• Home
  • Bisnis
  • Studi Cushman & Wakefield: AI Diproyeksikan Mendorong Pertumbuhan yang Lebih Kuat dan Meningkatkan Permintaan Real Estat di Seluruh Asia Pasifik

Studi Cushman & Wakefield: AI Diproyeksikan Mendorong Pertumbuhan yang Lebih Kuat dan Meningkatkan Permintaan Real Estat di Seluruh Asia Pasifik

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:03

Analisis berbasis skenario menunjukkan bahwa AI akan mendorong peningkatan permintaan di sektor perkantoran, industri, dan ritel.

HONG KONG SAR – Media OutReach Newswire – 15 Juli 2026 – Kecerdasan buatan (AI) siap mendorong ekspansi ekonomi dan meningkatkan permintaan akan properti komersial di seluruh Asia Pasifik (APAC), alih-alih menggantikannya, menurut sebuah studi oleh Cushman & Wakefield. Analisis bertajuk AI Impact: Regional Insights – Asia Pacific tersebut mencatat bahwa AI akan bertindak sebagai kekuatan positif bersih (net positive) bagi pertumbuhan ekonomi dan permintaan properti seiring dengan penguatan posisi kawasan ini sebagai pusat global untuk produksi, layanan, dan inovasi.

“Ada kesalahpahaman bahwa AI akan mengurangi kebutuhan akan ruang fisik,” kata Dr. Dominic Brown, Head of International Research, APAC & EMEA, Cushman & Wakefield. “Analisis kami menunjukkan hal yang sebaliknya – AI memperluas aktivitas ekonomi dan hal itu pada akhirnya mendorong permintaan yang lebih besar untuk properti di berbagai sektor.”

Analisis APAC ini merupakan bagian dari penilaian global, multi-sektor, dan berbasis skenario dari Cushman & Wakefield mengenai bagaimana adopsi AI dapat membentuk kembali fundamental properti selama dekade berikutnya. Alih-alih mencoba memprediksi bagaimana AI itu sendiri berevolusi, kerangka kerja ini berfokus pada bagaimana perusahaan merespons AI di bawah skenario adopsi, produktivitas, dan monetisasi yang berbeda, serta bagaimana respons tersebut diterjemahkan ke dalam hasil makroekonomi, permintaan ruang, dan dinamika pasar modal. Skenario-skenario ini juga terintegrasi sepenuhnya ke dalam proses perkiraan “House View” Cushman & Wakefield, yang memasukkan faktor makroekonomi yang lebih luas seperti kebijakan moneter, dinamika perdagangan, dan risiko geopolitik.

Empat Skenario, Kisaran Hasil yang Luas

Studi Cushman & Wakefield memodelkan empat skenario berbeda yang mencerminkan jalur yang berbeda untuk adopsi AI, produktivitas, dan hasil pasar tenaga kerja:

  • - Baseline C&W — Adopsi Bertahap (Probabilitas 50%): Peningkatan produktivitas yang moderat mendukung ekspansi ekonomi yang stabil. Permintaan tetap bertahan, dengan pelunakan jangka pendek di sektor-sektor tertentu, seiring AI yang menjadi nilai tambah dari waktu ke waktu.
  • - Ekspansi yang Dipimpin Produktivitas (Probabilitas 15%): Adopsi AI yang cepat mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang kuat. Pertumbuhan permintaan yang luas di seluruh sektor mendukung pertumbuhan sewa dan kenaikan nilai properti.
  • - AI Bust — Resesi Moderat (Probabilitas 25%): Adopsi AI tidak memenuhi harapan, berkontribusi pada penurunan siklus. Permintaan melemah dalam jangka pendek, dengan tingkat kekosongan yang lebih tinggi dan tekanan harga sewa, diikuti oleh pemulihan.
  • - Distopia/Penggantian Tenaga Kerja (Probabilitas 5%): Adopsi AI terbukti lebih banyak menggantikan tenaga kerja daripada yang diperkirakan, menyebabkan pengangguran yang lebih tinggi. Permintaan tetap lemah untuk periode yang lebih lama, dengan tekanan penurunan pada harga sewa dan nilai properti.

Di bawah skenario dasar (baseline), ekonomi APAC diproyeksikan tumbuh sekitar 3-4% setiap tahun hingga tahun 2030, didukung oleh peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI dan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur seperti pusat data (data center) dan energi.

“AI akan menjadi kekuatan kritis dalam mempertahankan kisah pertumbuhan jangka panjang APAC,” kata Dr. Brown. “Ini akan membantu mengimbangi hambatan demografis di beberapa pasar maju sekaligus mempercepat produktivitas di seluruh ekonomi berkembang.”

Meskipun AI akan mengotomatisasi fungsi-fungsi rutin tertentu, studi tersebut menunjukkan bahwa lapangan kerja secara keseluruhan di APAC diperkirakan akan meningkat, dengan proyeksi peningkatan bersih sebesar 58,5 juta pekerjaan antara tahun 2026 dan 2030 di bawah skenario dasar. Namun, pertumbuhan ini kemungkinan akan melambat dari waktu ke waktu seiring dengan matangnya perekonomian, bersamaan dengan pergeseran ke arah pekerjaan berbasis pengetahuan yang bernilai lebih tinggi.

Dampak AI pada Properti

Dari perspektif properti komersial, AI diperkirakan akan menambah permintaan, alih-alih menjadi substitusi ruang, karena output ekonomi dan pembentukan bisnis yang lebih kuat mendorong kebutuhan okupansi yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Ekspansi ini akan disertai dengan perubahan struktural dalam bagaimana ruang digunakan serta strategi investasi yang berkembang. Kelas aset baru, khususnya pusat data, diperkirakan akan menjadi semakin sentral dalam portofolio.

Di bawah skenario dasar, imbal hasil properti inti diproyeksikan stabil di sekitar 10%, didukung oleh pertumbuhan regional yang kuat dan penggerak permintaan yang terus berkembang.

  • - Pasar Perkantoran Bakal Mentransformasi, Bukan Mengganggu

Penyerapan bersih utama (prime net absorption) dari ruang kantor diproyeksikan mencapai 1,035 miliar kaki persegi selama dekade berikutnya di bawah skenario dasar. Permintaan akan semakin condong ke ruang-ruang berkualitas tinggi dan fleksibel di lokasi-lokasi utama, terutama di kota-kota yang kaya akan talenta dan lingkungan yang dirancang untuk kolaborasi serta inovasi. Tren beralih ke kualitas (flight to quality) yang berkelanjutan ini, yang sudah terbukti dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan akan semakin meluas, memperlebar jarak antara bangunan premium dan bangunan kelas bawah.

  • - Logistik dan Pusat Data Memimpin Permintaan yang Didorong AI

Sektor logistik dan industri bersiap menjadi salah satu penerima manfaat utama dari adopsi AI, dengan permintaan yang didorong oleh otomatisasi, pertumbuhan e-commerce, dan meningkatnya kompleksitas rantai pasok. Penyerapan bersih utama diperkirakan mencapai 2,542 miliar kaki persegi pada tahun 2030 di bawah skenario dasar. Di dalam pertumbuhan ini, pusat data muncul sebagai infrastruktur kritis, dengan ketersediaan daya menjadi kendala utama dalam membentuk keputusan pasokan dan investasi.

  • - Ritel Menjadi Lebih Terpolarisasi

Pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat akan mendukung pengeluaran, tetapi pasar ritel diperkirakan akan terpecah menjadi pemenang dan pecundang yang jelas. Segmen ritel kelas atas dan kelas bawah kemungkinan akan berkinerja lebih unggul (outperform), sementara ritel kelas menengah akan menghadapi tantangan struktural, yang mencerminkan lanskap konsumen yang lebih terpolarisasi.

Meskipun prospek keseluruhan positif, terdapat potensi risiko penurunan seperti dorongan produktivitas AI yang lebih lambat dari perkiraan atau gangguan pasar tenaga kerja, yang dapat menghasilkan tingkat kekosongan yang lebih tinggi dan tekanan penurunan pada harga sewa.

“Meskipun kasus dasar bersifat konstruktif, kisaran hasilnya tetap luas. Memahami berbagai skenario yang berbeda sangat penting bagi penyewa maupun investor saat mereka merencanakan dekade berikutnya,” kata Dr. Brown.

Tentang Studi Ini

AI Impact on Commercial Real Estate: The Next 10 Years menggunakan model ekonometrika dan kerangka kerja berbasis skenario yang terintegrasi ke dalam prakiraan House View Cushman & Wakefield. Analisis ini melacak dampak AI melalui rantai transmisi – mulai dari penggerak dasar (regulasi, infrastruktur daya, pengembangan pusat data) melalui adopsi AI dan produktivitas, hasil makroekonomi, permintaan penyewa, dan respons pasar properti. Laporan regional yang mencakup AS, EMEA, dan Asia Pasifik tersedia di cushmanwakefield.com.


Tentang Cushman & Wakefield

Cushman & Wakefield (NYSE: CWK) merupakan salah satu perusahaan penyedia layanan real estat komersial terkemuka di dunia yang melayani pemilik maupun pengguna properti. Perusahaan ini memiliki sekitar 53.000 karyawan yang tersebar di hampir 350 kantor di 60 negara. Di kawasan Tiongkok Raya (Greater China), Cushman & Wakefield mengoperasikan jaringan 23 kantor yang melayani berbagai pasar lokal di seluruh wilayah tersebut.

Pada tahun 2025, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$10,3 miliar dari berbagai layanan intinya, yang meliputi Valuation (Penilaian Properti), Consulting (Konsultasi), Project & Development Services (Layanan Proyek dan Pengembangan), Capital Markets (Pasar Modal), Project & Occupier Services (Layanan Proyek dan Pengguna Properti), Industrial & Logistics (Industri dan Logistik), Retail (Ritel), serta berbagai layanan lainnya.

Berlandaskan filosofi “Better never settles”—keyakinan bahwa selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik—Cushman & Wakefield telah meraih berbagai penghargaan dari industri dan dunia bisnis berkat budaya perusahaan yang diakui secara luas. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi www.cushmanwakefield.com.hk atau ikuti akun resmi Cushman & Wakefield Greater China di LinkedIn (https://www.linkedin.com/company/cushman-&-wakefield-greater-china).



BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top