• Home
  • Kuansing
  • Serai Wangi, Potensi Ekonomi Baru Bagi Warga Kuansing

Serai Wangi, Potensi Ekonomi Baru Bagi Warga Kuansing

Sabtu, 05 Januari 2019 | 15:22
RiauGreen.com
Wabup Kuansing, H Halim saat berkunjung ke perkebunan serai di Medan
TELUKKUANTAN,  RIAUGREEN. COM– Wakil Bupati Kuansing, H Halim melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Utara.  Tepatnya di Batang Kuis, Medan,  Jumat (4/1/19) lalu. 

Disana, Halim mengunjungi tempat penyulingan tanaman serai wangi menjadi minyak. Minyak serai ini bernilai ekonomis tinggi. Selain itu,  minyak serai sudah masuk dalam pasaran ekspor. Sedangkan didalam negeri minyak serai digunakan sebagai bahan baku minyak wangi. 

Menurut Halim,  tanaman serai ini sangat cocok dikembangkan diwilayah Kabupaten Kuansing. Selain mudah dikembangkan biaya perawatan tak begitu ruwet ketimbang tanaman sawit. 

Yang lebih menggiurkan, kata Halim, tanaman serai ini sangat menguntungkan. Sekali tanam untungnya berkali-kali. "Satu hektar bisa menghasilkan sepuluh juta perbulan, " ucapnya. 

Dalam kunjungan itu,  Halim menengok langsung proses penyulingan minyak serai. Ada dua cara penyulingan, katanya.   Penyulingan yang pertama dengan sistim modern alias pabrikan.  

Penyulingan yang kedua dengan cara tradisional. Cara tradisional ini jauh lebih bagus ketimbang pabrikan. Selain berbiaya murah,  penyulingan cara tradisional ini bisa dilakukan masyarakat petani itu sendiri. 

"Pabrikan kurang efesien, terlalu boros,  rendemen kurang masuk. Bagus yang tradisional," kata Halim sembari membedakan cara modern dan tradisional. 

Untuk mendirikan penyulingan tradisional ini biayanya pun tidak terlalu mahal, "Cukup Rp10 juta saja, " katanya. 

Penyulingan cara tradisional ini bisa dilakukan sebanyak enam kali sehari, dengan rincian tiga kali siang dan tiga kali pada malam harinya. Satu kali penyulingan bisa menghasilkan 0,8 kilogram minyak serai. Sedangkan bahan mentah yang dibutuhkan untuk sekali penyulingan sebanyak 100 kilogram serai. 

Sementara harga minyak serai dipasaran saat ini berkisar Rp330 ribu perkilogram. Artinya satu petani yang melakukan penyulingan tradisional saja bisa menghasilkan sekitar Rp1,5 juta perhari.  

"Dengan asumsi, 0,8 kilogram dikalikan enam kali penyulingan sehari maka menghasilkan  4,8 kilogram,  lalu dikalikan Rp330 ribu perkilogram. Jadi satu hari bisa berpenghasilan Rp1,5 juta, kan ," kata Halim. 

Halim berharap agar masyarakat di Kabupaten Kuansing juga melirik tanaman ini sebagai sumber ekonomi baru. Serai ini, kata dia, berpotensi sekali sebagai ekonomi baru di Kuansing. 

"Pasarnya menjanjikan dan harganya juga relatif stabil.  Itu patokannya, " kata Halim. 

Halim sendiri mengaku telah memulai bertanam serai wangi ini. Bahkan dirinya juga menyediakan bibit. Selain bertanam serai,  Halim juga akan membangun sebuah pabrik penyulingan berkapasitas 200 kilogram pertiga jam. 

Pembangunan pabrik itu untuk menjamin ketersediaan pasaran. Supaya masyarakat tidak ragu lagi untuk menanam serai. "Pabriknya akan kita bangun di Teratak,  Kecamatan Sentajo Raya. Secepatnya, " tutup Halim.(hendri)


Loading...
BERITA LAINNYA
Camat HK Puji Kekompakan Warga IKHK Pekanbaru
Senin, 25 Maret 2019 | 21:42
Pemkab Kuansing Segera Bentuk BPBD
Senin, 25 Maret 2019 | 17:46
Mendag RI Tandatangani Prasasti UML Kuansing
Rabu, 20 Maret 2019 | 17:37
Pilkada Kuansing Desember 2020
Selasa, 19 Maret 2019 | 17:32
BERIKAN KOMENTAR
Top