Guru Gak Harus Otoriter

Oleh: Muri, S.Pd,M.Si
Senin, 19 Februari 2018 | 00:46
Ditulis oleh: Muri, S.Pd,M.Si
BERBICARA masalah guru, pasti berkaitan dengan cara mengajar sedangkan Mengajar tidak hanya mentransferkan ilmu saja, melainkan juga sikap dan perilaku (pendidikan karakter) sehingga bisa diteladani oleh para siswa. Di sini seorang guru harus menjadi role of model bagi para siswa.

Mengajar juga berarti mendidik, mengarahkan dan menuntun para siswa berjalan pada koridor yang sesuai dengan aturan yang sudah disepakati secara bersama. Tentu kita pernah mendengar komentar lepas bahwa guru adalah orang tua kedua dari para siswa di sekolah. Karena ia adalah orang tua, maka rasa kasih sayang harus dimainkan oleh seorang guru di lingkungan sekolah.

Lebih lanjut, guru mengajar tidak serta merta memposisikan diri sebagai tokoh yang otoriter. Menganggap diri yang paling benar dan sangat kaku bahkan rigid untuk menerima saran dari para siswa. Guru dalam tugasnya sebagai pengajar harus siap dan bersedia untuk menerima kritikan. Di sinilah letak kebijaksanaan seorang guru. Bahkan pada titik inilah konsep guru belajar diterapkan. Seorang guru memiliki sikap lapang dada dan kemauan kuat untuk belajar dari orang lain, khususnya dari para siswa.

Kesediaan untuk belajar dari orang lain (siswa) mencerminkan adanya pendidikan partisipatif dalam ruang sekolah. Artinya seorang guru tidak hanya menjadi pengajar tetapi juga siap untuk diajar. Terkait hal ini, baiklah kita mengutip kata-kata dari Albert Einstein yang menyatakan bahwa: di dunia ini tidak ada orang yang bodoh dan yang pintar. Yang ada hanyalah orang yang lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu.

Apa yang saya uraikan di atas merupakan sesuatu yang diidealkan untuk dilakukan oleh seorang guru. Tetapi dalam prakteknya memang sulit. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor: Pertama, adanya sikap gengsi yang ditampilkan oleh seorang guru. Gengsi dalam arti tidak mau belajar dari orang lain, dalam konteks ini adalah siswa.

Kedua, ada perasaan takut yang dialami oleh para siswa untuk menyampaikan gagasan atau pendapat tatkala gurunya salah atau keliru menjelaskan sesuatu. Perasaan takut ini juga sebenarnya tidak terlepas dari konstruksi sosial yang melekat dalam diri siswa tentang sosok guru yang sangat ditakuti. Atau pun juga perasaan takut lainnya seperti tidak mendapatkan nilai baik jika saya memprotes guru. Ini merupakan bentuk ketakutan yang terkontaminasi dalam diri seorang siswa.

Untuk bisa keluar dari zona atau situasi tersebut, sosok guru harus melihat anak didiknya sebagai teman. Teman dalam artian saling berbagi ilmu, menghargai pendapat dan bersedia untuk mengkritik dan dikritik. Di samping itu, seorang guru harus berani untuk memposisikan diri bukan hanya sebagai pengajar melainkan juga menjadi pelajar bagi para siswa.

Hubungan ideal seperti ini bertujuan untuk mengurangi gap atau kesenjangan dalam hal interaksi antara guru dan murid. Guru mengajar dan guru belajar merupakan realitas yang sangat ideal untuk dipraktekan di sekolah. (*)

Ditulis oleh: Muri, S.Pd,M.Si
Penulis adalah Kepala SMPN 1 Model Babat Toman dan Sekretaris PGRI Kabupaten Muba 


BERITA LAINNYA
Menggugat Pragmatisme dalam Kaderisasi Parpol
Jumat, 06 Juli 2018 | 21:39
Menelaah kesuksesan pilkada inhil 2018
Minggu, 01 Juli 2018 | 00:13
Jangan Takut Ujian Nasional
Sabtu, 14 April 2018 | 14:21
Guru Gak Harus Otoriter
Senin, 19 Februari 2018 | 00:46
Memilih Pemimpin Ideal Bagi Masyarakat Riau
Kamis, 01 Februari 2018 | 11:15
Eksistensi Melayu di Bumi Lancang Kuning
Jumat, 26 Januari 2018 | 11:23
BERIKAN KOMENTAR
Top