• Home
  • Siak
  • Mantan RT Dan RW Nyatakan Tidak Ada Tanah Tokeheng di Tenggayun yang Diklaim Awat

Mantan RT Dan RW Nyatakan Tidak Ada Tanah Tokeheng di Tenggayun yang Diklaim Awat

Rabu, 18 April 2018 | 14:49
Zulfahmi
SIAK, RIAUGREEN.COM - Mantan RT Desa Tenggayun Kalid (87 tahun) yang ditemui di kediaman Selasa (17/4/2018), sambil duduk di kursi rodanya lantaran sudah tua dan mengalami patah tiga beberapa tahun lalu saat mau wudhu sholat subuh, namun masih bisa bercerita kepada media ini.

Dirinya menuturkan bahwa tanah yang katanya tokeheng yang diklaim anaknya awat tidak benar, dirinya menjabat RT semasa itu hampir 20 tahun lebih tanpa gaji mulai di zaman penghulu arsat (alm), sampai penghulu amir hazana atau cana, hingga penghulu atau kades H Hamid (alm), tidak ada tanah tokeheng, sebagaimana yang diklaimm anaknya awat.

Bahkan dirinya sebagai RT tidak pernah tau sama sekali begitu pula tidak ada tanda tangan dirinya di surat tanah tokeheng milik awat, begitu juga mantan RW almarhum Maknur atau Aki Senot tidak tau sama sekali, surat tanah dimiliki awat itu tidak benar dan tanpa sepengetahuan perangkat desa di zaman itu.

"Itu hanya pandai pandai Hazana atau Cana saja, karena apapun surat, apalagi surat tanah di lokasi dimana domisili tanah dan RT/RW harus ada tanda tangan kami dan apalagi luas yang tidak masuk akal," tutur khaliD.

Akibat ulah mantan penghulu cana ini membuat banyak orang susah, sekarang coba lihat yang bersangkutan kabar berada di jawa menghilang lantaran di cari-cari banyak orang di kasus lahan, jual sana sini, ucapnya.

Sementara itu mantan RT kalid juga menyatakan kalau Awat mau selesai kan cari saja Hazana itu, karena di lokasi lahan tersebut memang asli dan sah milik warga yang rata rata satu orang ukuran berkisar 20 Depa atau 34 meter, termasuk dirinya lahan 20 depa, almarhum Kahar 20 depa, almarhum Zai 10 Depa, almarhum Maryam, Arsat, banyak lagi warga yang rata rata ukurannya sama.

Dirinya sebagai saksi hidup mempersilakan jika kepala desa atau camat sekarang mau bertanya kepadanya akan saya ceritakan, cuma datanglah kerumah lantaran kondisi saya seperti ini dan tidak bisa kemana mana, karena sakit sesak dan hanya mampu duduk dikursi roda, tutur pak kalid.

Dirinya berharap kepada instansi jika ada awat mau membuat sertifikat atas lahan tersebut, jangan direalisasi petugas BPN dari kabupaten harus tanya sama perangkat desa, termasuk RT/RW dan Dusun, begitu pula kecamatan, karena jangan sampai merugikan masyarakat banyak dan menimbulkan persoalan, ini salah satu contoh ulah hazana orang dibuat susah semua, pintanya.

Sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya warga meminta agar desa membatalkan dan tidak melayani permintaan awat, karena lokasi tanah ngambang dan banyak kejanggalan dan indikasi surat aspal tanda tangan camat waktu itu, tidak mungkinlah seorang camat yang paham birokrasi mau menandatangan surat tanah tanpa ada tanda tangan saksi sempadan, tanda tangan RT/RW dan sebagainya, apalagi ukuran tanah tak masuk akal.

Hal ini dikatakan juga Zulfahmi dan puluhan warga lain jika awat tetap bersikeras begitu juga desa tetap memproses keinginan awat, zul merencanakan akan melakukan tuntutan terhadap pihak pihak terkait, "Dan ini sudah saya sampaikan kepada toro dan lainnya pengurus lainnya di ikatan Media online (IMO) Riau, karena saya termasuk pengurus disana, apalagi hak yang sah milik kita harus kita pertahankan disamping itu juga menyelamatkan milik masyarakat banyak yang merasa ditindas, kita lihat dulu apa keputusan desa maupun kecamatan dan awat yang bersangkutan, katanya. (zul)

BERITA LAINNYA
BERIKAN KOMENTAR
Top