Pengaruh Organisasi Petani Terhadap Negara dan Pasar

Oleh: Saberiah
Kamis, 11 Juni 2020 | 09:08
Ilustrasi
PEMBERDAYAAN petani melalui organisasi formal merupakan hal yang utama di Indonesia, namun keberhasilannya sangat terbatas. Negara menginginkan petani diorganisasikan secara formal, sementara pasar cenderung menghendaki petani (secara individu dan kelompok) untuk berperilaku efisien dan menguntungkan. Melalui pendekatan paham kelembagaan baru (New Instituionalism) dapat dipahami mengapa dan bagaimana petani mengorganisasikan dirinya. Pendekatan ini telah berhasil mengatasi berbagai kekurangan pendekatan sebelumnya.

Pada pendekatan baru ini perilaku petani dipersepsikan sebagai sebuah tindakan yang sadar dan rasional sesuai dengan konteks sosial politik yang mereka miliki dan berbagai kekuatan yang melingkupi mereka. Paper disusun dari berbagai hasil studi dan pemikiran ahli berkenaan dengan konsep dan teori tentang "lembaga" (institution) dan "organisasi" (organization). Sesuai dengan pendekatan paham kelembagaan baru, pengembangan keorganisasian petani perlu memperhatikan prinsip-prinsip bahwa organisasi formal adalah sebuah opsi, mengutamakan fungsi daripada administrasi birokrasi, organisasi sebagai alat, penghargaan pada rasionalitas petani, dan perlunya penguatan relasi-relasi vertikal petani.

Tahapan dan Proses Pembuatan Keputusan yang Dilakukan oleh Petani Dalam Berorganisasi. Berkenaan dengan model kerangka pemikiran bagaimana petani memutuskan untuk menjalankan aktivitas agribisnisnya apakah akan menjalankan dalam organisasi atau tidak digunakan pendekatan kelembagaan baru. Basis penyusunan model ini datang dari salah satu akar teori kelembagaan yaitu pilihan rasional (rational choice).  Pendekatan kelembagaan pilihan rasional dipilih karena mampu menerangkan bagaimana dan mengapa individu dan organisasi terlibat dalam aksi kolektif sesuai dengan aturan untuk mendapatkan perolehan maksimal dari sumber daya yang ada (Baxter, 2005: 41-56). Pendekatan ini dipilih karena diyakini lebih mampu memperbaiki kelemahan dari konsep pilihan rasional yang banyak dikritik karena keterbatasannya.

INTERVENSI NEGARA DAN PENGARUH KULTUR PASAR
Dalam Pembentukan Organisasi Petani di Indonesia Negara dan pasar merupakan dua elemen lingkungan pokok yang mempengaruhi berjalannya organisasi petani. Atas kesadaran inilah, organisasi pada tingkat lokal dapat dikelompokkan (Uphoff, 1986). Modernisasi sangat mewarnai pendekatan pemerintah dalam pembangunan pertanian, termasuk dalam pengorganisasian petani, dan terhadap perubahan susunan dan pola masyarakat (Harison, 1988). Corak kebijakan pembangunan desa semasa Orde Baru ditandai "kuatnya negara masuk desa", dimana semua desa mengikuti model "desa di Jawa" (Sajogyo, 2002). Setiap organisasi di desa tunduk pada kekuasaan atas-desa (power compliance) (Tjondronegoro,  1999; Schulte-Nordholt). Kondisi sosial politik seperti ini memberi lingkungan yang kurang kondusif untuk berkembangnya organisasi petani yang kuat dan berakar.

PENGARUH PASAR TERHADAP AGROBISNIS

Pasar yang merupakan salah satu dari berbagai sarana bagi manusia untuk mendapatkan segala kebutuhan dan keinginannya perlu ditingkatkan kualitas, peranan serta sistemnya. Sistem pasar menjadi patokan ketercapaian pemasaran dan kepuasan diantara produsen/distributor dengan konsumen. Pasar merupakan induk dari bentuk distrubusi segala produk.

Peranan pasar sangatlah penting karena pasar adalah dasar keberhasilan proses pemasaran. Menurut Alex S. Nitisemitobahwa pemasaran merupakan semua kegiatan aktivitas untuk memperlancar arus barang/jasa dari produsen kepada konsumen secara paling efisien dengan maksud untuk menciptakan permintaan efektif. Kegiatan pemasaran dipengaruhi oleh tingkat penawaran dan permintaan.

Dunia pertanian yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari manusia akhir-akhir ini menjadi sorotan bagi masyarakat karena sistem pasar yang tidak termanagement dengan baik. Hal ini disebabkan karena struktur pemasaran pertanian tidak begitu bagus dan tidak menyamaratakan kepentingan. Akibat dari peristiwa ini tata niaga pertanian menjadi tidak lancar dan terkendala dalam distribusinya.

Management pasar sebagai tombak berjalannya pemasaran haruslah diutamakan dan di perbaharui dengan baik agar sistem distribusi berjalan dengan lancar. Terkadang produsen/distributor dalam menawarkan barangnya tidak melihat kaidah-kaidah pemasaran sehingga permintaan dari konsumen menurun dan mengakibatkan kerugian pada produsen/distributor. Rantai pasar yang panjang juga akan mempengaruhi bagaimana tingkat permintaan dari konsumen dan seberapa besar pendapatan yang dihasilkan oleh petani sebagai produsen utama.

Margin pemasaran perlu dilakukan dalam proses tata niaga pertanian yang akan mengetahui jumlah distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima oleh petani, atau bisa juga untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi.

Dalam proses tata niaga, petani sebagai produsen utama pertanian sering kali mendapatkan harga yang tidak layak dikarenakan tekniknya belum mereka pahami, hal ini berkaitan dengan semakin sulitnya petani melakukan perdagangan komoditas yang dibudidayakan. Akibat dari peristiwa ini petani lebih cenderung melakukan penawaran hasil pertaniannya kepada para tengkulak, sehingga rantai pasar semakin panjang dan keuntungan akan lebih besar didapatkan oleh para tengkulak, sedangkan petani hanya mendapatkan keuntungan yang sedikit.

Ketimpangan pendapatan antara petani dengan para distributor khususnya tengkulak adalah salah satu akibat dari sistem pasar dan tata niaga yang tidak baik. Proses penyaluran barang dagang hasil pertanian tidak teratur dari dari hulu ke hilir. Para distributor lebih sering mengutamakan keuntungannya sendiri tanpa memikirkan pendapatan dari petani. Perpindahan barang yang sering terjadi diantara distributor yang satu dengan yang lainnya atau bisa juga dikatakan rantai pasar yang panjang akan mempengaruhi pangsa pasar.

Banyak kendala yang sebenarnya dihadapi oleh para petani yang dapat menghambat jalannya sistem pemasaran produknya. Sehingga tidak heran bila sekarang ini pemasaran produk agrobisnis belum seluruhnya berjalan maksimal dan belum berhasil menembus ketatnya persaingan di pasar nasional maupun mancanegara. Kendala ini perlu ditindak lanjuti agar indonesia bisa menyaingi pasar global dan mendukung kinerja dari para petani dengan memberikan harga yang selayaknya mereka terima.

Untuk menangani masalah tata niaga pertanian, banyak solusi yang mungkin kita dapatkan, diantaranya yaitu perlu penyadaran para petani bahwa peran dan dukungan mereka sangatlah penting untuk keberhasilan tataniaga. Peran yang mungkin bisa dilakukan oleh petani yaitu dengan mengikuti sistem pasar yang telah ditentukan oleh pemerintah dan tidak menjual barang dagangnya kepada tengkulak. Selain dari para petani, peran serta pemerintah dalam pengembangan kelembagaan kedepan masih diperlukan. Namu campur tangan pemerintah tidak bersifat koersif, tetapi lebih bersifat memfalisitasi saja. Hal ini bertujuan untuk melatih para petani agar bersifat mandiri.

Penulis adalah Mahasiswi Universitas Islam Negri Sultan Syarif Kasim Riau


Loading...
BERITA LAINNYA
Idul Adha, Berkorban Dalam Ketaatan
Jumat, 31 Juli 2020 | 16:10
Pentingnya Etika Bisnis Saat New Normal
Sabtu, 27 Juni 2020 | 10:27
Pentingnya Aturan Etika Saat Pandemi Covid-19
Kamis, 25 Juni 2020 | 13:16
Pandangan Islam Terhadap Korupsi
Selasa, 23 Juni 2020 | 13:34
Riba VS Penyelewengan Dana Covid-19
Kamis, 04 Juni 2020 | 08:16
Kesadaran Penting Kebenaran akan Komunikasi
Selasa, 02 Juni 2020 | 09:50
BERIKAN KOMENTAR
Top