• Home
  • Politik
  • Gaduh PDIP Surabaya Merasa Dipecah Belah Jenderal Polri

Gaduh PDIP Surabaya Merasa Dipecah Belah Jenderal Polri

Sabtu, 21 November 2020 | 12:24
CNN Indonesia
Sejumlah kader PDIP Surabaya membelot dan tak mau mendukung Eri Cahyadi-Armuji di Pilkada Kota Surabaya
RIAUGREEN.COM -- Pilkada Kota Surabaya diwarnai kegaduhan internal PDIP yang mana sejumlah kadernya membelot tak mau mendukung Eri Cahyadi-Armuji. PDIP lantas menuding Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno biang keroknya.

Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat menuduh Machfud Arifin, yang merupakan pensiunan Jenderal Polri, melakukan politik pecah belah atau devide et impera seperti Belanda dulu.

"MA (Machfud Arifin) telah melakukan politik devide et impera ala kolonialisme Belanda," kata Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat, 19 November lalu.

Para kader itu menolak mendukung Eri Cahyadi, tokoh nonpartai yang mendapat restu Megawati. Para kader yang sakit hati tersebut lalu memilih merapat ke barisan Machfud-Mujiaman.

Kader PDIP yang sejauh ini mengambil sikap berlawanan dengan partainya itu adalah Mat Mochtar. Dia merupakan sosok sepuh PDIP di Surabaya.

Kemudian ada kelompok Banteng Ketaton. Terdiri dari kader dan simpatisan PDIP lawas yang juga memilih untuk mendukung Machfud-Mujiaman.

Lalu ada Jagad Hariseno, yang merupakan kakak dari Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana. Jagad dan Whisnu adalah anak dari mantan sekjen PDIP Soetjipto.

Semua kader PDIP yang membelot itu mengaku kecewa karena bukan kader internal yang diusung di Pilkada Kota Surabaya. Diketahui, Eri Cahyadi yang diusung PDIP, bukan kader murni melainkan birokrat Pemkot Surabaya. Belakangan ia baru saja mendaftar sebagai anggota PDIP.

Para kader PDIP itu lebih suka jika Whisnu Sakti Buana yang diusung DPP menjadi calon wali kota Surabaya. Terlebih, Whisnu sudah banyak pengalaman usai dua periode menjadi wakil wali kota Surabaya mendampingi Tri Rismaharini.

Djarot mengatakan, strategi politik pemecah belah selalu dilawan oleh seluruh elemen bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah dan PNI. Cara itu digunakan Belanda untuk mengadu domba masyarakat Indonesia di masa lalu.

"Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya," ujarnya.

Buntut kegaduhan itu, DPP PDIP sendiri telah memecat Mat Mochtar, salah satu kader seniornya yang membelot di Pilkada Surabaya.

"Mat Mochtar telah dipecat. Kalau mengaku anggota partai harus memiliki kesadaran berorganisasi," ucap dia.

Mendapatkan tudingan melakukan politik pecah belah itu, Machfud yang sempat bungkam, akhirnya buka suara. Ia mengibaratkan tuduhan dari PDIP itu seperti gelombang atau ombak surfing yang akan ia jadikan tempat bermain.

"Dalam waktu singkat mendekati pilkada mungkin ada yang panas-panas, saya dibilang ono ini [memecah belah] biarin. Gelombang besar muncul akan saya jadikan surfing, akan saya jadikan tempat bermain-main," kata Machfud, Jumat (20/11).

Meski begitu, mantan Kapolda Jatim ini membantah jika ia disebut telah melakukan devide et impera atau strategi politik pecah belah ala Belanda di tubuh PDIP Surabaya, seperti yang dituduhkan Djarot.

PDIP kata dia adalah organisasi yang besar. Meski demikian hal seperti perpecahan bisa saja tak terelakkan. Ia juga dengan tegas menolak dituding jadi penyebabnya.

"Jangan ada satu rumah tangga yang rusak, terus kami dituduh-tuduh," ucapnya.

Pilkada Surabaya 2020 bakal diikuti oleh dua pasangan calon wali kota dan wakil wali kota. Mereka yakni paslon nomor 1, Eri Cahyadi-Armuji. Dan urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno.

Eri Cahyadi-Armuji diusung oleh PDIP dan didukung oleh PSI serta sejumlah partai non parlemen. Sementara Machfud Arifin-Mujiaman diusung oleh PKS, PKB, PPP, NasDem, Golkar, Demokrat, Gerindra dan PAN.(CNNI)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top