• Home
  • Ruang Opini
  • Pemotongan Tunjangan Guru Untuk Penanganan Covid-19 Menuai Protes

Pemotongan Tunjangan Guru Untuk Penanganan Covid-19 Menuai Protes

Oleh: Ummu Husna
Kamis, 23 Juli 2020 | 10:19
foto kompas
Ilustrasi
IKATAN Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah pemeritah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres)Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun  Anggaran 2020.

Dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada 3 komponen yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp.53,8 triliun menjadi Rp. 50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp 698,3 triliun menjadi Rp 454,2 triliun. Kemudian pemotongan  dilakukan terhadap tujangan khusus dari semula Rp.2,06 triliun menjadi Rp 1,98 triliun.

Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak, yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah ditengah situasi penyebaran virus korona, kata ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim dalam pernyataan tertulis yang diterima Media Indonesia, (20/4).

Selain pada tunjangan guru, pemotongan anggaran di sektor pendididkan juga dilakukan pemerintah terhadapa Dana Bantuan Sekolah (BOS), bantuan operasional penyelenggaraan PAUD, bantuan operasional pendidikan kesetaraan, serta bantuan operasional museum dan taman budaya.

Dana Bos dipotong dari semula Rp 54,3 triliun menjadi Rp 53,4 triliun, bantuan operasional penyelenggaraan (BOP) PAUD dipotong dariRp 4,475 triliun menjadi Rp 4,014 triliun, lalu bantuan operasional pendidikan kesetaraan dipotong dari Rp 1,477 triliun menjadi Rp 1,195 triliun. Disisi lain, anggaran kemendikbud yang lebih dari Rp 70,7 triliun tidak banyak berubah.

"Kami berharap kemendikbud memiliki rasa empati yang tinggi terhadap guru-guru kita yang mengalami dampak dari pandemic covid-19 ini, jangan sampai ada yang berkurang pendapatannya, "Imbuhnya.

Menurut Ramli, para guru justru harus dijaga pendapatannya karena tidak jarang ditemui guru yang membantu anak dididknya yang tidak mampu, khususnya dalam kondisi pandemic seperti ini. Bahkan ada juga guru yang rela membeli kuota data atau pulsa untuk anak didik mereka meskipun sekarang permendikbud membolehkan penggunaan dana BOS untuk membeli kuota data baik untuk guru dan siswa.

Memang sesungguhnya guru merupakan garda terdepan dari keberhasilan sebuah Negara, Oleh karena itu kita harus memberikan kelayakan kepada Guru, mulai dari pendapatan mereka, jangan sampai ada guru yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dan tidak hanya guru PNS saja yang diperhatikan , ternyata banyak guru honorer dan guru swasta yang perlu juga diperhatikan nasibnya karena masih banyak gaji guru itu dibawah standar Upah minimum Regional(UMK).ini harus menjadi titik terang di negeri kita.

Bagaimana mungkin pendapatan seorang guru harus dikurangi padahal jelas guru merupakan tenaga pendidik yang mendidik anak-anak kita dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa membaca menjadi bisa membaca, semua ini berkat jasa guru yang berpeluh keringat tenaga dan pikiran dalam mendidik anak kita.

Dan juga perlu kita ketahui banyak yang menjadi guru itu karena benar benar niat nya ikhlas karena mengharapkan ridho Allah semata  walaupun sebenarnya bisa dikatakan gaji guru tersebut bukan lah besar.

Jika dibandingkan dengan Negara Malaysia pendapatan guru di Indonesia sangatlah jauh berbeda karena guru di Malaysia memiliki gaji yang bisa dikatakan besar, dan juga di berikan fasilitas gratis oleh Negaranya seperti perumahan, kendaraan dan juga fasilitas alat pendukung pembelajaran. Sehingga guru bisafokus serta tenang dalam mengajar anak-anak didiknya dan tidak perlu ada lagi guru yang mencari sampingan penghasilan seperti yang banyak terjadi di Indonesia.

Berbeda dengan pendapatan guru di masa kejayaan islam, gaji guru bisa mencapai 15 dinar/bulan  (4,25 gram emas ), jika 1 gram emas saat sekarang = Rp.963.000, maka 15 dinar = Rp. 61.391.250.betapa sangat dimuliakan sosok guru di masa kejayaan islam.

Loading...
BERITA LAINNYA
Idul Adha, Berkorban Dalam Ketaatan
Jumat, 31 Juli 2020 | 16:10
Pentingnya Etika Bisnis Saat New Normal
Sabtu, 27 Juni 2020 | 10:27
Pentingnya Aturan Etika Saat Pandemi Covid-19
Kamis, 25 Juni 2020 | 13:16
Pandangan Islam Terhadap Korupsi
Selasa, 23 Juni 2020 | 13:34
Riba VS Penyelewengan Dana Covid-19
Kamis, 04 Juni 2020 | 08:16
Kesadaran Penting Kebenaran akan Komunikasi
Selasa, 02 Juni 2020 | 09:50
BERIKAN KOMENTAR
Top