JAKARTA, RIAUGREEN.COM – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas bersama
Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan Pemerintah Inggris
melalui Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO) secara resmi
menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan empat lembaga
penerima manfaat untuk implementasi Proyek Low Carbon Development
Initiative-Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) di Jakarta (14/4).
Kerja
sama ini merupakan bagian dari Kemitraan Strategis Indonesia–Inggris,
yang mencerminkan komitmen bersama kedua negara dalam mendukung
prioritas pembangunan nasional Indonesia melalui pendekatan berbasis
bukti, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui LCDI‑ITF, kemitraan
strategis tersebut diterjemahkan ke dalam aksi nyata dengan mendorong
pembiayaan inovatif, penguatan kelembagaan, serta percepatan solusi
iklim yang dapat direplikasi.
Penandatanganan perjanjian kerja
sama ini menandai dimulainya pendanaan bagi empat proyek inovatif yang
terpilih untuk mendorong solusi teknologi rendah karbon di berbagai
wilayah Indonesia.
“Proyek LCDI-ITF menjadi instrumen penting
untuk menguji solusi baru dan mempercepat aksi iklim di tingkat tapak.
Pendanaan inovatif ini adalah enabler vital untuk menjembatani kebutuhan
pembiayaan iklim nasional yang diperkirakan mencapai Rp794,6 triliun
per tahun hingga 2060,” ujar Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan
Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo.
Inisiatif
ini bertujuan mengidentifikasi dan mereplikasi solusi teknologi yang
berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca sekaligus memacu
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Selain itu, inisiatif ini dapat
mendukung Trisula Pembangunan, yaitu peningkatan produktivitas dan
penciptaan manfaat nilai tambah ekonomi untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas SDM,
serta perwujudan berbagai peta jalan nasional, seperti Peta Jalan
Ekonomi Sirkular untuk mendorong efisiensi sumber daya, Peta Jalan
Ekonomi Biru guna mendorong produktivitas komoditas budidaya bernilai
tambah tinggi, seperti udang, Peta Jalan Hilirisasi Rempah dengan
meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan melalui teknologi, serta
Kebijakan Pengembangan Pertanian Regeneratif melalui peningkatan
produktivitas berbasis teknologi sekaligus mengurangi emisi.
Melalui
proses seleksi ketat dari 283 proposal yang masuk dengan total nilai
pengajuan mencapai Rp1,59 triliun, telah ditetapkan empat proyek pada
tahap awal ini yang akan menerima pendanaan sebesar Rp20,33 miliar yang
mencakup berbagai sektor strategis, antara lain pengelolaan sampah
berbasis ekonomi sirkular, budidaya udang cerdas iklim berbasis energi
surya, pengolahan rempah berkelanjutan, serta dekarbonisasi pertanian
padi di berbagai wilayah Indonesia. Pendanaan ini diharapkan tidak hanya
mendorong implementasi proyek-proyek inovatif di tingkat tapak, tetapi
juga menghasilkan model yang dapat direplikasi secara luas untuk
memperkuat kontribusi Indonesia dalam pencapaian target penurunan emisi
gas rumah kaca.
Empat proyek yang menerima pendanaan ini adalah
Pengelolaan Sampah pada Bidang Teknologi Maggot dan Ayam ALOPE oleh
Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, menargetkan pengolahan
12.840 ton sampah organik per tahun; Budidaya Udang Cerdas Iklim pada
Bidang Sistem Budidaya Berbasis Energi Surya oleh PT Venambak Kail
Dipantara di Nusa Tenggara Barat yang lebih signifikan menurunkan emisi
dibanding metode konvensional; Pengolahan Rempah Berkelanjutan pada
Inovasi SIRKULA oleh PT Sinar Hijau Ventures di Maluku yang memanfaatkan
limbah biomassa; serta Dekarbonisasi Pertanian Padi pada Bidang
Teknologi Advanced AWD oleh PT Jejak Enviro Teknologi di Jawa Barat yang
berpotensi menurunkan emisi hingga 90% dan meningkatkan produktivitas.
Proyek
ini menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mengedepankan
sinergi antara kebijakan, pendanaan inovatif, dan kemitraan multipihak
dalam mendorong pembangunan rendah karbon yang inklusif dan
berkelanjutan, serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam upaya global
menghadapi perubahan iklim.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya
Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas menegaskan bahwa pembangunan rendah
karbon adalah pilar utama transformasi menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Hingga tahun 2024, Indonesia telah mencatatkan potensi penurunan emisi
gas rumah kaca sebesar 30,36% melalui lebih dari 29.000 aksi lintas
sektor.
Peter Rajadiston, Minister Counsellor (Development)
Kedutaan Besar Inggris, menambahkan bahwa Inggris bangga mendukung
ambisi iklim Indonesia melalui inovasi dan kolaborasi multipihak yang
inklusif. Beliau menekankan pentingnya manfaat sosial bagi kelompok
rentan, perempuan, dan masyarakat lokal dalam setiap solusi iklim serta
pentingnya memastikan bahwa inovasi yang diuji dapat menghasilkan
pembelajaran yang kuat untuk mendukung implementasi pada skala yang
lebih besar.
“Kami melihat bahwa solusi iklim yang efektif harus
mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu,
LCDI-ITF mendorong pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada
penurunan emisi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan, penciptaan
lapangan kerja hijau, serta penguatan ketahanan komunitas,” tambah Peter
Rajadiston.
Direktur Utama BPDLH, Dr. Joko Tri Haryanto, turut
menekankan bahwa penyaluran dana dilakukan dengan pendekatan
result-based financing. Pencairan dana akan dibagi dalam tiga tahap
(20%, 60%, dan 20%) berdasarkan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
yang telah disepakati.
“BPDLH memastikan setiap rupiah yang
disalurkan harus menghasilkan dampak nyata pada kualitas lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat. Pembelajaran dari tahap pertama juga kami
gunakan untuk menyempurnakan seleksi pada tahap kedua mendatang guna
memastikan dampak yang lebih optimal,” jelas Joko Tri Haryanto.
Kerja
sama ini diharapkan tidak hanya menjadi model percontohan yang dapat
direplikasi di seluruh Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi
Indonesia dalam upaya global menghadapi tantangan perubahan iklim
melalui aksi nyata di tingkat lokal, serta memastikan bahwa inovasi yang
berhasil dapat ditransformasikan menjadi kebijakan dan investasi yang
berdampak sistemik.