- Home
- Dunia
- Kumano Kodo, Hutan Sunyi Nan Asri Yang Asyik Buat Wisata Ziarah
Kumano Kodo, Hutan Sunyi Nan Asri Yang Asyik Buat Wisata Ziarah
Sabtu, 24 Januari 2015 | 09:59:05
RIAUGREEN.COM - Kuil dan air terjun itu terlingkung bukit dan hutan
sunyi. Sejak ratusan tahun lalu, orang berziarah ke sana, mendalami laku
spiritual di tengah kedamaian alam. Itulah Kumano Kodo di Perfektur
Wakayama, Jepang, tempat kita bisa menikmati sisi wajah Jepang yang
teduh, tenang.
Berjalan di tengah hutan sunyi, dengan pohon-pohon
besar dan tinggi, khayalan melayang ke jagat fiksi. Teringat para ronin
yang mengembara, terbayang sosok Musashi sampai Zatoichi. Begitulah
sensasi rasa ketika kami di kuil Seiganto Ji dan air terjun Nachi No
Otaki di kompleks perziarahan Kumahno Kodo, Perfektur Wakayama, Jepang.
Kumano
Kodo merupakan salah satu dari dua tempat perziarahan yang masuk dalam
Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, selain Camino de Santiago di Spanyol.
Nama resmi Kumano Kodo adalah Tempat Suci dan Rute Ziarah di Pegunungan
Kii. Gunung, hutan, air terjun, di sekitar Pegunungan Kii oleh
Pemerintah Jepang dimasukkan sebagai Lanskap Kultural.
Kuil dan
air terjun itu berada di tempat yang jauh dari keriuhan. Tak ada wajah
dan langkah orang bergegas seperti pemandangan Tokyo atau Osaka. Air
terjun setinggi 113 meter, yang mengempaskan air lewat karang-karang
tajam, itu terlihat dari berbagai sudut kompleks peziarahan Kumano Kodo.
Ada dua sudut menarik untuk menikmati air terjun, yaitu dari ketinggian
dan dari bawah. Tempat yang agak tinggi itu adalah dari kuil
Seigato-Ji. Dari sini, air terjun itu tampak hanya sepelemparan batu.
Deras airnya tampak jelas meski terpisah jarak sekitar 700 meter.
Dari
bawah kita bisa menuruni bukit. Dari kuil itu kita sebenarnya bisa
berjalan kaki. Namun, karena memburu waktu, Japan National Tourism Board
yang mengajak kami meminta kami naik mobil mendekati lokasi titik jatuh
air terjun. Cukup sekitar 10 menit bermobil berkelok menuruni bukit
menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer. Turun mobil, kita mendaki
menyusuri hutan sunyi menapaki jalan berbatu, dan sampai juga kaki
menapak ke depan air terjun. Percikan air menitik di wajah.
Selebaran
wisata menyebut Nachi No Otaki sebagai air terjun yang mistis, wingit.
Air terjun, kuil Seigato Ji, dan sejumlah kuil keramat lain dianggap
sebagai bangunan suci. Bangunan itu adalah Hongu Taisha, Hayatama
Taisha, dan Nachi Taisha.
Tempat-tempat tersebut menjadi tujuan
ziarah, laku spiritual bagi para penganut kepercayaan Shinto sejak lebih
dari seribu tahun silam. Mereka percaya, di tempat-tempat seperti air
terjun serta hutan di sekitarnya bersemayam para kami atau roh serta
para Dewa. Ada kepercayaan roh-roh bersemayam di gunung-gunung tinggi
itu karena dekat dengan surga. Ketika seseorang meninggal, jiwanya akan
mendaki gunung dalam perjalanan menuju surga.
Di salah satu
tempat suci itu ada tempat mengucap doa. Mayumi Toyota, pemandu yang
memandu kami di Wakayama, membimbing kami untuk memberi donasi di tempat
yang disediakan di depan kuil. Terserah berapa nilai nominal koin yang
kita masukkan dalam kotak itu. Tapi, disarankan koin 5 yen atau goe
dalam bahasa Jepang.
KOMPAS/FRANS SARTONO Kuil Seiganto Ji dan air terjun Nachi No Otaki di kompleks peziarahan Kumano Kodo, Perfektur Wakayama, Jepang.
Setelah itu, kita diminta membunyikan bel dengan cara menarik tali
tambang, lantas kita harus membungkukkan badan dua kali, dan mengucap
doa. Kemudian kembali membungkuk sekali saja. Selesai sudah ritual
singkat tersebut.
Senyum dan ramah
Tempat-tempat
suci itu menjadikan lingkungan ekologis di sekitarnya makin
terpelihara. Hutan teduh itu ditumbuhi pohon cemara, koniferus
(Pinophyta) cedar, sampai ceri. Ada pohon-pohon tua yang berusia sekitar
500 tahunan. Seperti diketahui, Jepang termasuk negeri yang cukup tebal
diselimuti hutan, yaitu 67 persen dari total wilayah darat. Bandingkan
dengan Indonesia yang wilayah hutannya "hanya" meliputi 46,46 persen
dari kawasan daratnya.
Keragaman hayati yang menyatu dengan
situs-situs arkeologis menjadi tempat ziarah bagi para penganutnya.
Sekaligus menjadi tempat wisata bagi wisatawan. Sekitar 15 juta
wisatawan per tahun datang ke kawasan tersebut.
Dalam selebaran
wisata ada sejumlah saran bagi orang memasuki wilayah peziarahan. Selain
soal menjaga lingkungan dan untuk tetap berada di jalur peziarahan,
peziarah ataupun wisatawan diminta untuk "saling menyapa dengan senyum
dan ramah".
Mungkin sikap ramah sudah menyatu antara alam dan
warga Jepang. Rombongan peziarah yang antara lain terdiri atas kaum
sepuh melintas berjalan dengan tongkat bambu penahan jalan mendaki atau
menurun. Setiap berpapasan dengan siapa pun, mereka menyapa ramah,
seramah alam hijau dan segar.
Editor : Hafiz
BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR