Jangan Takut Ujian Nasional

Oleh : Hardianto, S.Pd., M.Pd
Sabtu, 14 April 2018 | 14:21
BULAN April dan Mei 2018 dilaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk SMA/SMK sederajat dan SMP sederajat dan Ujian Nasional Berbasis Sekolah (UNBS) untuk tingkat SD/MI. Ujian Nasional menjadi persyaratan bagi peserta didik untuk menyelesaikan pendidikan dalam satu jenjang pendidikan. Setiap pelaksanaan Ujian Nasional biasanya selalu menghadirkan ceritanya tersendiri.

Bagi sebagian sekolah, guru maupun peserta didik, Ujian Nasional seperti sebuah momen berat yang harus dilewati. Ujian nasional menjadi sesuatu yang ditakuti tetapi harus dihadapi. Padahal sebuah ujian hanyalah kegiatan biasa yang ditempuh untuk melihat keberhasilan program pendidikan/ pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tanpa ujian tentu saja akan sulit mengukur keberhasilan kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan.

Tiga hal yang bisa dilakukan sekolah, guru dan peserta didik dalam menghadapi Ujian Nasional adalah:

1) Pahami bahwa Ujian Nasional bukanlah kompetisi

Salah satu pengertian Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh pusat penilaian pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003. Pengertian ini jelas tidak menyatakan bahwa semua daerah memiliki kewajiban untuk bisa mewujudkan hasil ujian yang tinggi.

Hasil Ujian Nasional akan dapat memetakan pendidikan secara nasional. Pemetaan ini nantinya yang akan menghasilkan kebijakan untuk pembenahan dan perbaikan. Pelaksanaan Ujian Nasional yang jujur tentu menghasilkan data yang akurat sehingga keputusan/kebijakan yang diambil akan tepat sasaran. Ketika data yang diterima tidak berdasarkan kenyataan yang sebenarnya tentu saja akan menjadikan kebijakan yang keliru, sehingga permasalahan pendidikan tidak akan pernah terselesaikan.

Ketika Ujian Nasional dipandang sebagai kompetisi, maka akan ada praktik-praktik ilegal agar bisa memenangkan kompetisi tersebut. Penghargaan bagi sekolah dengan nilai rata-rata Ujian Nasional tertinggi boleh-boleh saja dilakukan tetapi kejujuran dalam pelaksanaan harus menjadi fondasinya.

2) Persiapan menghadapi Ujian Nasional dilakukan sejak peserta didik masuk sekolah


Fenomena umum yang terlihat di lembaga pendidikan adalah kesibukan menghadapi Ujian Nasional digesa pada saat peserta didik duduk di kelas VI pada pendidikan dasar, kelas kelas IX pada tingkat SMP sederajat dan kelas XII pada tingkat SMA sederajat. Pada saat itu dilaksanakan kelas sore, belajar tambahan, try out dan sebutan lainnya. Sementara peserta didik yang duduk di kelas sebelumnya tidak dibuat perlakuan untuk menghadapi Ujian Nasional itu.

Bagi peserta didik yang tidak terbiasa belajar, dengan belajar pagi, sore dan bahkan malam tentu saja cara ini tidak akan berhasil maksimal. Belajar rutin dengan waktu yang tidak terlalu lama akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan belajar ketika menghadapi ujian dengan durasi waktu yang panjang. Sistem kebut semalam tidak akan pernah efektif dalam menghadapi ujian. Sekolah harus sudah mulai membuat perencanaan agar sejak siswa diterima (Kelas VII dan Kelas X) sudah dipersiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional.

3) Pemerataan kualitas tanaga pendidik, kependidikan serta sarana prasarana pendidikan


Kesuksesan Ujian Nasional salah satunya ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik, tenaga kependidikan serta sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah. Apabila kualitas telah merata tentu saja pelaksanaan Ujian Nasional bagi sekolah tidak lagi menjadi ketakutan. Kesenjangan kualitas tenaga pendidik, tenaga kependidikan serta sarana prasarana pendidikan yang sangat timpang antar daerah akan memancing tindakan tidak jujur.

Permasalahan kesenjangan kualitas tenaga pendidikan di satu daerah dengan daerah lain masih terasa. Sebagian guru cenderung lebih memilih mengajar di kota dibandingkan di desa. Selain kesenjangan kualitas, perbedaan kuantitas juga masih dirasakan di sekolah. Ada sekolah yang tidak memiliki guru mata pelajaran tertentu, atau tidak memiliki jumlah tenaga kependidikan yang sesuai dengan kebutuhan.

Perbedaan kelengkapan sarana prasarana antar sekolah akan menjadi sumber ketakutan tersendiri bagi sekolah dalam menghadapi Ujian Nasional. Pelaksanaan UNBK mengharuskan peserta didik terbiasa menggunakan komputer. Ketika peserta didik belum terbiasa, tentunya menjadikan permasalahan tambahan selain masalah menjawab soal ujian mereka juga akan bermasalah dalam penggunaan komputer.

Pemerintah harus bisa mewujudkan pemerataan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik, kependidikan serta sarana prasarana pendidikan. Ketersediaan perpustakaan sekolah mutlak diperlukan, begitu juga laboratorium dan perlengkapan pembelajaran lainnya. Tanpa pemerataan tersebut Ujian Nasional akan tetap menjadi sesuatu yang takut untuk dihadapi. (*)

Oleh : Hardianto, S.Pd., M.Pd
Penulis adalah (Dosen Univ. Pasir Pengaraian dan Mahasiswa S3 MP Univ. Negeri Jakarta)


Loading...
BERITA LAINNYA
Benarkah Dana Desa untuk Kemakmuran Desa?
Rabu, 23 Januari 2019 | 10:01
Memuhasabah untuk Meraih Berkah
Kamis, 17 Januari 2019 | 15:02
Selamatkan Burung Rangkong Dari Kepunahan
Kamis, 17 Januari 2019 | 13:09
Maju Riau Karena Desa
Selasa, 15 Januari 2019 | 21:30
Menuju Riau Smart Province
Jumat, 21 Desember 2018 | 11:39
Banjir Yang Tak Kunjung Berakhir
Selasa, 06 November 2018 | 14:14
Menyoal Kecelakaan Pesawat Terbang
Selasa, 30 Oktober 2018 | 14:20
Dukaku bukan Dukamu
Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:34
Jeratan Hukum Pengguna Media Sosial
Kamis, 04 Oktober 2018 | 10:19
Penurunan Si Miskin (belum) Berkualitas
Senin, 17 September 2018 | 19:30
BERIKAN KOMENTAR
Top