FOSHAN, CHINA – Media OutReach Newswire – 31 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya para pelancong global mencari destinasi yang semakin beragam, Tiongkok muncul sebagai salah satu pilihan utama. Pada kuartal pertama tahun 2026, negara tersebut mencatat 21,33 juta pemeriksaan keluar-masuk perbatasan yang melibatkan wisatawan internasional. Di antara beragam destinasi yang tersebar di negeri yang luas ini, desa-desa di Tiongkok telah menjadi daya tarik tersendiri. Untuk menjelajahi permata-permata tersembunyi tersebut, CGTN menghadirkan Village Voyage, sebuah serial yang mengikuti pembawa acara asal Amerika Serikat, Julian Waghann, dan pelancong asal Namibia, Absalom Absalom, menjelajahi desa-desa di Provinsi Guangdong yang terletak di Delta Sungai Mutiara, di sebelah utara Hong Kong. Bagi Absalom, perjalanan ini menawarkan sebuah model yang menurutnya dapat ditiru tentang bagaimana desa-desa dapat berkembang tanpa kehilangan “jiwa” mereka.
Balai Leluhur dan Para Cendekiawan yang Tak Pernah Pergi
Di Desa Yang'e, Distrik Shunde, Guangdong bagian selatan, Julian dan Absalom memasuki ruang budaya sebuah komunitas yang dulunya merupakan Balai Leluhur Lu, tempat cendekiawan Lu Cang mendirikan sebuah akademi setelah pensiun dari jabatannya. Meski merupakan desa kecil, tempat ini pernah melahirkan 14 sarjana jinshi sipil dan militer pada masa Dinasti Ming (1368–1644) dan Dinasti Qing (1644–1911), mencerminkan penghormatan yang telah lama dijunjung tinggi terhadap pendidikan. Jinshi merupakan gelar tertinggi dan paling bergengsi dalam sistem ujian pegawai negeri kekaisaran Tiongkok, yang diberikan kepada mereka yang berhasil lulus ujian akhir yang diselenggarakan oleh istana.
Namun, warisan hidup desa ini tidak hanya terbatas pada dunia pendidikan. Di sini, tarian singa yang merupakan warisan budaya takbenda diwariskan dari para maestro senior kepada generasi muda. “Jika mereka ingin belajar, kami hanya menyediakan kesempatan bagi anak-anak untuk mempelajarinya,” kata pelatih tari singa Feng Jianhua. “Dengan begitu, mereka dapat melanjutkan budaya kami yang telah berusia ribuan tahun.”
Desa yang Melahirkan Warisan Kung Fu Dunia
Tidak banyak yang mengetahui bahwa kampung halaman leluhur Bruce Lee berada di Jun'an, Shunde. Guangdong sejak lama dikenal sebagai pusat seni bela diri Tiongkok bagian selatan. Penduduk setempat bahkan tidak menyapa satu sama lain dengan pertanyaan “Sudah makan'” melainkan “Sudah makan bubur malam'”—sebuah ungkapan yang sebenarnya berarti “Apakah kamu sudah berlatih kung fu'”
Luo Dezhi, pewaris generasi kelima aliran Shaolin Wing Chun sekaligus sesama murid Bruce Lee, telah berlatih selama lebih dari 50 tahun. “Bagi seorang praktisi bela diri, kebajikan adalah yang utama, kemudian tubuh yang kuat,” ujarnya. “Kung fu mewakili budaya tradisional Tiongkok—untuk memperkuat tubuh, melindungi diri sendiri, dan membantu orang lain.”
Emas Lembut dari Jalur Air Pedesaan
Seratus tahun yang lalu, saudagar He Mingshi mengirimkan xiangyunsha—kain kasa Kanton yang diproses dengan gambir dan dikenal sebagai “emas lembut”—dari desa-desa di Shunde menyusuri Delta Sungai Mutiara hingga ke berbagai negara, termasuk Malaysia.
Terdapat pepatah yang mengatakan, “Satu tael emas seharga satu tael sutra.” Kini, kerajinan yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda ini masih dibuat secara manual. “Jauh lebih sulit daripada yang terlihat,” kata Absalom saat mencoba proses pembuatannya. Pewaris kerajinan tersebut, Chen Hongfa, hanya tersenyum sambil mengamati. Dari Shunde di Guangdong, keterampilan tradisional ini terus menjangkau dunia.
Kuliner Kelas Dunia di Tengah Kota-Kota Kecil
Shunde merupakan salah satu dari sedikit Kota Gastronomi UNESCO di dunia. Di dalam Provinsi Guangdong yang terkenal dengan masakan Kanton, Shunde secara luas dianggap sebagai tempat kelahiran kuliner tersebut.
“Sekitar sepuluh tahun lalu, tempat ini diubah menjadi kawasan kuliner,” kata seorang pedagang kulit ikan. Kini, para pengunjung datang untuk menikmati kulit ikan nila Afrika yang renyah, susu goreng dengan resep yang tidak berubah sejak tahun 2002, serta irisan ikan mentah khas Shunde.
“Ini adalah pilihan terbaik yang saya buat tahun ini sejauh ini,” ujar Absalom. “Saya tidak pernah membayangkan bisa mencicipi makanan seperti ini di sebuah desa.”
Lebih dari Sekadar Serial, Sebuah Panduan Perjalanan
Village Voyage lebih dari sekadar program televisi. Serial ini merupakan panduan wisata hidup—sebuah “buku perjalanan” yang memetakan berbagai pesona tersembunyi Shunde melalui rencana perjalanan yang rinci, esai foto yang kaya informasi, dan video berdurasi pendek. Kehadiran serial ini juga melampaui layar televisi melalui vlog para tamu dan rekaman sudut pandang orang pertama (POV), yang membawa penonton langsung ke atas perahu, ke aula latihan kung fu, hingga ke jalan kuliner yang ramai.
Baik bagi pencinta perjalanan dari rumah maupun para pembuat kebijakan, serial ini menawarkan gambaran yang mendalam dan dapat ditiru mengenai pembangunan pedesaan. Baik Anda mencari akar budaya, warisan seni bela diri, kebijaksanaan para saudagar, maupun kehangatan sederhana dari hidangan desa, serial ini menyajikan semuanya melalui ritual keseharian yang tenang: semangkuk bubur, pukulan kung fu yang dilatih saat fajar, dan selembar kain sutra yang dijemur di bawah sinar matahari.
Tiongkok pedesaan yang terbuka dan penuh percaya diri bukanlah peninggalan masa lalu. Tempat itu hanya berjarak satu perjalanan pesawat atau kereta dari Anda.






