Hasil agregasi asesmen selama beberapa tahun di Singapura dan Malaysia menyoroti kesenjangan keterampilan seiring percepatan adopsi AI.

SINGAPURA – Media OutReach Newswire – Seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai organisasi, data terbaru dari perusahaan intelijen tenaga kerja Epitome Global menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan berpotensi membatasi fase berikutnya dari produktivitas berbasis AI.

Berdasarkan hasil agregasi penilaian keterampilan yang dilakukan di Singapura dan Malaysia antara tahun 2023 hingga 2025, hanya sekitar satu dari lima profesional yang secara konsisten menunjukkan karakteristik yang terkait dengan kesiapan AI, termasuk ketekunan, rasa ingin tahu, dan pembelajaran reflektif.

Temuan ini diambil dari data asesmen yang melibatkan lebih dari 200 peserta dalam program pengembangan tenaga kerja, peningkatan daya kerja, dan program organisasi. Meskipun lebih dari 70% peserta melaporkan memiliki literasi digital tingkat lanjut, kesenjangan keterampilan yang lebih mendalam masih terlihat: sekitar 56% menilai diri mereka berada pada tingkat dasar dalam pengambilan keputusan, dan sekitar 42% hanya memiliki kepercayaan diri dasar dalam pemikiran komputasional—keterampilan yang semakin dibutuhkan untuk mengawasi alat AI, menafsirkan hasilnya, serta mengintegrasikan teknologi ke dalam alur kerja.

Data ini mengindikasikan bahwa ketika alat AI semakin mudah diakses, kesiapan tenaga kerja—bukan ketersediaan teknologi—dapat menjadi hambatan utama terhadap kinerja pada tahun 2026.

“Alat AI berkembang lebih cepat dibanding kesiapan tenaga kerja. Pada fase adopsi berikutnya, pembeda utamanya bukanlah akses terhadap teknologi, melainkan kejelasan tentang apa yang benar-benar dapat dilakukan oleh manusia, bagaimana mereka mengambil keputusan, beradaptasi, dan berkolaborasi dengan sistem berbasis AI,” ungkap Kevin Chan, CEO Epitome Global, dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Lima Tren Dunia Kerja yang Perlu Diperhatikan pada 2026

Berdasarkan temuan ini, Epitome mengidentifikasi lima tren dunia kerja yang diperkirakan akan membentuk organisasi pada tahun 2026:

  • - Disengagement dan penurunan keterampilan sebagai risiko produktivitas dan kinerja yang meningkat: Hanya sekitar 1 dari 5 pekerja yang secara konsisten menunjukkan perilaku yang terkait dengan talenta siap AI, seperti ketekunan, rasa ingin tahu, dan pembelajaran reflektif.

  • - Adopsi AI yang pesat di tempat kerja pada 2025 mengungkap kesenjangan dalam integrasi AI: Meskipun tingkat adopsi tinggi, 65% organisasi di Singapura masih berfokus pada kasus penggunaan AI dasar, yang menyoroti keterbatasan dalam meningkatkan skala dan mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja.

  • - Pekerja di Asia Tenggara dan India beralih dari outsourcing berbasis biaya menuju peran teknis bernilai lebih tinggi: Profesional di pasar seperti Filipina, Vietnam, dan India semakin merambah fungsi teknik, produk, TI, dan ilmu data, sehingga bersaing lebih langsung di pasar talenta global.

  • - Siklus pemutusan dan perekrutan yang semakin intens saat organisasi menyeimbangkan kembali keterampilan: Pada 2026, perusahaan diperkirakan akan terus memangkas peran yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa depan, sembari merekrut secara selektif untuk kemampuan teknis tingkat lanjut dan lintas fungsi.

  • - Daya kerja profesional senior menjadi semakin strategis dalam organisasi berbasis AI: Seiring penuaan populasi Asia, pemberi kerja mulai melihat bagaimana profesional senior dapat berkontribusi sebagai pembawa pengetahuan, peninjau hasil berbantuan AI, serta mentor lintas fungsi.

Seiring organisasi melangkah lebih jauh ke tahun 2026, perbedaan hasil kinerja kemungkinan akan lebih ditentukan bukan oleh jumlah alat AI yang digunakan, melainkan oleh seberapa jelas organisasi memahami, mengukur, dan mengembangkan keterampilan tenaga kerjanya.

Untuk ulasan pasar lengkap, kunjungi: https://epitome.global/

https://epitome.global/
https://www.linkedin.com/company/epitome-global-pte-ltd/'originalSubdomain=sg


Epitome Global

Didirikan pada tahun 2016 dan berkantor pusat di Singapura, Epitome Global adalah perusahaan intelijen tenaga kerja dan analitik keterampilan yang membantu organisasi memahami, mengembangkan, dan mengerahkan talenta dalam ekonomi yang didukung AI. Dengan menggabungkan analitik data, kecerdasan buatan, dan keahlian spesifik sektor, Epitome Global mendukung organisasi sektor publik dan swasta dalam perencanaan tenaga kerja, penilaian keterampilan, serta program peningkatan keterampilan yang terarah.

Dengan sekitar 1,3 juta profil pengguna yang telah dihimpun hingga saat ini, Epitome Global memanfaatkan analitik modal manusia untuk mendukung dasbor dan pengambilan keputusan tenaga kerja bagi perusahaan dan lembaga pemerintah di seluruh dunia. Platformnya memberikan wawasan bagi keputusan terkait mobilitas talenta, pengembangan keterampilan, dan transformasi tenaga kerja dalam skala besar.