Menyoal Kecelakaan Pesawat Terbang

Oleh: Alfira Khairunnisa
Selasa, 30 Oktober 2018 | 14:20
Ilustrasi
BERITA duka kembali datang dari transfortasi penerbagan. Pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Riaugreen.com. Senin, (29/10/2018). Pesawat dengan nomor penerbangan JT 610 tersebut mengangkut 181 penumpang, terdiri dari 124 laki-laki, 54 perempuan, satu anak-anak dan 2 bayi.

Flightradar24 menyebutkan bahwa pesawat Lion Air JT 610 tujuan Pangkal Pinang ini dijadwalkan bertolak pada pukul 06.10 WIB, namun pesawat tersebut baru terbang pukul 06.20 WIB.

Sekitar 13 menit setelah terbang, pesawat dengan 181 penumpang, termasuk kru pesawat, mendadak hilang kontak.

Flightradar24 merekam detik-demi detik Pesawat Lion Air JT 610. Pada 10 detik terakhir. Menurut catatan Flightradar24, ketinggian pesawat Lion Air JT 610 mencapai 4.850 kaki. Namun 10 detik berikutnya ketinggian pesawat hanya 3.650 kaki.

Artinya pesawat tersebut mengalami penurunan ketinggian hingga 1.200 kaki dalam waktu hanya 10 detik!

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono dalam keterangan pers di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, (29/10/2018), mengatakan, "Pesawat dengan ketinggian 2.500-3.000 lost off radar contacts sudah berada di bawah jangkauan radar," ungkapnya

Kecelakaan Pesawat Yang Berulang-Ulang

Peristiwa kecelakaan pesawat bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Hal ini menjadi dilema bagi transfortasi udara. Bagaimana tidak?  kecelakaan pesawat sudah terjadi berulang-ulang. Berikut kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di Tanah Air sejak tahun 2000 banyak merenggut korban jiwa. Berikut datanya:

1. Garuda Indonesia 421 (16 Januari 2002)
2. Trigana Air Service (25 Mei 2002)
3. Lion Air JT 538 (30 November 2004)
4. Mandala Airlines RI 091 (September 2005)
5. Adam Air KI-574 (1 Januari 2007)
6. Garuda Indonesia GA-200 (7 Maret 2007)
7. Merpati Nusantara Airlines (2 Agustus 2009)
8. Merpati 8968 (7 Mei 2011)
9. Sukhoi Superjet 100 (9 Mei 2012)
10. Hercules C-130 (30 Juni 2015)
11. Air Asia 8501 (28 Desember 2014)

Peristiwa kecelakaan pesawat bukanlah hal yang jarang, tapi bisa dikatakan berulang-ulang, kondisi pesawat adalah hal yang utama.

Penuturan presenter TransTV Conchita Caroline yang juga menaiki pesawat Lion Air JT610 Ahad malam 28 Oktober 2018 dari Denpasar tujuan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, yaitu sebelum pesawat jatuh pada Senin pagi (29/10/2018)

Chonchita Caroline melalui akun insragramnya menguak cerita-cerita terkait ketidaknyamanan para penumpang yang menaiki pesawat tersebut pada malam hari sebelum kecelakaan terjadi pada Senin pagi.

Host 'Katakan Putus' di Trans TV itu menuturkan, bahwa ia naik pesawat tersebut harus ekstra sabar. Itu karena pesawat delay (tunda terbang) karena technical error.

Carolina juga bercerita bahwa ada diantara penumpang pesawat yang muntah, hingga sesak nafas karena kekurangan oksigen. Mesin pesawat beberapa kali mati, pendingin udara/ AC juga error dan tidak berfungsi dengan baik.

Kemudian pesawat sudah masuk landasan pacu (runway) tapi batal take off, lalu kembali ke parkiran.

Menurut Caroline, ada kesalahan teknis yang tidak sedikitpun dijelaskan pada para penumpang. Pesawat parkir selama 30 menit dalam kondisi AC mati, kabin panas, dan para penumpang mengeluh tidak nyaman.

Penumpang merasa kepanasan, hingga memaksa untuk meminta pintu pesawat dibuka sembari menunggu perbaikan. Penumpang keluar untuk mencari udara yang lebih segar dan nyaman.

Setelah sekian lama di luar pesawat, para penumpang  tak jua mendapat penjelasan apapun terkait kondisi pesawat dari Kru pesawat. Sebahagian penumpang marah karena merasa berhak untuk mengetahui keamanan pesawat.

Transfortasi Wajib Utamakan Keselamatan

Transfortasi apapun yang ada, haruslah mengutamakan keselamatan. Tidak sekadar menghasilkan pendapatan. Ketika terjadi kesalahan atau kerusakan hendaklah dapat ditangani dan ditanggulangi sedini mungkin. Tidak membiarkannya beroperasi dalam keadaan yang tidak pasti.

Tidak terbayang  jika di antara daftar penumpang korban tewas dan hilang, terdapat keluarga kita. Sungguh sedih tiada terkata. Sedih, terlebih jika terdapat kelalaian dan kesalahan.

Ajal adalah ketetapan Allah. Namun, bagaimana jika ternyata ada kelalaian manusia didalamnya? Sungguh hal ini harus dapat dipertanggungjawabkan.

Semisal menafikan bahwa kondisi pesawat yang tidak seharusnya beroprasi dikarenakan ada gangguan ataupun kerusakan mesin. Meski pesawat  Lion Air ini baru 2 bulan beroperasi, tidak menutup kemungkinan bahwa bisa jadi ada kerusakan pada mesin atau yang lainnya. Bukankah pesawat adalah buatan manusia yang di dalamnya terdapat kelemahan dan kelalaian? Hanya Allah Maha sempurna.

Akan berbeda jika usaha maksimal sudah dilakukan, semisal pengecekan mesin, lantas di tengah jalan tiba-tiba cuaca buruk menerjang. Itu sudah kehendak alam. Garisan ketetapan Tuhan. Maka harus diikhlaskan bukan?

Seyogyanya ketika malam hari telah didapati kerusakan-kerusakan maka, bukankah lebih baik menunda penerbangan? hingga benar-benar bisa dipastikan segala sesuatu telah aman. Melakukan pemeriksaan mendalam sebelum pesawat lepas landas. Memastikan Peralatan keselamatan lengkap dan cukup.

Maka, hendaklah kita sadari bahwa, segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Tetapi, bukan berarti sebagai manusia boleh berlepas tangan dari usaha, harus tetap ketat dalam pemeriksaan sekalipun pesawat yang digunakan adalah pesawat yang baru beroperasi 2 bulan. Jangan sampai ada kelalaian. Bukankah dalam Islam, lalai terhadap amanah adalah dosa. Maka, akan ada kelak pertanggungjawaban. Semoga kedepan tidak terjadi lagi kecelakaan. Wallahu a'lam bisshawab.

Loading...

BERITA LAINNYA
Banjir Yang Tak Kunjung Berakhir
Selasa, 06 November 2018 | 14:14
Menyoal Kecelakaan Pesawat Terbang
Selasa, 30 Oktober 2018 | 14:20
Dukaku bukan Dukamu
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Jeratan Hukum Pengguna Media Sosial
Kamis, 04 Oktober 2018 | 10:19
Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas
Senin, 17 September 2018 | 19:30
Lombok Menjerit, Negara Pailit
Jumat, 07 September 2018 | 12:07
Dilema Pengrajin Batu Bata di Pulau Rupat Bengkalis
Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:41
Menggugat Pragmatisme dalam Kaderisasi Parpol
Jumat, 06 Juli 2018 | 21:39
Menelaah kesuksesan pilkada inhil 2018
Minggu, 01 Juli 2018 | 00:13
BERIKAN KOMENTAR
Top