HCMC, VIETNAM – Media OutReach Newswire – Selama bertahun-tahun, ESG menempati posisi yang ambigu dalam wacana global. Konsep ini diakui secara luas, sering dibicarakan, namun kerap ditunda—sesuatu yang akan diintegrasikan secara bertahap ketika kondisi memungkinkan. Kini, ambiguitas itu telah hilang. ESG telah menjadi persyaratan mutlak bagi kota, aset, dan investasi yang ingin bertahan di dunia yang berubah dengan cepat.
Menurut penelitian dari Knight Frank, permintaan akan properti berkelanjutan dipimpin secara tegas oleh generasi muda. Mayoritas signifikan responden dalam Next Generation Survey menunjukkan bahwa mereka bersedia membayar hingga 20 persen lebih untuk produk ramah lingkungan. Lebih penting lagi, preferensi ini sudah diterjemahkan ke dalam tindakan: 63 persen milenial telah berinvestasi dalam portofolio berkelanjutan, dibandingkan hanya 35 persen dari generasi Baby Boomer.
Di puncak piramida kekayaan, individu ultra-berkekayaan tinggi menetapkan target eksplisit untuk mengurangi emisi karbon pribadi mereka. Properti, salah satu kelas aset yang paling intensif karbon dan membutuhkan modal besar, berada di bawah tekanan langsung untuk bertransformasi. Pada saat yang sama, investor institusional semakin menekankan hasil sosial, mulai dari kesejahteraan di tempat kerja hingga kesehatan masyarakat yang lebih luas. Aset yang gagal memenuhi ekspektasi ini semakin menghadapi risiko likuiditas.
Dalam konteks ini, ESG kini dipahami secara luas sebagai bentuk future-proofing atau perlindungan untuk masa depan. Seperti kapal besar yang mengubah arah di laut lepas, industri properti global mungkin membutuhkan waktu untuk terlihat mengubah arah. Namun begitu trajektori baru ditetapkan, mereka yang gagal beradaptasi akan pasti tertinggal.
Batasan Keberlanjutan yang Ditempelkan
Namun sebagian besar kota tidak pernah dirancang untuk momen ini. Dibangun untuk kecepatan, kepadatan, dan efisiensi ekonomi, kini mereka kesulitan menyeimbangkan struktur lama dengan tuntutan ESG kontemporer. Respon yang umum dilakukan adalah retrofitting—menambahkan teknologi hijau, meningkatkan efisiensi energi, atau menghadirkan ruang terbuka bila memungkinkan.
Langkah-langkah ini memang diperlukan, tetapi menunjukkan keterbatasan mendasar. ESG, ketika ditempelkan pada model perkotaan yang sudah usang, hanya dapat berjalan sejauh tertentu. Ada batas maksimal seberapa berkelanjutan sebuah kota bisa menjadi jika fondasinya tidak pernah dirancang untuk mendukung visi itu.
Hal ini memunculkan pertanyaan yang lebih radikal: Bagaimana jika ESG bukan sekadar peningkatan, tetapi titik awal' Bagaimana jika sebuah kota dirancang sepenuhnya dari awal dengan keseimbangan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan tata kelola jangka panjang sebagai fondasinya'
Jawaban atas pertanyaan itu muncul, bukan dari Eropa atau Amerika Utara, tetapi dari Vietnam.
Vinhomes Green Paradise dan Konsep “ESG++ dari Dasar”
Di ujung selatan Kota Ho Chi Minh, di mana daratan bertemu laut, Vingroup mengembangkan apa yang dianggap banyak pengamat sebagai salah satu contoh dunia nyata dari model perkotaan generasi berikutnya, Vinhomes Green Paradise.
Ini bukan proyek properti skala besar konvensional dengan fitur keberlanjutan yang ditambahkan di sepanjang jalan. Ini adalah kota yang dibangun sepenuhnya berdasarkan logika ESG, yang mulai disebut beberapa ahli sebagai “ESG++ dari dasar.”
Lokasinya sendiri menceritakan bab pertama dari kisah itu. Vinhomes Green Paradise dibingkai oleh Laut Timur dan ekosistem mangrove luas yang diakui UNESCO sebagai World Biosphere Reserve. Meliputi lebih dari 75.000 hektar, hutan mangrove Can Gio merupakan salah satu aset alam paling penting di Asia Tenggara, berfungsi sebagai penyerap karbon, habitat keanekaragaman hayati, dan sistem pertahanan pesisir alami.
Alih-alih menentang lingkungan ini, proyek ini justru dibentuk olehnya.
Mencakup 2.870 hektar, Vinhomes Green Paradise mempertahankan kepadatan bangunan hanya 16 persen. Sebagian besar lahan didedikasikan untuk ruang hijau dan air. Garis pantai sepanjang 121 kilometer menentukan batas kota dengan laut, sementara di jantung kota terdapat laguna air laut alami seluas 800 hektar, menjadi pusat ekologis dan sipil yang jarang ditemui bahkan di antara kota-kota pesisir paling ambisius di dunia.
Di sini, alam bukan sekadar fasilitas pendukung. Alam adalah infrastruktur.
Kontestan Global untuk Kota Masa Depan
Karena pendekatan yang mendasar ini, Vinhomes Green Paradise semakin dipandang sebagai kontestan kuat dari Asia, sering digambarkan sebagai “permata tersembunyi”, dalam inisiatif global yang mengakui pengembangan perkotaan yang siap untuk masa depan.
Namun, integrasi lingkungan saja tidak mendefinisikan proyek ini. Aspirasi proyek ini sama besarnya pada teknologi, tata kelola, dan pengalaman manusia.
Dirancang sebagai kota pintar terpadu sepenuhnya, Vinhomes Green Paradise menerapkan IoT, big data, dan kecerdasan buatan dalam manajemen perkotaan, operasional, dan pemantauan lingkungan. Tujuannya bukan sekadar pertunjukan teknologi, melainkan kota yang beroperasi secara cerdas, efisien, dan transparan, yang mampu menyesuaikan diri secara real time dengan cara orang hidup, bergerak, dan berinteraksi.
Jika lingkungan menjadi fondasi dan teknologi menjadi sistem sarafnya, maka manusia jelas berada di pusat Vinhomes Green Paradise.
Infrastruktur sosial proyek ini direncanakan sebagai ekosistem yang terpadu, bukan sekadar kumpulan fasilitas terpisah. Layanan kesehatan didukung oleh Vinmec, bekerja sama dengan Cleveland Clinic, membawa standar klinis internasional ke dalam kehidupan perkotaan sehari-hari. Pendidikan disediakan melalui Vinschool bersama Brighton College, memastikan kesinambungan dari pendidikan awal hingga sekolah yang diukur secara global.
Visi kota ini melampaui generasi. Hunian senior yang dirancang khusus, tempat budaya, dan ruang publik terintegrasi dengan mulus. Sebuah teater tepi laut seluas tujuh hektar menjadi jangkar budaya, sementara olahraga dan rekreasi ditingkatkan melalui dua lapangan golf kejuaraan 18 lubang yang dirancang oleh firma yang didirikan Tiger Woods dan Robert Trent Jones. Destinasi hiburan dan gaya hidup berskala besar lebih lanjut menjadikan kota ini tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga dinamis.
Menurut Arnaud Ginolin, Managing Director Boston Consulting Group di Vietnam, Vinhomes Green Paradise menggabungkan semua elemen yang dibutuhkan untuk menetapkan tolok ukur global baru, yang menyeimbangkan keberlanjutan dengan dinamisme serta prinsip ESG dengan pengalaman manusia yang holistik.
Pernyataan Vietnam untuk Dunia
Dalam sembilan bulan pertama 2025, Vietnam mencatat lebih dari 58.000 transaksi properti yang berhasil, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Di Hanoi dan Ho Chi Minh City, harga properti residensial primer mencapai rekor tertinggi, menekan peluang dan mendorong investor menuju frontier baru.
Can Gio muncul sebagai salah satu frontier tersebut. Dahulu dipandang sebagai titik buntu geografis, distrik ini kini diposisikan ulang sebagai gerbang strategis Ho Chi Minh City menuju laut. Minat pencarian meningkat tajam, dan aliran modal dari Vietnam utara semakin diarahkan ke selatan.
Infrastruktur menjadi katalisator transformasi ini. Rel kereta cepat yang direncanakan akan menghubungkan pusat Ho Chi Minh City ke Can Gio hanya dalam beberapa menit. Jembatan Can Gio yang telah lama dinanti akan menghilangkan kemacetan yang persisten. Jalur jalan antarwilayah baru, pengembangan pelabuhan, dan kedekatan dengan Bandara Internasional Long Thanh semakin mengintegrasikan wilayah ini ke dalam jaringan perdagangan regional dan global.
Apa yang dulu bersifat perifer kini menjadi strategis.
Di era ketika banyak kota besar dunia berjuang untuk menata ulang diri, Vietnam menawarkan jawaban yang berbeda: Bangun secara berbeda sejak awal. Gunakan ESG bukan sebagai alat korektif, tetapi sebagai fondasi.
Vinhomes Green Paradise dengan demikian menjadi sebuah pernyataan, tentang dari mana ide-ide berikutnya dalam kehidupan perkotaan dapat muncul, dan bagaimana keberlanjutan, kesejahteraan manusia, dan nilai jangka panjang dapat diselaraskan, bukan saling dipertukarkan.
Meskipun percakapan tentang ESG telah lama didominasi oleh ibu kota Barat, salah satu realisasi paling ambisius dari prinsip ini sedang terbentuk di Asia Tenggara, dipandu oleh kemauan untuk memikirkan ulang dasar-dasar kehidupan perkotaan.
Kalau mau, saya bisa gabungkan semua terjemahan sebelumnya menjadi satu artikel lengkap dan rapi tentang Vinhomes Green Paradise dalam versi bahasa Indonesia, siap untuk publikasi atau presentasi.






