Earth Week mempertemukan siswa dan praktisi keberlanjutan melalui 26 lokakarya; berpuncak pada Service and Sustainability Summit untuk mengeksplorasi bagaimana tindakan sejak dini dapat membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
SINGAPURA – Media OutReach Newswire – Perubahan iklim semakin menuntut perubahan perilaku serta tanggung jawab kolektif, dan pendidikan kini memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk bagaimana individu memahami serta merespons tantangan lingkungan sejak usia dini.
Di North London Collegiate School (NLCS) (Singapura), diskusi ini diwujudkan melalui Earth Week tahunan, di mana siswa, pendidik, dan praktisi keberlanjutan berkumpul untuk mengeksplorasi bagaimana pengetahuan dan keterlibatan komunitas dapat berkontribusi pada dampak lingkungan dan sosial yang bermakna.
Diselenggarakan pada 20 hingga 24 April 2026, program selama satu minggu ini berpuncak pada Service and Sustainability Summit, sebuah platform yang dirancang untuk menghubungkan siswa dengan perspektif dunia nyata terkait aksi iklim. Acara ini mempertemukan komunitas sekolah bersama organisasi dan advokat lingkungan, seperti Waterways Watch Society of Singapore, Plastify, dan SPCA Singapore, sehingga menciptakan ruang untuk dialog, refleksi, dan pembelajaran praktis.
Dua seniman ternama dari Malaysia, Lee Oscar dan Celine Tan dari CO2–Karbondioxida, akan memimpin presentasi utama serta lokakarya praktik langsung, di mana siswa dapat menciptakan siluet lanskap Singapura menggunakan kain dari pakaian bekas. Kegiatan ini menjadi cara bermakna untuk merangkai cerita dari setiap pakaian sekaligus menyalurkan kreativitas secara berkelanjutan.
Inisiatif Earth Week mencerminkan kesadaran yang semakin berkembang bahwa pendidikan keberlanjutan harus melampaui sekadar peningkatan kesadaran. Seiring isu lingkungan menjadi semakin kompleks dan mendesak, terdapat penekanan yang lebih besar untuk membekali siswa tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan yang tepat serta bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Selama summit, siswa dapat memilih dari 26 lokakarya yang mencakup pengelolaan limbah, keberlanjutan air, sistem sirkular, dan pengelolaan lingkungan, dengan sesi yang dipandu oleh mitra eksternal, guru, siswa tingkat senior, serta komunitas orang tua. Topik yang diangkat mencakup perjalanan pengelolaan air di Singapura dan sistem daur ulang plastik hingga pengomposan, pertanian perkotaan, dan limbah elektronik, dengan banyak lokakarya yang dirancang secara praktik langsung. Selain itu, siswa juga memimpin inisiatif mereka sendiri, dengan komunitas keberlanjutan sekolah, Greenwave, mendorong berbagai proyek mulai dari kesadaran energi terbarukan hingga dukungan bagi organisasi lingkungan dan kesejahteraan hewan lokal, mencerminkan meningkatnya rasa kepemilikan terhadap isu yang mereka pelajari.
“Sekteolah selalu menjadi tempat membangun pengetahuan, tetapi kini juga harus menjadi tempat di mana nilai-nilai dibentuk dan diuji. Keberlanjutan bukanlah sesuatu yang hanya akan dihadapi siswa di masa depan, melainkan sudah membentuk dunia yang mereka masuki saat ini. Peran kami adalah memberi ruang bagi mereka untuk terlibat sejak dini, berpikir kritis, dan memahami bahwa setiap tindakan mereka, sekecil apa pun, memiliki dampak,” ujar Sophie Davies, Wakil Kepala Sekolah bidang Perlindungan dan Inklusi, NLCS (Singapura).
Service and Sustainability Summit menjadi pusat kegiatan minggu tersebut, menghadirkan sesi keynote, diskusi, serta aktivitas yang dipimpin siswa yang mendorong peserta untuk merefleksikan peran individu dan komunitas dalam membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Bagi banyak siswa, isu lingkungan bisa terasa jauh atau bahkan membingungkan. Program seperti Earth Week dan summit bertujuan untuk membuat tantangan ini lebih nyata dan relevan, sekaligus memastikan setiap siswa merasa memiliki peran. Ini juga tentang inklusi, menciptakan lingkungan di mana berbagai perspektif dihargai, dan siswa dapat membangun kepercayaan diri untuk berkontribusi dalam percakapan yang memengaruhi komunitas dan masa depan mereka,” ujar Agathe Avila, Koordinator Lingkungan dan Keberlanjutan, NLCS (Singapura).
Seiring Singapura terus mendorong agenda keberlanjutannya, inisiatif seperti Earth Week menyoroti peran sekolah dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan pola pikir jangka panjang sejak usia dini. Mengaitkan pembelajaran dengan konteks dunia nyata serta mendorong partisipasi aktif mencerminkan pendekatan pendidikan yang lebih luas—yang tidak hanya mempersiapkan siswa secara akademis, tetapi juga sebagai anggota masyarakat yang sadar dan terlibat.
Pekan ini ditutup dengan pengingat bahwa kemajuan nyata dalam isu lingkungan tidak hanya bergantung pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada individu yang siap bertindak dengan kesadaran dan tujuan yang jelas.
https://nlcssingapore.sg/
https://sg.linkedin.com/school/nlcssg/
https://www.facebook.com/nlcssg/
https://www.instagram.com/nlcs.sing/
Tentang North London Collegiate School (Singapura)
Didirikan pada Agustus 2020, North London Collegiate School (Singapura) adalah sekolah internasional berbasis Inggris yang menawarkan kurikulum NLCS yang berorientasi pada pencapaian akademik tinggi, dilanjutkan dengan International Baccalaureate Middle Years Programme, dan berpuncak pada IB Diploma Programme.
Mengambil inspirasi dari warisan pendidikan selama 175 tahun dari sekolah pendirinya di Inggris, NLCS (Singapura) membina individu agar memiliki rasa ingin tahu intelektual, percaya diri secara sosial, serta berlandaskan nilai empati. Setiap siswa dikenali secara personal, ditantang untuk berkembang, dan diapresiasi melalui kerangka akademik yang ketat, beragam kegiatan ko-kurikuler, serta dukungan pastoral yang luar biasa.
Berlokasi di Depot Road, sekolah ini merupakan bagian dari jaringan global sekolah yang berkomitmen pada keunggulan pendidikan dan pengembangan warga dunia.






