PELALAWAN, RIAUGEEN.COM – Komitmen PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dalam
mendukung program pemerintah di wilayah operasional kembali diwujudkan
melalui aksi nyata di sektor kesehatan. Perusahaan menyalurkan bantuan
alat ukur antropometri kepada sejumlah Posyandu binaan di Kabupaten
Kuantan Singingi (Kuansing) sebagai bagian dari upaya bersama menekan
angka stunting, yang saat ini masih tergolong tinggi di Provinsi Riau.
Sebagaimana
diketahui, Kuansing termasuk tiga besar daerah dengan angka stunting
tertinggi di Riau. Stunting sendiri merupakan gangguan pertumbuhan dan
perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang,
yang ditandai dengan tinggi badan anak berada di bawah standar usianya.
Kondisi ini umumnya terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan
(HPK) dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya
manusia.
Sebagai
bentuk dukungan konkret, RAPP menyalurkan alat antropometri kepada 20
Posyandu binaan yang tersebar di beberapa kecamatan, yakni empat
Posyandu di Pangean, tiga di Benai, tiga di Kopah Kuantan Tengah, serta
masing-masing satu Posyandu di Sukaraja (Logas Tanah Darat) dan Sentajo
Raya.
Antropometri
sendiri merupakan metode pengukuran dimensi fisik tubuh manusia,
seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, serta komposisi
jaringan tubuh. Pengukuran ini penting untuk menilai status gizi,
memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, serta mendeteksi potensi
malnutrisi maupun obesitas secara dini.
Penyerahan
bantuan dilakukan secara simbolis di Puskesmas Kecamatan Pangean,
Pasarbaru Pangean, Kamis (26/2/2026). Alat tersebut diserahkan langsung
oleh Community Development (CD) Head RAPP Feedinand Leohansen Simatupang
kepada Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui Dinas Kesehatan (Diskes)
Kuansing untuk selanjutnya diberikan kepada Posyandu mitra binaan.
Dalam
sambutannya, Feedinand Leohansen Simatupang menegaskan bahwa bantuan
ini bukan hanya sebatas penyerahan alat, melainkan bagian dari
pendekatan bersama dalam penanganan stunting dan peningkatan layanan
kesehatan ibu dan anak. Ia juga mengapresiasi para kader Posyandu yang
selama ini konsisten menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan
ibu dan anak.
"Terima
kasih kepada ibu-ibu yang telah menjadi pejuang bagi kesehatan ibu dan
anak. Posyandu sekarang diupayakan memiliki kader yang lebih muda,
karena yang dilayani juga generasi muda. Dengan pola pikir yang sejalan,
mudah-mudahan layanannya menjadi lebih tepat dan mengena," ucapnya.
Hingga
saat ini, RAPP telah membina sebanyak 66 Posyandu di Kuansing secara
berkelanjutan dengan standar pelayanan tertentu. Namun, untuk bantuan
alat antropometri kali ini, terdapat kriteria yang harus dipenuhi,
termasuk kelengkapan data di Posyandu.
Sementara
itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Diskes Kuansing Asni
menyampaikan apresiasi atas kontribusi RAPP dalam membantu upaya
penurunan stunting di daerah tersebut. Ia juga mengajak seluruh kader
Posyandu untuk proaktif dan serius dalam penanganan stunting, terutama
dari sisi pencegahan sejak remaja putri hingga ibu hamil.
"Terima
kasih RAPP atas dukungannya dalam upaya menurunkan stunting. Kemarin
Kuansing termasuk tiga terbesar. Tahun depan, hendaknya bisa turun.
Apalagi kita mendapat dukungan dari RAPP. Kalau sudah ada anak stunting,
cukup sulit untuk menghilangkannya. Karena itu, harus dilakukan
pencegahan sejak dini, mulai dari remaja putri hingga ibu hamil,"
katanya.
Lebih
lanjut, Asni mengakui angka stunting di Kabupaten Kuantan Singingi
masih tergolong tinggi di Provinsi Riau dan menjadi perhatian serius
pemerintah daerah. Kondisi ini, menurutnya, tidak boleh dianggap biasa
karena berdampak langsung pada kualitas tumbuh kembang anak serta masa
depan generasi penerus. Menurutnya, penanganan stunting memerlukan kerja
bersama dan komitmen yang konsisten dari seluruh pihak.
"Kuansing
masuk dalam kategori tinggi di Provinsi Riau. Kita harus memperhatikan
sasaran yang ada. Sangat penting dilakukannya pendataan yang akurat dan
pemantauan rutin terhadap kondisi gizi anak di setiap desa. Dengan
mengetahui secara jelas keluarga yang berisiko, intervensi dapat
dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” tutupnya.