Dukaku bukan Dukamu

Ditulis Oleh: Lamna Wati,S.Pd (Guru dan Pemerhati Sosial)
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Lamna Wati,S.Pd (Guru dan Pemerhati Sosial)
GEGAP GEMPITA perhelatan akbar Annual-Meeting IMF-World Bank di Nusa Dua, Bali. Gemanya membahana hingga ke seluruh pelosok negeri. Dari Sabang sampai Merauke. Menjadi kebanggaan para 'pecinta' turis asing. Tiada rela terlewatkan detik demi detiknya. Menanam harapan. Merajut asa. Mendulang pujian dunia. Membawa harum nama Indonesia. Melalui event ini diharapkan akan mendongkrak sektor ekonomi dan pariwisata Indonesia. Padahal ini hanya kedok berbalut madu.

Ya, Annual-Meeting. Pelaksanaannya begitu meriah. Sambutan mewah nan megah menanti ribuan peserta yang datang dari berbagai negara. Tercatat ada 18.000 orang dari 189 negara yang hadir dalam event ini. Menghabiskan dana Rp.835 millyar. Sungguh perhelatan yang tak sepatutnya ada. Apalagi di tengah duka yang melanda Lombok, Palu dan Donggala saat ini.

Sudah berhari-hari para pengungsi harus rela tidur di tenda-tenda pengungsian. Telah berkali-kali pula gempa susulan melanda mereka. Bantuan tidak merata. Tidak mencukupi kebutuhan mereka. Bahkan ada yang belum mendapat bantuan sama sekali setelah beberapa hari. Bahkan hanya untuk air bersih dan tenda saja sulit. Tersiar kabar, bahwa untuk mendapatkan jatah air bersih, pengungsi harus menunjukkan kupon.

Ada seorang guru di Lombok Barat yang terpaksa mengantarkan warga dusun terpencil Telaga Seguar, di kecamatan Bayan untuk mendapatkan bantuan logistik dan terpal. Namun begitu, media mengatakan bahwa bantuan dari posko nasional sudah all out. Memilukan.

"Dan keadaan warga seperti di Telaga Seguar itu banyak. Jangankan dusun-dusun terpencil di perbukitan. Korban gempa dipusat kecamatan saja tidak tertangani. Sekedar minta terpal diposko kecamatan saja tidak ada. Konon lagi air bersih, nasi bungkus dan sembako. Malah saat saya mampir di rumah teman di Desa Anyar, pusat kecamatan, untuk sholat. Air untuk wuduk saja tidak ada. Lalu dimana yang dikatakan all out itu?". Demikian dikutip dari perkataan guru tersebut.(Radarpribumi, 10/08/2018).

Pada juni lalu, tersiar kabar bahwa Menteri Keuangan janjikan THR dan gaji ke-13 bagi ASN dan PNS akan segera cair. Selain itu, Presiden Jokowi janjikan kenaikan gaji mereka lima persen tahun depan. Untuk itu, telah disiapkan dana Rp. 414,9 triliun dalam APBN 2019.(Tempo.co 08/06/2018).

Antara duka dan senang mendengar kabar ini. Bukan tak rela. Tapi ini menyayat hatiku. Tapi mungkin dukaku bukan dukamu. Masyarakat Lombok, Palu dan Donggala merintih. Bahkan hingga ini hari, pemerintah belum juga tetapkan gempa Palu dan Donggala sebagai bencana nasional. Alasannya takut rugi. Biar pemerintah daerah yang urusi. Bahkan pemerintah malah menyuruh untuk menjarah toko-toko yang ada di Palu. Dengan alasan darurat. Namun kemudian kondisi ini ditampik oleh seorang mentri. Intinya mereka saling lempar tanggung jawab. Allahuakbar! Memang sabar yang harus diperbanyak.

Entah kepada siapa hendak mengadukan asa dan kegalauan ini. Rakyat ditimpa bencana bertubi-tubi. Tapi pemerintah malah sibuk pencitraan. Mengurusi apa yang mestinya tak diurusi. Mendahulukan apa yang mestinya tak didahulukan. Bersuka ria dengan perhelatan yang justru mengundang bencana. Melayani orang-orang asing yang menjajah negeri ini. Subhanallah.

Semakin dalam rindu pada kepemimpinan yang membawa berkah. Di bawah naungan Allah Yang Maha Penyayang. Masa kegemilangan Islam dan kaum Muslimin. Membawa berkah dan rahmat bagi semesta alam. Di dalamnya hukum-hukum syariat ditegakkan. Keadilan merata di seluruh penjurunya. Yang papa diperhatikan. Yang lemah dilindungi. Bencana dihadapi bersama. Bukan membuat alasan untuk lari dari tanggung jawabnya.

Adalah Umar bin al-khothob saat rakyatnya ditimpa musibah wabah penyakit yang menular. Dia bukan lari demi mengamankan diri. Namun membersamai rakyatnya tanpa takut akan binasa. Pun ketika menghadapi masa sulit di tahun paceklik. Dia mengharamkan dirinya dari memakan makanan yang enak dan bergizi. Hingga akhirnya kulitnya menguning lantaran kekurangan makanan yang layak.

Ada pula khalifah Al-Mu'tasimbillah. Ia dengan gagah berani mengerahkan ribuan pasukannya hanya untuk menyelamatkan seorang wanita. Yang dilecehkan oleh raja Amuriah masa itu. Masya Allah. Rindu nian hati ini.

Dan pula manusia teragung, Rasulullah Saw telah menyiapkan tempat tinggal di sisi mesjidnya. Bagi para ahlus sufah. Orang-orang lemah yang tak memiliki tempat tinggal dan penghidupan. Mereka diurus sedemikian rupa oleh Rasulullah saw saat itu. Aduhai, berlinang air mata mengenangnya. Rindu menyayat relung jiwa. Semoga kita pula dapat merasakannya di masa hadapan. Aamiin.

Ya, begitulah layaknya pemimpin. Tugasnya adalah mengurus dan mengayomi rakyatnya. Siap dimintai pertolongan dan uluran tangannya. Siap mengasihi dan menyayangi. Siap berjaga saat rakyatnya dirundung musibah dan cobaan. Siap lelah dan lapar asal rakyatnya kenyang. Siap menghunus pedang demi membela rakyatnya. Dan tentu harus lebih siap menghadap Allah swt saat di yaumul hisab nanti.

Loading...
Menjawab tanya dan bertanggung jawab atas apa yang diurusnya selama menjadi pemimpin di dunia. Karna untuk urusan itulah dia diangkat dan diberi kekuasaan. Jika ia mengurus dengan baik, maka surga Allah begitu luas untuknya. Namun sebaliknya, jika dia abai, maka neraka yang menyala-nyala sebagai tempat tinggalnya. Kita berdo'a semoga Allah swt mengkaruniakan kepada kita pemimpin yang adil, jujur, amanah, tegas, berani serta bertanggung jawab di dunia dan akhirat. Jika tidak, dialah yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka.

Itulah hari yang pasti akan terjadi. Tiada keraguan di dalamnya. Tidak sedikitpun. Wahai para pemimpin, bersiaplah kalian menghadapinya. Karna tiada sedikitpun hal yang tersembunyi di sana. Dan semua ada balasannya. Wallahua'lam bi-ashowwab.

BERITA LAINNYA
Banjir Yang Tak Kunjung Berakhir
Selasa, 06 November 2018 | 14:14
Menyoal Kecelakaan Pesawat Terbang
Selasa, 30 Oktober 2018 | 14:20
Dukaku bukan Dukamu
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Jeratan Hukum Pengguna Media Sosial
Kamis, 04 Oktober 2018 | 10:19
Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas
Senin, 17 September 2018 | 19:30
Lombok Menjerit, Negara Pailit
Jumat, 07 September 2018 | 12:07
Dilema Pengrajin Batu Bata di Pulau Rupat Bengkalis
Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:41
Menggugat Pragmatisme dalam Kaderisasi Parpol
Jumat, 06 Juli 2018 | 21:39
Menelaah kesuksesan pilkada inhil 2018
Minggu, 01 Juli 2018 | 00:13
BERIKAN KOMENTAR
Top