BEIJING, CHINA – Media OutReach Newswire – People's Daily telah meluncurkan dua musim serial dokumenter My China Story, yang menampilkan 10 warga asing yang meniti karier mereka di Tiongkok. Musim pertama menghadirkan wirausahawan teknologi Nikk Mitchell, ahli zoologi asal AS Kevin Messenger, perajin keramik AS Matt Watterson, serta perancang sepeda motor asal Argentina Rodrigo Álvarez. Musim kedua yang baru dirilis menyoroti Neil Schmid, pakar studi Buddhisme dan Dunhuang asal AS; Jake Pinnick, pecinta seni bela diri dan Taoisme dari AS; penjelajah gua asal Prancis Jean Bottazzi; serta vlogger Rusia Anton Butov—yang semuanya membagikan perjalanan hidup unik mereka di Tiongkok.
My China Story membuka jendela bagi dunia untuk melihat kehidupan warga asing yang tinggal di berbagai wilayah Tiongkok dengan beragam pilihan karier. Serial dokumenter ini meraih jumlah penonton luar negeri yang signifikan di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, dan X. Di antara seluruh episode, penonton menunjukkan ketertarikan terbesar pada Pinnick, yang lahir pada 1990-an di AS dan datang ke Tiongkok karena obsesinya terhadap seni bela diri Tiongkok dan studi Taoisme. Latar belakang yang kontras ini membuat penonton semakin penasaran mengapa dan bagaimana ia bisa tinggal di Pegunungan Wudang selama lebih dari satu dekade.
Tahun 2025 menjadi tahun yang luar biasa bagi Pinnick. Pada bulan April, ia menerima Kartu Identitas Penduduk Tetap Asing Tiongkok — yang dikenal sebagai “Kartu Bintang Lima” — dan pada bulan Mei, ia dianugerahi gelar Warga Kehormatan Kota Shiyan dalam sebuah upacara peresmian. Penghargaan ini menjadi bukti kuat atas perjalanan satu setengah dekade pendalaman budayanya.
Kisah Pinnick dimulai pada tahun 2010 ketika, terinspirasi oleh film-film kung fu, pemuda berusia 20 tahun itu tiba di kaki Pegunungan Wudang tanpa pengalaman seni bela diri dan tanpa kemampuan berbahasa Mandarin. Ia hanya membawa sebuah kamus dan secarik catatan tulisan tangan bertuliskan, “Saya ingin pergi ke Pegunungan Wudang.” Muncul dari kabut pagi, ia menemukan tujuannya saat pertama kali melihat seorang master memimpin para murid berlatih.
Perjalanan dari murid pemula hingga menjadi seorang master ditempuh melalui disiplin yang keras. Pinnick menguasai Tai Chi dan berbagai teknik senjata. Di balik gerakan fisik, ia juga menyelami inti spiritual Tiongkok dengan mempelajari Tao Te Ching dan belajar memainkan musik Taois. Pada saat-saat terberatnya, ketika dilanda kelelahan dan rasa rindu kampung halaman, “keluarga kung fu”-nyalah yang memberinya kekuatan untuk bertahan.
Selama 16 tahun terakhir, Pinnick tidak hanya mengalami transformasi pribadi, tetapi juga menyaksikan perkembangan pesat Tiongkok. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa dulu untuk mencapai Wudang diperlukan perjalanan kereta lambat menuju Yibin; kini, perjalanan tersebut ditempuh dengan kereta cepat serta bandara yang terus berkembang dan telah melayani pelancong internasional.
Kini, Pinnick berperan sebagai jembatan budaya yang penting. Melalui media sosial dan pertunjukan langsung, ia membagikan kebijaksanaan Wudang kepada audiens global. “Awalnya saya datang untuk seni bela diri,” refleksi Pinnick, “tetapi saya bertahan karena budaya dan sejarahnya.” Berpegang pada filosofi gurunya bahwa “kung fu tidak mengenal batas,” Pinnick terus menunjukkan bahwa seni bela diri bukan tentang konflik, melainkan tentang inklusivitas dan menghubungkan dunia yang beragam.






