• Home
  • Bisnis
  • Skyro Capai Titik Impas Operasional pada Semester I 2026, Portofolio Tumbuh Hampir Delapan Kali Lipat

Skyro Capai Titik Impas Operasional pada Semester I 2026, Portofolio Tumbuh Hampir Delapan Kali Lipat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 12:14

Grup Pembiayaan Konsumen Digital Catat Laba Operasional Positif pada Semester I 2026, Siap Ekspansi ke GCC dan Asia Tenggara

MANAMA, BAHRAIN / MANILA, FILIPINA - Media OutReach Newswire - 3 Agustus 2026 - Skyro, grup pembiayaan konsumen digital yang berkantor pusat di Bahrain, mencatat laba operasional semesteran pertamanya pada Semester I 2026. Pencapaian tersebut diraih hanya sedikit lebih dari tiga tahun setelah perusahaan memulai operasinya di Filipina pada 2022. Sejak akhir 2023, portofolio kredit Skyro telah tumbuh hampir delapan kali lipat, sementara pendapatannya meningkat tiga kali lipat secara tahunan sejak peluncuran bisnis. Kinerja ini menjadi bekal bagi Skyro untuk memperluas model bisnisnya ke kawasan Gulf Cooperation Council (GCC) dan Asia Tenggara.

Hasil Utama Semester I 2026

  • - Pada enam bulan pertama 2026, Skyro menyalurkan pinjaman senilai hampir 180 juta dolar AS, atau meningkat 1,9 kali dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
  • - Basis pengguna aplikasi Skyro bertambah hingga melampaui 7 juta pengguna.
  • - Hingga akhir kuartal II 2026, Skyro telah membukukan total 2 juta transaksi pinjaman produk melalui infrastruktur point of sale (POS) sejak perusahaan berdiri.
  • - Produk pembiayaan Skyro kini tersedia melalui jaringan lebih dari 3.000 merchant dan sekitar 10.000 lokasi ritel. Jaringan merchant online perusahaan juga berkembang lebih dari lima kali lipat sepanjang 2025.
  • - Perusahaan berhasil membukukan laba operasional positif pada Semester I 2026, yang menjadi periode enam bulan pertama dengan kinerja operasional menguntungkan sejak Skyro didirikan.

"Pada 2022, Filipina menjadi magnet bagi perusahaan rintisan fintech dari seluruh dunia karena adanya kesenjangan yang jelas antara tingginya permintaan terhadap akses kredit dan terbatasnya pasokan pembiayaan," ujar Arsen Liametov, salah satu pendiri Skyro. "Di satu sisi terdapat bank-bank tradisional yang hanya menawarkan pinjaman berbunga rendah kepada kelompok masyarakat paling mampu. Di sisi lain, terdapat pemberi pinjaman jangka pendek (payday lender) yang mengenakan bunga tahunan hingga 400 persen. Kami memilih menempatkan diri di antara kedua ekstrem tersebut dengan menyasar segmen pasar terbesar yang selama ini kurang terlayani, sekaligus membangun model bisnis yang sejak awal dirancang agar dapat diperluas jauh melampaui satu negara."

Skyro menggunakan metode penilaian kredit alternatif berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menilai kelayakan kredit individu yang tidak memiliki riwayat kredit formal. Penilaian tersebut dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor, seperti riwayat belanja daring, data penggunaan ponsel pintar, serta perilaku pengguna di dalam aplikasi. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun profil kredit yang lebih menyeluruh sehingga dapat memberikan pinjaman kepada nasabah yang sebelumnya sulit memperoleh akses pembiayaan dari bank konvensional.

Filipina masih menjadi pasar yang menantang bagi perusahaan fintech pemberi pinjaman internasional karena model penilaian kredit konvensional sering kali tidak mampu mencerminkan kelayakan kredit sebagian besar masyarakat. Melalui pendekatan penilaian kredit berbasis AI, Skyro berhasil menjadi salah satu pengecualian di pasar tersebut.

"Mencapai titik impas operasional merupakan tonggak penting bagi Skyro," kata Liametov. "Pencapaian ini memungkinkan kami mendanai produk-produk yang membutuhkan modal besar seperti SkyroCredit, merencanakan peluncuran berbagai layanan fintech pelengkap, termasuk solusi teknologi investasi dan pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah (UKM), serta memperluas ekspansi ke pasar-pasar baru."

Kini Skyro mulai menerapkan pendekatan yang sama di luar Filipina dengan memperluas kehadirannya di kawasan GCC dan Asia Tenggara. Seiring layanan pinjaman digital terus mengubah pasar-pasar yang masih memiliki regulasi keuangan konservatif, Skyro menargetkan dapat mengulangi pencapaian menuju titik impas dalam waktu tiga tahun melalui platform pembiayaan dan infrastruktur teknologi yang mudah diskalakan.

Di berbagai pasar tersebut, masih banyak masyarakat maupun pelaku usaha kecil yang belum terhubung dengan sistem keuangan formal. Kondisi inilah yang menjadi dasar strategi pertumbuhan Skyro. Seiring meningkatnya digitalisasi di pasar-pasar berkembang, perusahaan pembiayaan yang mampu berintegrasi dengan infrastruktur keuangan yang sudah ada, alih-alih membangun sistem baru yang bersaing secara langsung, dinilai memiliki peluang terbaik untuk berkembang dalam skala besar.

Laba operasional adalah laba setelah seluruh beban operasional, termasuk beban umum dan administrasi, namun sebelum memperhitungkan keuntungan atau kerugian akibat selisih kurs serta pajak penghasilan. Seluruh angka didasarkan pada laporan keuangan manajemen yang belum diaudit.

Tentang Skyro

Skyro merupakan grup fintech digital dengan pertumbuhan tinggi yang mengedepankan layanan berbasis digital (digital-first) untuk menyediakan akses pembiayaan yang bertanggung jawab dan mudah diperluas di berbagai pasar berkembang yang memiliki potensi tinggi. Didukung teknologi ilmu data milik sendiri, sistem pengambilan keputusan kredit berbasis AI, serta metode penilaian menggunakan data alternatif, Skyro memadukan pengalaman pengguna berbasis perangkat seluler dengan arsitektur fintech modular guna melayani segmen masyarakat yang selama ini kurang terjangkau oleh layanan keuangan formal dalam skala besar.

Pada 2026, jumlah pengguna terdaftar Skyro di Filipina telah mencapai 7 juta orang, didukung oleh portofolio kredit yang kuat dengan nilai melebihi 200 juta dolar AS. Ke depan, perusahaan menargetkan untuk menjadi salah satu penyedia layanan keuangan t



BERITA LAINNYA
Aon Tunjuk Stephen sebagai CEO untuk Indonesia
Selasa, 04 Agustus 2026 | 12:22
BERIKAN KOMENTAR
Top