Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas

Senin, 17 September 2018 | 19:30
RiauGreen.com
Poto Dessy Sukriya Aryati
RIAUGREEN.COM- Sebanyak 28,99 persen penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti miskin. Jumlah yang luar biasa. Sebagai kabupaten termuda di Provinsi Riau, Meranti masih dihantui kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau merilis jumlah penduduk miskin di Riau pada kondisi Maret 2017 adalah sebesar 514,62 ribu jiwa. 

Lebih dari 10 persen penduduk miskin Riau berada di Meranti. Ya, sebanyak 53,05 ribu jiwa penduduk miskin berada di Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Siapakah Si Miskin?

Seseorang disebut miskin atau tidak dilihat dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan menurut sisi pengeluaran. Garis Kemiskinan menjadi pembatasnya. Dikatakan miskin jika berada di bawah garis kemiskinan.

Penentuan Garis Kemiskinan (GK) mengacu pada pengeluaran penduduk di masing-masing wilayah. Karena itu Garis Kemiskinan berbeda-beda di setiap wilayah. Ada dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

Garis Kemiskinan Makanan (GKM) adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan ini diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). 

Adapun Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM) adalah kebutuhan minimum untuk kebutuhan perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan.

Garis Kemiskinan di Meranti pada tahun 2017 adalah Rp 445.025. Artinya, penduduk dengan pengeluaran rata-ratanya dibawah Rp 445.025 per orangnya selama satu bulan dikatakan sebagai penduduk miskin. Jumlahnya mencapai 53,05 ribu jiwa. Jika satu keluarga di Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari 4 orang, maka dikatakan miskin jika pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga tersebut kurang dari Rp 1.780.100 per bulannya.

Upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk mengurangi jumlah penduduk miskin terlihat nyata adanya. Jika dibandingkan dengan tahun 2016, jumlah penduduk miskin Meranti pada tahun 2017 mengalami penurunan sebesar 1,9 poin atau sekitar 3,13 ribu jiwa.

Dirunut lagi kebelakang, tahun 2016 pun turun sebesar 3,19 poin atau sekitar 5,46 ribu jiwa dibandingkan 2015. Artinya, selama 2 tahun terakhir, jumlah penduduk miskin Meranti telah mengalami penurunan sebanyak 8,59 ribu jiwa. Secara jumlah, penurunan ini sungguh luar bisa.Suatu pencapaian yang sangat baik jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Riau. Namun demikian, apakah penurunan kemiskinan ini berkualitas? Atau hanya sekedar penurunan jumlah saja?

Kualitas Kemiskinan.
Merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kepulauan Meranti, berbagai upaya telah dan akan dilakukan pemerintah guna mengangkat penduduk miskin menjadi tidak miskin. Walaupun sejalan dengan capaian yang diinginkan dalam Indikator Kerja Misi, namun jika dicermati penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti belum berkualitas. Mengapa? Secara persentase, memang jumlah penduduk miskin menurun. Turun dari 30,89 persen pada tahun 2016 menjadi 28,99 persen pada tahun 2017. 

Namun, kemiskinan tidak hanya soal persentase, tetapi juga soal Indeks Kedalaman (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Inilah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas penurunan kemiskinan. Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi dengan migas Meranti mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,22 persen pada tahun 2016 dan 2,85 persen pada tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi dikatakan memihak masyarakat miskin jika dibarengi dengan pengurangan kesenjangan atau pendapatan dari kelompok miskin. Pendapatan kelompok miskin meningkat bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi.

Apakah hal ini terjadi di Meranti?
Persentase penduduk miskin mengalami penurunan, namun Indeks Kedalaman dan Indeks Keparahan Kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti masih besar. Nilai paling besar jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Riau. Indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2017 adalah 6,51, sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi padatahun 2016(7,71). Artinya, penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan mengalami kondisi ekonomi yang tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan tahun 2016.

Indeks keparahan kemiskinan juga menunjukkan kondisi yang sejalan, yaitu2,20 pada tahun 2017. Tidak lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2016 yang sebesar2,42. Kondisi ini menunjukkan pengurangan kesenjangan ekonomi antar penduduk miskin di Kabupaten Kepulauan Meranti tidak signifikan pada tahun 2016.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) menunjukkan rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk terhadap Garis Kemiskinan. Nilai indeks yang semakin tinggi menunjukkan rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin jauh dibawah dari Garis Kemiskinan.

Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Riau, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki Indeks Kedalaman Kemiskinan yang paling besar, yaitu 6,51. Sementara Kabupaten lain berada pada rentang 0,61 hingga 1,74. Selain itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Gap Index-P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. 

Saat nilai indeks semakin tinggi, maka semakin tinggi pula ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Riau, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki Indeks Keparahan Kemiskinan yang paling besar, yaitu 2,20.

 Sementara kabupaten lain berada pada rentang 0,16 hingga 0,47. Perlu telaahan mendalam, apa yang terjadi di Meranti. Kebijakan apa yang urgent dilakukan. Kebijakan terkait kemiskinan bukan sekedar bermain angka. Seperti dikatakan Jousairi Hasbullah dalam bukunya Tangguh denganS tatistik, bahwasanya membaca data  statistik bukan sekedar melihat besaran angka lalu memperdebatkannya. Tetapi lebih pada memaknai angka tersebut sebagai realita dan menemukan kebijakan yang berpijak pada realita yang ada.

Apakah upaya yang dilakukan sekedar mengejar penurunan penduduk miskin?

Apakah upaya yang dilakukan benar-benar telah menyentuh "kualitas" kehidupan penduduk miskin? Karena sejatinya upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan suatu perjalanan yang panjang. Maka hendaknya yang menjadi tujuan bukan saja kuantitas penduduk miskin tetapi juga kualitas kehidupan penduduk miskin.

Editor : Hendrianto

Ditulis oleh: Dessy Syukriya Aryati, SST
Tempat Tanggal Lahir : Pekanbaru, 26 Mei 1990
Jabatan : Statistisi Pertama (BPS Kabupaten Kepulauan Meranti)

BERITA LAINNYA
Dukaku bukan Dukamu
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Jeratan Hukum Pengguna Media Sosial
Kamis, 04 Oktober 2018 | 10:19
Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas
Senin, 17 September 2018 | 19:30
Lombok Menjerit, Negara Pailit
Jumat, 07 September 2018 | 12:07
Dilema Pengrajin Batu Bata di Pulau Rupat Bengkalis
Selasa, 14 Agustus 2018 | 11:41
Menggugat Pragmatisme dalam Kaderisasi Parpol
Jumat, 06 Juli 2018 | 21:39
Menelaah kesuksesan pilkada inhil 2018
Minggu, 01 Juli 2018 | 00:13
Jangan Takut Ujian Nasional
Sabtu, 14 April 2018 | 14:21
BERIKAN KOMENTAR
Top