• Home
  • Dunia
  • Bunuh Dua Ilmuwan Iran dengan Racun, Misteri Seputar Operasi Senyap Israel

Bunuh Dua Ilmuwan Iran dengan Racun, Misteri Seputar Operasi Senyap Israel

Jumat, 17 Juni 2022 | 18:21
Kamran Aghmolaei dan ayub entenzeri. ©ResearchGate, Twitter
RIAUGREEN.COM - Keduanya lulusan universitas top di Iran. Mereka masih muda, sehat, dan atletis. Keduanya kemudian jatuh sakit akhir Mei lalu. Hari demi hari kedua ilmuwan muda Iran itu sakit makin parah dan mereka harus dirawat di ruang intensif rumah sakit di dua kota berbeda, berjarak 640 kilometer jauhnya.

Akhirnya keduanya meninggal hanya selang beberapa hari.

Iran meyakini Israel membunuh kedua ilmuwan muda mereka dengan meracuni makanan, kata seorang pejabat Iran dan dua sumber di pemerintahan yang enggan diketahui identitasnya.

Salah satu dari ilmuwan itu adalah Ayub Entezari, insinyur penerbangan yang bekerja untuk pusat penelitian militer dan satu lagi Kamran Aghmolaei adalah seorang geolog.

Misteri kematian mereka kian merebak karena media Israel dan Persia di luar negeri melaporkan Aghamolaei bekerja di fasilitas nuklir Iran di Natanz. Namun sejumlah rekannya membantah dengan mengatakan dia bekerja di perusahaan geologi swasta. The New York Times tidak bisa mengonfirmasi apakah benar Aghamolaei punya hubungan dengan pemerintah atau program senjata.

Dilansir dari laman the New York Times, Senin (13/6), Entenzeri punya gelar doktor di bidang penerbangan dan bekerja untuk proyek yang berkaitan dengan rudal dan turbin pesawat untuk pusat antariksa pemerintah di Kota Yazd, sekitar 627 kilometer sebelah tenggara Ibu Kota Teheran.

Dia mengalami gejala keracunan setelah menghadiri jamuan makan malam di Yazd, kata seorang anggota staf dari pejabat senior Iran. Orang yang mengajak jamuan makan malam itu kini hilang dan aparat tengah mencarinya.

Aghamolaei baru kembali ke Teheran dari perjalanan bisnis di Kota Tabriz ketika dia mengalami gejala mual dan diare yang tiap hari semakin parah sampai akhirnya organ tubuhnya rusak dan dia meninggal, kata seorang temannya.

Jika kematian misterius ini sesuai seperti dugaan Iran, yaitu sudah ditargetkan, maka ini sesuai dengan pola perang rahasia melawan Israel selama ini.

Israel tampaknya menjangkau target mereka dari mulai sosok senior yang terkait program nuklir Iran hingga ke personel militer dan ilmuwan di tingkat muda.

Juru bicara dari kantor perdana menteri Israel menolak berkomentar mengenai dua kematian ilmuwan Iran ini.

Israel selama ini menjalankan operasi senyap untuk mencegah program senjata nuklir Iran, termasuk membunuh para ilmuwan yang terlibat di dalamnya. Mereka juga melancarkan serangan terang-terangan ke lokasi fasilitas militer Iran yang mengembangkan rudal dan pesawat nirawak atau drone.

Iran, sebagai balasan, menargetkan warga Israel di mana pun dan mempersenjatai kelompok milisi untuk melawan Israel, seperti Hizbullah di Libanon.

Selama dua pekan terakhir di Iran, anggota senior pasukan Garda Revousi Sayad Khodayee jadi target dan dibunuh oleh seorang pengendara di Teheran. Seorang insinyur Kementerian Pertahanan tewas dalam serangan pesawat nirawak. Dan anggota senior Garda Revolusi lainnya jatuh mencurigakan dari balkon hingga tewas.

Kemudian dua ilmuwan muda itu menyusul tewas.

Entenzeri, 35 tahun, meninggal pada 31 Mei. Seorang koleganya di pusat penelitian militer tempat dia bekerja mengatakan di media sosial, temannya itu baik-baik saja pada malam sebelum dia jatuh sakit dan media Iran melaporkan tidak ada anggota keluarganya yang ikut sakit meski mereka memakan makanan yang sama.

Gubernur Provinsi Yazd, tempat di mana dia tinggal, memberikan sertifikat ucapan bela sungkawa dan menyebut Entenzeri seorang syahid dan berterima kasih kepada keluarganya yang sudah mengorbankan dia kepada negara. Anggota Dewan Kota Yazd menyebut kematian Entenzeri sebagai "teror biologi."

Sejumlah foto dan video yang dipublikasikan media Iran pada 2019 memperlihatkan Entenzeri sedang menyampaikan presentasi di depan mantan Presiden Hassan Rouhani di Perusahaan Industri Turbin Ghadir, tempat dia bekerja. Pernyataan dari asosiasi alumni universitas tempat dia kuliah mengatakan Entenzeri benar seorang insinyur penerbangan.

Seorang kerabat di Yazd mengatakan di akun Instagramnya, Entenzeri mengaku dia khawatir dengan keselamatan dirinya setelah fotonya dengan Rouhani muncul di media lokal. Foto itu, kata dia kepada kerabatnya, seharusnya bersifat rahasia.

Pejabat Iran juga lebih bungkam atas kematian Aghamolaei, 31 tahun, yang tewas pada 2 Juni.

Satu-satunya pernyataan resmi duka cita adalah berasal dari presiden Universitas Tarbiat Modares yang menyebut dia adalah mahasiswa doktoral di bidang geologi. Pernyataan itu menyebut dia meninggal karena serangan jantung di rumahnya di Izeh, di sebelah selatan Provinsi Khuzestan.

Keluarga kini masih menunggu hasil otopsi dari kantor koroner pemerintah. Seorang temannya mengatakan Aghamolaei tiba-tiba jatuh sakit setelah makan. Namun mengingat kasus ini cukup sensitif, kerabat khawatir hasil otopsi itu tidak akan diberikan kepada mereka.

Source/Merdeka

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top