BEIJING, CHINA – Media OutReach Newswire – 9 Juli 2026 – Sepuluh tahun setelah putusan arbitrase Laut China Selatan, CGTN menerbitkan sebuah artikel yang mengulas kisah Genglubu, sebuah buku panduan navigasi tulisan tangan yang menjadi pedoman bagi beberapa generasi nelayan dari Provinsi Hainan jauh sebelum hadirnya teknologi GPS. Artikel tersebut menyoroti salah satu bagian sejarah Laut China Selatan yang belum banyak dikenal oleh masyarakat di luar kawasan.
Sebelum ada GPS. Sebelum tersedia prakiraan cuaca. Sebelum navigasi satelit digunakan.
Bagaimana para pelaut Tiongkok selama beberapa generasi mampu menemukan arah mereka saat melintasi Laut China Selatan, salah satu jalur pelayaran tersibuk sekaligus paling menantang di dunia'
Dokumenter terbaru CGTN berjudul Genglubu: Charting the South China Sea berupaya menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah panduan navigasi kuno yang jarang diketahui publik dan diwariskan secara turun-temurun kepada para nelayan di Tanmen, Provinsi Hainan. Genglubu mencatat rute pelayaran, arah kompas, dan jarak tempuh, sehingga membantu para nelayan menavigasi terumbu karang, pulau-pulau, hingga lautan lepas. Dokumenter ini mengikuti kisah para nelayan yang mengarungi lautan, keluarga-keluarga yang menjaga warisan pengetahuan tersebut, serta tradisi maritim yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara dan kawasan lainnya.
Orang-Orang yang Menghidupkan Genglubu
Bagi orang luar, Genglubu tampak seperti kode rahasia. Satu baris yang hanya terdiri atas empat belas karakter Tionghoa dapat memuat satu rute pelayaran secara lengkap, mulai dari titik keberangkatan, arah, tujuan, jarak, hingga perkiraan waktu tempuh.
“Dari generasi ke generasi, para nelayan Hainan mengarungi ombak bukan untuk menguasai lautan, melainkan untuk mencari nafkah darinya.”
Xin Lixue, Kurator Museum Laut China Selatan (Hainan), Tiongkok.
Dokumenter ini mengikuti kisah para nakhoda kapal penangkap ikan berpengalaman yang hidupnya tidak pernah terpisahkan dari laut. Wang Shitao pertama kali melaut pada usia sembilan tahun. Saat berusia dua belas tahun, kapal yang ditumpanginya diterjang topan. Seluruh awak kapal meninggal dunia, sementara Wang selamat setelah berpegangan pada sepotong kayu yang terapung dan hanyut sendirian selama tiga hari. Empat tahun kemudian, badai dahsyat kembali menghantam. Sekali lagi, ia menjadi satu-satunya yang selamat. Meski demikian, setiap kali ia kembali melaut. Di penghujung hidupnya, ketika mengenang puluhan tahun mengarungi Laut China Selatan, ia merangkum perasaannya dengan sederhana.
“Saya mencintai Laut China Selatan. Saya membencinya. Saya merindukannya.”
Wang Shitao, nakhoda kapal penangkap ikan.
Laut menuntut pengorbanan, meskipun pada saat yang sama menjadi sumber penghidupan. Satu badai atau kecelakaan saja dapat merenggut seluruh awak kapal.
“Anak dan saudara laki-laki sebaiknya tidak pernah berlayar di kapal yang sama.”
Wang Shubao, nakhoda kapal penangkap ikan.
Tradisi Maritim yang Menghubungkan Asia
Dokumenter ini menantang anggapan umum bahwa Genglubu hanya berkaitan dengan Laut China Selatan. Penelitian terhadap Genglubu Keluarga Liang menunjukkan adanya rute pelayaran hingga ke Singapura, Malaka, dan Indonesia, yang memperlihatkan bahwa para nelayan Hainan juga berperan dalam perdagangan maritim regional.
“Para nelayan Hainan juga ikut terlibat dalam perdagangan luar negeri.”
Zhao Jueqi, Museum Laut China Selatan (Hainan), Tiongkok.
Tidak semua rute dituliskan dalam bentuk teks. Beberapa manuskrip Genglubu juga memuat peta bergambar gunung dan perairan. Peta-peta tersebut menggabungkan sketsa garis pantai dengan arah kompas, kedalaman air, serta kondisi laut. Gambar-gambar itu membantu para pelaut mengenali pulau, terumbu karang, dan garis pantai, sekaligus menentukan posisi mereka saat berada di laut.
“Amerika Serikat dan Inggris juga membuat catatan navigasi mereka sendiri, yang menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok sangat aktif melakukan kegiatan penangkapan ikan di pulau-pulau tersebut serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.”
Anthony Carty, pakar hukum internasional.
Saat ini, satelit, stasiun pemantau cuaca, dan mercusuar telah mengubah cara navigasi di Laut China Selatan. Namun, tujuannya tetap sama, yakni membantu para pelaut berlayar dengan aman dan kembali ke rumah. Genglubu: Charting the South China Sea menelusuri tradisi maritim yang dibentuk oleh generasi demi generasi masyarakat biasa. Dokumenter ini mengisahkan tentang navigasi, ingatan kolektif, dan ketangguhan—sebuah warisan maritim bersama yang menjadi bagian dari sejarah Asia.
Penerbit sepenuhnya bertanggung jawab atas isi pengumuman ini.