Tanah Melayu Kembali Bertanjak

Rabu, 18 September 2019 | 15:57
PEKANBARU, RIAUGREEN.COM - Tanah Melayu kembali bertanjak, itulah kalimat atau sebuah tema yang dilakukan oleh Komunitas penggiat seni di bumi lancang kuning Pekanbaru Riau, pada Selasa (18/9/2019 siang.

Beberapa Komunitas di Pekanbaru Riau, lestarikan kostum Melayu ditengah-tengah masyarakat guna untuk mengenalkan kepada masyarakat luas.

Tak bisa dipungkiri bahwa Riau adalah kepunyaan Melayu maka sudah selayaknya putra dan putri Riau bangga dengan kebudayaannya sendiri, sehingga hal itu harus tetap jalan dan dibudayakan seperti yang dilakukan para komunitas tersebut.

Hal itu terpantau oleh wartawan RiauGreen.com lewat akun Facebook pribadi Toy Sagu Butar-butar dan Deni Afriadi.

Deni Afriadi mengatakan, semula diviralkan oleh seseorang di negeri jiran Malaysia. Dan hal itu mendapat respon baik oleh masyarakat Melayu se-Nusantara Dari kabar tersebut, ia sebagai anak jati Melayu yang berada di Riau juga merasa terpanggil untuk turut memeriahkan seruan baik tersebut. Maka dibentuklah sebuah komunitas yang dinamai Serai Serumpun.

"Serai Serumpun ini juga merupakan gabungan dari berbagai komunitas di Pekanbaru. Dari berbagai disiplin ilmu tanpa batas, walaupun dominasinya adalah pegiat kesenian dan kebudayaan. Komunitas ini tidak ada pimpinan. Semua dirasa berhak untuk memberikan pendapat dan masukan yang tujuannya tentang kemelayuan. Agenda dari komunitas ini juga cukup sederhana. Tidak terlalu menohok. Perlahan saja berjalan tapi pasti yang dilakukan," ungkapnya saat dihubungi RiauGreen.com.

Dirinya mengatakan, diantara Komunitas yang tergabung di Serai Serumpun ini juga ada pengggiat tanjak warisan yang mendapat pelatihan dari pelatih Malaysia.

"Selain berpakaian kami juga belajar tentang makna dan filsafah dari berpakaian Melayu dari kawan-kawan yang terlebih dahulu mendapat pelatihan. Pada intinya kami juga belajar.

Dijelas Deni lagi, aksi ini dilakukan bukan untuk bergagah-gagahan tapi sama-sama melestarikan dan mengenalkan ke masyarakat. pihaknya juga datangi masyarakat supaya sama-sama terpanggil.

Komunitas yang dinamai Serai Serumpun itu diantaranya, komunitas yang tergabung, Tanjak Way, Wak Tanjak, Seniman Bertanjak, Svarnadviva Art, Berbeza Art Gallery, Jelaga, Begawai Institute, Sagu Band, Belacan Aromatic, Punca Sebunyi, FIB Unilak, Teater Matan.

Sementara itu hal senada diucap oleh rekannya Toy Sagu, pihaknya sengaja mempublikasikan budaya Melayu lewat kostum yang bernuansa kemelayuan sehingga mereka berfoto lalu foto-foto tersebut diposting baik di Facebook, Instagram dll, dengan tujuan memudayakan budaya melayu yang sudah jarang dilestarikan bahkan sudah mulai pupus.

"Kami lakukan ini atas dasar cinta terhadap Melayu sehingga kami sepakat dengan kawan-kawan untuk membudayakan hal-hal yang berkaitan dengan Melayu," ucap Toy Butar-butar.

Dikatakan Toy lagi, antusias ia bersama rekan-rekannya menggunakan kostum Melayu itu sangat luarbiasa sehingga mereka merasa bangga melestarikannya. Namun tak sampai disitu saja bahkan hal itu semua mata melihat tertuju saat mereka sedang berjalan kaki serombongan.

"Kami berharap hal ini didukung penuh oleh pihak pemprov bahkaan dibuat pergubnya, kami juga berharap kepada pemuda-pemudi khususnya di tanah Melayu tidak enggaan membudayakan tentang kemelayuan," harapnya.

Ditambahnya lagi, dengan kostum Melayu yang mereke kenakan, mereka beramai-ramai menaiki busway lalu berkeliling berjalan kaki di Matahari SKA namun sebelum itu pihaknya sudah melayangkan surat izin kepada pimpinan Matahari SKA, pasalnya selain mereka mengenakan baju Melayu, sepertinya kurang lengkap jika tanpa keris dipinggang atau dipegang bak Sultan Melayu diera dulu, usai itu mereka duduk ngopi sambil di Cafe-cafe dan warung kopi. (usu)

Loading...
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top