• Home
  • Siak
  • Sekolah Satu Atap Teluk Lanus Taja lomba Tarik Upih

Sekolah Satu Atap Teluk Lanus Taja lomba Tarik Upih

Sabtu, 06 Mei 2017 | 23:01
SIAK, RIAUGREEN.COM - Satu, dua, tiga, upih ditarik oleh masing-masing peserta untuk berlomba siapa yang duluan masuk garis finis. Namun tidak dengan tim Sahri, upihnya tidak bergerak, malah penariknya yang jatuh. Hal itu, Kontan saja membuat murid-murid dan masyarakat yang menyaksikan tertawa dan bersorak.

Itulah kehebohan lomba tarik upih yang dibuat oleh Sekolah Satu Atap di Teluk Lanus, usai menggelar Upacara Peringatan Hardiknas 2017 di halaman sekolah, Jum'at (5/5) pagi.

Sebelum berlomba pelepah itu ditempatkan secara berjajar. Kemudian satu orang duduk diatasnya sementara kawan satu timnya siap menyeretnya. Begitu aba-aba dimulai, guru-guru dan penghulu ini kemudian berlari sambil menyeret pelepah pinang hingga ke batas akhir lapangan. Mereka berteriak gembira sambil mengangkat pelepah tersebut sebagai tanda kemenangan.

Dengan mengambil sebuah pelepah pinang, mereka kemudian membuat pelepah itu untuk dinaiki dan sebagian lagi menyeretnya. Pelepah pinang itu diambil di pinggir hutan. Dengan cara memanjatnya, pelepah yang sudah kering itu sebelum digunakan daunnya terlebih dulu dibersihkan. Sementara tangkai pelepah dibiarkan tidak dipotong untuk pegangan saat pelepah itu ditarik.

Menurut Sahri, Kepala SMPN 1 Teluk Lanus, tradisi tarik upih ini sudah berlangsung turun-temurun. Selain itu, untuk melestarikan permainan rakyat melayu yang mengandung unsur pendidikan, salah satunya sportifitas, kejujuran, dan rasa tanggungjawab.

Diceritakan Sahri, permainan adu cepat pakai pelepah pinang ini merupakan tradisi dari orang-orang dulu. Mereka biasanya merupakan warga desa yang berada di pinggir hutan. Karena dengan mudah mereka akan mendapatkan pohon pohon pinang tersebut.

Permainan tarik upih ini selain untuk menghibur, juga untuk menumbuhkan kecintaan kepada permainan rakyat yang mulai ditinggalkan. Murid berperan sebagai suporter untuk gurunya masing-masing dan masyarakat sebagai suporter untuk penghulunya. Dipilihnya lomba itu karena tak menggunaka biaya, aman dan waktu yang tidak terlalu lama.

Dijelaskan Sahri, pesan yang bisa diambil dari permainan tradisional ini adalah, mengajarkan pentingnya sebuah proses dan menyisipkan nilai-nilai kebaikan. Melatih anak dalam bersosial, ketangkasan dan motorik anak. Jadi, meskipun zaman telah berubah, akan lebih baik jika anak-anak sekarang diperkenalkan kembali dengan permainan tradisional karena pada intinya baik permainan modern maupun permainan tradisional sama-sama menyenangkan dan memiliki manfaat. (Zul)

 


BERITA LAINNYA
Syamsuar: Bangun Daerah Butuh Suasana Kondusif
Selasa, 18 Juli 2017 | 14:00
BERIKAN KOMENTAR
Top