• Home
  • Dunia
  • Permasalahan Ukraina dan Rusia hingga Ada Ancaman Invasi

Permasalahan Ukraina dan Rusia hingga Ada Ancaman Invasi

Kamis, 27 Januari 2022 | 14:43
net
RIAUGREEN.COM - Permasalahan Ukraina dan Rusia kembali disorot dunia internasional. Baru-baru ini, sekitar 100.000 lebih pasukan Rusia berdatangan ke perbatasan Ukraina sehingga menimbulkan spekulasi akan terjadinya invasi Rusia terhadap Ukraina.

Sejumlah negara termasuk Amerika Serikat turun tangan mengancam Rusia jika benar invasi akan dilakukan. Bahkan AS dan sejumlah negara mengirimkan bantuan berupa peralatan militer ke Ukraina jika benar rencana invasi akan dilakukan.

Permasalahan Ukraina dan Rusia: Pasca Ukraina Merdeka
Dilansir Associated Press dan BBC, negara Ukraina awalnya merupakan bagian dari kekaisaran Rusia selama berabad-abad sebelum menjadi republik Soviet. Pada 1991, Ukraina meraih kemerdekaan saat Uni Soviet bubar.

Ukraina berbatasan dengan Uni Eropa dan Rusia. Negara bekas bagian Uni Soviet tersebut memang punya ikatan sosial dan budaya yang kuat dengan Rusia, termasuk dengan masih digunakannya bahasa Rusia di Ukraina.

Lantaran berbatasan dengan Uni Eropa, Ukraina berkeinginan bergabung. Rusia pun menolak keras langkah tersebut dan meminta Ukraina untuk 'tak pernah bergabung dengan NATO atau North Atlantic Treaty Organization, yang di awal pendiriannya memang bertujuan melawan ancaman ekspansi Rusia pascaperang di Eropa.

Permasalahan Ukraina dan Rusia: Pencaplokan Krimea-Konflik
Hubungan Ukraina dan Rusia memanas sejak Presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yanukovych, menolak perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa demi hubungan yang lebih dekat dengan Moskow. Penolakan itu memicu gelombang protes massa hingga Viktor Yanukovych digulingkan dari jabatannya pada 2014 lalu.

Rusia menanggapi penggulingan tersebut dengan mencaplok Semenanjung Krimea di Ukraina dan mendorong pecahnya sebuah pemberontakan separatis di timur Ukraina.

Saat itu, Ukraina dan Barat menuduh Rusia mengirim pasukan dan senjatanya untuk mendukung pemberontak. Rusia membantahnya dan menuduh orang Rusia yang bergabung dengan separatis adalah sukarelawan.

Dalam pertempuran tersebut, lebih dari 14.000 orang tewas. Donbas, jantung industri di Timur Ukraina, hancur akibat pertempuran tersebut.

Pada 2015, dengan penengah Prancis dan Jerman, Rusia dan Ukraina melakukan perjanjian damai untuk mengakhiri pertempuran skala besar. Namun upaya tersebut gagal mencapai penyelesaian politik. Pertempuran terus berlanjut hingga saat ini.

Awal 2021 lalu, pelanggaran gencatan senjata di timur Ukraina dan konsentrasi pasukan Rusia di dekat Ukraina sempat memicu ketakutan perang antar keduanya. Namun pada April 2021, Rusia kembali menarik sebagian besar pasukannya.

Permasalahan Ukraina dan Rusia: Ancaman Invasi
Dilansir AFP, Ukraina dan negara-negara Barat menuduh Rusia mengumpulkan puluhan ribu tentaranya di perbatasan Ukraina sebagai bentuk persiapan kemungkinan invasi

Selain mengerahkan puluhan ribu tentaranya, Rusia juga mengerahkan sejumlah tank militer, kendaraan tempur, artileri dan rudal, ke dekat perbatasan Ukraina. Meski begitu, pemerintah Rusia telah menegaskan bahwa pasukan militernya berada di sana bukan untuk menyerang.

Pergerakan itu memicu peringatan keras dari AS dan negara-negara Eropa. Upaya diplomasi intens telah dilakukan namun hanya membuahkan sedikit hasil.

Seorang pejabat senior AS yang enggan disebut namanya, menyatakan pemerintah AS mempersiapkan sanksi-sanksi ekonomi 'dengan konsekuensi besar' yang jauh melampaui langkah-langkah sebelumnya yang dijatuhkan tahun 2014 lalu setelah Rusia menginvasi dan mencaplok wilayah Crimea di Ukraina.

Presiden AS Joe Biden juga telah memperingatkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam dua kali percakapan telepon bahwa akan ada konsekuensi ekonomi parah jika Rusia menginvasi Ukraina.

Amerika Serikat, Inggris hingga Kanada bahkan menarik staf Kedutaan Besarnya di Ukraina sebagai tanggapan akan 'ancaman yang meningkat dari Rusia'. AS melalui Pentagon mengerahkan 8.500 pasukannya ke sejumlah negara Eropa untuk keperluan NATO jika situasi di Ukraina makin mengkhawatirkan.

Tak hanya itu, seruan Ukraina kepada sekutu-sekutu Barat untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya telah membuat Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara Baltik setuju untuk mengirim senjata ke Kyiv, termasuk rudal anti-tank dan rudal anti-pesawat.

Sehari setelahnya, tentara Rusia menggelar latihan militer yang melibatkan 6.000 tentaranya di dekat perbatasan Rusia dan di dalam wilayah Krimea. Latihan militer Rusia itu mencakup latihan tembak dengan jet tempur, pesawat pengebom, sistem anti-pesawat dan kapal dari armada Laut Hitam dan Laut Kaspia.***

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top