap awal dan secara bersama-sama, pada saat tidak ada satu pun institusi yang mampu menjalankannya seorang diri."

Meskipun laporan ini menemukan bahwa keluarga kaya di berbagai belahan dunia memiliki banyak perilaku filantropi yang serupa, laporan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah karakteristik yang membedakan filantropi keluarga di Asia.

  • - Kekayaan di Asia relatif lebih baru: Sekitar 94 persen kekayaan yang dimiliki keluarga-keluarga terkaya di Asia berada di tangan pemilik kekayaan generasi pertama atau kedua, dibandingkan dengan sekitar 85 persen di negara-negara berpendapatan tinggi di luar Asia. Usia kekayaan yang relatif masih baru ini memengaruhi cara kekayaan dimiliki, tingkat keterlibatan keluarga dalam menjalankan bisnis, ketersediaan aset likuid, serta bentuk kegiatan filantropi yang dilakukan.
  • - Keluarga di Asia mempertahankan kendali yang lebih kuat atas bisnis mereka: Sekitar 95 persen keluarga di Asia tetap mempertahankan kendali atas bisnis yang menghasilkan kekayaan mereka, dibandingkan dengan sekitar 68 persen di luar Asia. Ketika kekayaan masih memiliki keterkaitan erat dengan bisnis yang beroperasi secara aktif, keputusan filantropi sering kali berjalan beriringan dengan pertimbangan yang lebih luas, seperti hubungan dengan pemerintah, perencanaan suksesi, dan reputasi.
  • - Keluarga mendanai isu yang sangat serupa di berbagai wilayah: Pendidikan, kesehatan, serta dukungan bagi kelompok yang terpinggirkan dan rentan merupakan beberapa isu utama yang didukung oleh keluarga-keluarga kaya. Di Asia, keluarga lebih cenderung mendukung perawatan lansia, agama, dan olahraga, sementara keluarga dari wilayah lain lebih sering mendanai inisiatif di bidang sains dan teknologi, termasuk yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.
  • - Hanya sedikit keluarga yang melaporkan hasil kegiatan filantropi mereka secara publik: Lebih dari 80 persen keluarga di Asia secara terbuka melaporkan keluaran (outputs) dari kegiatan pemberian dana mereka, seperti jumlah sekolah yang dibangun atau guru yang dilatih, dibandingkan dengan hanya 45 persen keluarga kaya di luar Asia. Namun, pelaporan hasil atau dampak (outcomes), seperti peningkatan hasil belajar atau tingkat kelulusan, masih jarang dilakukan di seluruh kelompok.

Selain mengkaji bagaimana keluarga menyalurkan dana, laporan pendamping berjudul How the World's Wealthiest Families Give mengeksplorasi berbagai pendekatan yang dapat membantu keluarga mengubah sumber daya dan pengaruh yang mereka miliki menjadi dampak yang bermakna dan berkelanjutan:

  1. Mengambil risiko yang tidak dapat atau tidak bersedia diambil oleh pihak lain: Keluarga sering kali memiliki keleluasaan untuk beralih dari pengambilan keputusan ke tahap penerapan lebih cepat dibandingkan lembaga filantropi atau pemberi dana korporasi. Di Singapura, misalnya, Lien Foundation menjalankan upaya selama satu dekade untuk mengembangkan sektor pendidikan dan perkembangan anak usia dini, sebuah bidang yang ketika itu hanya mendapat sedikit dukungan. Upaya berkelanjutan yang dilakukan bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya turut berkontribusi terhadap pengembangan sektor tersebut secara lebih luas dari waktu ke waktu.
  1. Memfasilitasi aksi kolektif: Keluarga yang memiliki hubungan terpercaya di berbagai sektor dapat mempertemukan para pemangku kepentingan yang mungkin tidak akan berkumpul tanpa adanya dorongan tersebut, sehingga berbagai upaya yang sebelumnya terfragmentasi dapat berkembang menjadi tindakan yang terkoordinasi. Pada 2024, Jollibee Group Foundation, yang dipimpin oleh Tony dan Grace Tan Caktiong, bermitra dengan Pemerintah Provinsi Basilan, Zuellig Family Foundation, dan League of Corporate Foundations untuk memperluas program pemberian makanan di sekolah. Secara bersama-sama, kemitraan ini mendukung penyediaan makanan bergizi bagi hampir 25.000 anak di 250 sekolah.
  2. Memobilisasi berbagai jenis modal: Keluarga yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan baik di bidang filantropi maupun investasi dapat memiliki kemampuan untuk mengalihkan modal ke berbagai instrumen dengan lebih sedikit negosiasi eksternal, persetujuan dewan, atau kewajiban fidusia terhadap investor dari luar.

Unduh laporan lengkap:

https://www.bridgespan.org


Tentang The Bridgespan Group

The Bridgespan Group (www.bridgespan.org) adalah organisasi nirlaba global yang berkolaborasi dengan organisasi yang bergerak dalam perubahan sosial, filantropis, dan investor berdampak untuk mewujudkan dunia yang lebih adil dan setara. Layanan Bridgespan mencakup konsultasi dan pemberian nasihat strategis, pencarian serta uji tuntas (due diligence), dan dukungan bagi tim kepemimpinan. Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pekerjaan tersebut kemudian kami kembangkan melalui penelitian orisinal, dengan mengidentifikasi praktik-praktik terbaik dan gagasan-gagasan inovatif untuk dibagikan kepada sektor sosial.

Bridgespan menjalankan kegiatannya dari berbagai lokasi, yaitu Boston, Delhi, Johannesburg, Mumbai, New York, San Francisco, Singapura, dan Washington, DC.



📢 Publisir Berita & Kegiatan Instansi Anda di RiauGreen

Jangkau pembaca luas & terindeks Google News. Pilih paket rilis pers, advertorial, atau kemitraan media.

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top