• Home
  • Meranti
  • Mutiara Hijau, Harta Tersembunyi yang Mendunia
SAGU MERANTI

Mutiara Hijau, Harta Tersembunyi yang Mendunia

Senin, 03 Juli 2023 | 16:07
Meranti, Riaugreen.com - Kepulauan Meranti adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia, yang beribu kota di Selatpanjang. Jumlah penduduknya berjumlah 217.607 jiwa (2023), dengan luas wilayah 3.707,84 km persegi. Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari Pulau Tebing Tinggi, Pulau Padang, Pulau Merbau, Pulau Rangsang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau Paning, Pulau Dedap, Pulau Berembang, Pulau Burung. Adapun nama Meranti merupakan gabungan nama dari Pulau Merbau, Pulau Rangsang, dan Pulau Tebing Tinggi.Kepulauan Meranti sangat potensial berfungsi sebagai gerbang lintas batas negara/pintu gerbang internasional yang menghubungkan Riau daratan dengan negara tetangga melalui jalur laut. Hal ini untuk melengkapi kota Dumai yang terlebih dulu ditetapkan dan berfungsi sebagai kota Pusat Kegiatan Strategis Negara yang berfungsi sebagai beranda depan negara, pintu gerbang internasional, niaga dan industri.

Salah satu daerah terluar di Indonesia, Kepulauan Meranti tidak bisa dipandang sebelah mata, karena banyak kekayaan didalamnya. Salah satunya yaitu Sagu,”Mutiara hijau, harta tersembunyi dipulau terluar yang mendunia”. Mengapa demikian, karena sagu merupakan kekayaan daerah yang dimiliki Kepulauan Meranti karena bukan hanya terbesar di Indonesia Kekayaan Sagu di Meranti Merupakan penghasil produksi industri terbesar di dunia. Bukan tanpa alasan mengapa meranti merupakan produksi industri sagu terbesar Indonesia, karena Meranti merupakan daerah pertama yang mengindustrikan sagu, bahkan perusahaan pertama yang berdiri di Indonesia dalam memproduksikan industri sagu berada di Kabupaten Kepulauan Meranti. Selain itu sagu di meranti sudah tertata sejak lama bahkan kebunnya pun terawat karena memang untuk diperjual belikan hasil industrinya, sedangkan didaerah lain seperti papua, maluku dan lain sebagainya, dulunya sagu hanyalah hutan yang dimanfaatkan masyarakatntya hanya untuk kebutuhan hidup mereka bukan untuk diperjual belikan.

Di Kabupaten Kepulauan Meranti ditemukan tiga aksesi sagu, yakni sagu duri, sagu tidak berduri (sagu bemban), dan sagu berduri panjang ( sagu sangka). Jenis sagu yang paling luas penyebarannya dan banyak ditanam petani yakni sagu duri. Seperti halnya di desa sungai tohor dan desa Tanjung Darul Takzim Kepulauan Meranti. Sepanjang luas perkebunan sagu di dominasi oleh sagu berduri dengan tinggi tanaman 16.26 m, panjang batang bebas daun 9.37 m, lebar pelepah, 9.01 cm, panjang pelepah 15.09 cm dan bobot pati basah per pohon mencapai 368.79 kg.

Dari data yang didapatkan, setiap daerah di Kepulauan Meranti secara merata menghasilkan produksi industri sagu. Sebagian masyarakatnya pun mendedikasikan dirinya sebagai petani sagu. Tidak main main, dari 9 kecamatan di Meranti masing masing berhasil memiliki lahan yang luas dan hasil yang sangat besar. Dari Data Tetap (ATAP) yang didapat dari Dinas ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan meranti, Zulkipli SP, M.Si, selaku kabid Perkebunan menjelaskan bahwa tiap tahunnya produksi industri sagu di Meranti terus meningkat, dari 9 kecamatan di Meranti, kecamatan Tebing Tinggi Timur merupakan penghasil sagu terbesar di Kepulauan Meranti  dengan jumlah lahan 16.684 hektar dan menghasilkan produksi pati sagu lebih kurang sekitar 94.494,448 ton/tahun. Selain itu lahan sagu di Meranti yang sudah menghasilkan sekitar 29.285 hektar dan ini hanya dari lahan masyarakat. Jika dijumlahkan dari lahan yang belum menghasilkan dan yang sudah menghasilkan seluas 40.826 hektar dibanding data sebelumnya hanya sekitar lebih kurang 39.494 hektar. Jadi, dari data tersebut sudah dipastikan produksi sagu yang berupa pati mengalami kenaikan.

Berikut data luas perkebunan sagu dan hasil produksinya :

LUAS AREAL, JUMLAH PETANI DAN PRODUKSI/ PRODUKTIVITAS PERKEBUNAN
DI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI
ANGKA TETAP (ATAP) 
1. Tebing Tinggi 381 Hektar, Produksi 3,296.793 Ton/th                  
2. T. Tinggi barat 9,021 Hektar, Produksi 71,749.027 Ton/th                                      
3. Rangsang 523 Hektar, Produksi 3,716.174 Ton/th                                  
4. Rangsang Barat 255 Hektar, Produksi 1,979.565 Ton/th                                       
5. Merbau 5,371 Hektar, Produksi 31,712.476 Ton/th                                     
6. T. Tinggi Timur 16,684 Hektar, Produksi 94,494.448 Ton/th                                      
7. Pulau Merbau 2,147 Hektar, Produksi 11,527.538 Ton/th                                     
8. Rangsang Pesisir 2,355 Hektar, Produksi 17,908.055 Ton/th                                      
9. Tasik Putri Puyu 3,549 Hektar, Produksi 30,270.438 Ton/th                                    
   JUMLAH 40,286 Hektar, Produksi 266,654.514 Ton/th

Dari data tersebut menjelaskan bahwa jumlah luas perkebunan sagu di meranti seluass 40,268 hektar, sedangkan hasil produksi industri nya mencapai 266,654,514 Ton/th. Dan Kepulauan Meranti termasuk salah satu Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional karena menjadi penghasil sagu terbesar di Indonesia, selain Papua dan Maluku. Luas area tanaman sagu di Kepulauan Meranti sekitar 44,657 hektare dan merupakan 2,98 persen luas tanaman sagu nasional.

Dalam proses dan tahapan pengembangan sagu di Meranti, Pemerintah daerah pun tidak hanya berdiam diri, dalam mewujudkan kepulauan meranti yang unggul dalam sector ketahanan pangan, pemerintah daerah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian terus saja melakukan pengembangan dalam hal ini menjemput bola kepusat agar lebih diperhatikan. Bukan hanya sekedar omongan,  lagi lagi Kepala Bidang Perkebunan Zulkipli menjelaskan bahwa tiap tahunnya Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti berhasil mendapatkan bantuan bibit dari Pemerintah Pusat. Jumlahnya pun fantastis, seperti dilansir dari data Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2023 bahwa mereka membantu bibit untuk petani sagu di meranti sebanyak 12.000 bibit yang sudah disalurkan. Kabid Perkebunan Zulkipli menyampaikan bantuan bibit ini mengunakan anggaran dana APBN lewat Direktorat Jendral Perkebunan. Pada tahun 2022 Meranti mendapatkan bantuan 12.000 bibit dan pada tahun 2023 ini juga mendapatkan 12.000 bibit. 

PENANGKAR
Selain produksi industry sagu terbesar di Indonesia, Kepulauan Meranti pun memiliki bibit sagu terbaik.salah satunya penyedia bibit sagu yang sudah mendapatkan izin usaha produksi benih dengan Nomor : 503/BP2T/izin-kbn/20, ini menyediakan bibit unggulan , jenis bibit sagu yaitu sagu berduri, daun bercabang 5, berat diatas 1 kilo bahkan mencapai 4 sampai 6 kg, akar bibit pun mencapai 17 cm. secara spesifikasi bibit sagu, bibit sagu di meranti dikategorikan bibit unggul yang siap ditanam oleh petani sagu dikepulauan meranti karena spesifikasi bibit di atas rata rata.

SAGU SEBAGAI INDIKASI GEOGRAFIS
Pada tahun 2022 pemerintah kepulauan meranti meraih sertifikat indikasi geografis di bidang perkebunan sagu  oleh kepala kantor wilayah Kementerian Hukum dan Ham Riau. Sertifikat Indikasi Geografis sendiri merupakan cabang kekayaan intelektual yang kepemilikannya bersifat kelompok. Kemudian, menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan. Dengan adanya Indikasi Geografis ini maka akan memperjelas identifikasi produk, standar produksi identifikasi produk  dan standar produksi memberikan perlindungan konsumen dan produsen dari penyalahgunaan reputasi produk indikasi geografis. Tentunya dengan menerima sertifikat ini  akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi petani sagu, salah satunya dengan perlindungan kekayaan intelektual, terutama yang bersifat komunal.


INDUSTRI TURUNAN
Perkebunan sagu telah menjadi sumber penghasilan utama hampir 20 persen masyarakat Meranti. Sagu dari Kepulauan Meranti, Riau. Sudah banyak diolah untuk bahan pembuatan kuliner. Selain kuliner sagu di meranti yang sudah memecahkan rekor muri pada tahun 2016 atas olahan menu makanan dan minuman yang berbahan baku sagu terbanyak di Indonesia. Tepung sagu merupakan salah satu bahan pangan sumber daya lokal yang memiliki potensi dikembangkan sebagai alternatif bahan pangan utama. Dengan konten pati yang cukup tinggi, produktivitas tanaman sagu dapat mencapai 6,25 – 7,5 ton pati/Ha/tahun, dengan asumsi pohon sagu yang dipanen hanya sebanyak 25 pohon sagu/Ha. Dengan demikian, potensi pati yang bisa dimanfaatkan bisa mencapai 41,25 Juta ton pati sagu/tahun. Pati sagu juga memiliki keunggulan dari sisi kesehatan yaitu gluten free, low glycemic index, dan high resistance starch content, sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes. Pemanfaatan sagu dapat mendukung ketahanan pangan, mengingat ketersediaan sagu yang melimpah, sehingga dapat disimpan untuk waktu panjang, baik berupa produk pati maupun tanaman hidup. Sagu juga dapat dikembangkan untuk pasar ekspor melalui produk-produk turunannya. Penggunaan sagu sebagai bahan baku produk pangan sangat luas, di antaranya beras analog, mi instan, dan pemanis. Selain itu, sagu juga dapat dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol, biogas dan plastik biodegradable. Langkah-langkah yang dapat digunakan untuk mengembangkan industri sagu antara lain penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan infrastruktur, kegiatan promosi, dan menarik investor baru. Direktorat Jenderal Industri Agro telah menyusun rencana aksi pengembangan industri sagu tahun 2023. Fokus rencana aksi dimulai dengan penyusunan pohon industri sagu, pemetaan produksi sagu dan pati sagu, pemetaan potensi kebutuhan sagu, hingga promosi investasi.Selain itu potensi pemanfaatan dikutip dari tulisan prof. Dr.Ir H. M. H. Bintaro Djoefrie, M.Agr, menjelaskan bahwa potensi sagu sebagai sumber pangan, potensi sagu sebagai sumber gula cair,potensi sagu sebagai energy. Pemanfaatan pati sagu pun dalam perolehan gula kembali dari ampas sagu untuk fermentasi etanolmasker wajah dan asetilasi dari pati sagu untuk pembuatan film yang bisa dimakan. Limbah dari sagu pun bisa di manfaatkan sebagai media tanam dan pupuk organic, sebagai pangan ternak, sebagai Biopestisida, sebagai penyerap suara, kerajinan tangan, dan sebagai media tumbuh ulat sagu dan jamur. Jadi bisa disebutkan bahwa apapun makanan dan minuman serta produk baik di Indonesia maupun Luar negeri bahan asalnya dari Sagu Kepulauan Meranti. (Her)

BERITA LAINNYA
Organisasi PBBM Kepulauan Meranti Terbentuk
Sabtu, 21 Desember 2024 | 20:37
Petugas Geledah Blok Tahanan Wanita Selatpanjang
Selasa, 03 Desember 2024 | 16:27
APBD Kebupaten Meranti 2025 Capai Rp1,3 Triliun
Minggu, 24 November 2024 | 11:36
BERIKAN KOMENTAR
Buy twitter verification Buy Facebook verification Buy Tiktok verification SMM Panel
Top