Buku Sarana Menggapai Kemajuan

Ditulis Oleh: H Subroto Asmoro SH
Senin, 25 September 2017 | 11:33
foto sindonews

Miing Bagito (1994 merintis karir pelawak/Bagito, era 2000-an menjadi anggota DPR-RI sampai kini) saat diwawancarai Tukul Arwana pada acara "Bukan empat Mata", ditayangkan Trans 7, Kamis 21 Nopember 2013, menceritakan bahwa, baca buku merupakan salah satu atau proses mencapai kecerdasan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa dengan membaca buku akan tahu perkembangan serta dalam "melawak" akan lebih nyambung sesuai dengan audien yang mengundang, sehingga menjadi "lucu".                                                                                                                                                      

Ternyata hal tersebut senada dengan pelawak Djadi Galajapo, asal Surabaya yang saat diwawancarai Tukul Arwana dalam acara dan saat yang sama. Kini Djadi Galajapo dirumahnya (Surabaya) memiliki Perpustakaan yang terbuka untuk umum.                                                                              

Kepedulian & budaya baca masyarakat 

 Disisi lain, Indari Mastuti (perempuan 33 tahun), alumnus Universitas Pasundan Bandung, dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi, saat itu (2012) berhasil membentuk Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN)., baru sebulan anggota mencapai 1.000 orang.  Pada Desember 2012 jumlah anggota IIDN mencapai 5.500 ibu rumah tangga (Jawa Pos, 30 Desember 2012, hal.1).   

Saat saya membaca tulisan Bp. M. Anwar Djaelani, penulis buku "Warnai Dunia dengan tulisan"  pada majalah Al Falah Edisi 308, Nopember 2013 hal.32, dalam artikel Kolom  dengan tema "Kisah Indah Buku-Buku Penggugah", dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata tidak jauh berbeda dan ada relevansinya dengan apa yang diuraikan oleh kedua nara sumber diatas.  

Bila mencermati hasil  Riset Taufik Ismail tahun 1996 saya "miris", betapa tidak ?, menurut beliau, para lulusan SMA di Jerman , rata-rata membaca 32 judul buku, nk Belanda 30 buku, anak Rusia 12 buku, anak Jepang 15 buku, anak Singapura 6 buku, anak Malaysia 6 buku, anak Brunei 7 buku, anak Indonesia 0 buku. Jika merujuk hasil riset tersebut, relevansinya  dengan kondisi riil pelajar SMA lulus UNAS membaca 0 buku (synopsis buku"Ubah Takdir lewat Baca dan Tulis Buku", Suparto Brata, Surabaya, 2011)..   

Pertanyaannya adalah, pelajar yang nota bene kegiatannya belajar saja malas membaca buku, atau membaca 0 buku lulus Unas,  apalagi masyarakat luas ? Kapan sempat bac buku.  Terbayang dibenak saya bila di Perancis pada tgl 17 Juli 1789 meletus "Revolusi Perancis", berhasil mendobrak kemajuan, demikian pula dinegeri tercinta ini, era 1945-an terjadi "Revolusi 45", dan dikumandangkanlah Prokalmasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno-Hatta.  Bila kita simak acara TV, kebanyakan orang Jepang saat menunggu kereta, atau saat dalam perjalanan di kereta (kereta listrik), banyak yang diisi dengan kegiatan "membaca buku" .                                                                  

Meski sudah puluhan tahun merdeka, menurut Laporan UNESCO, minat baca orang Indonesia tergolong rendah, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang suka baca (majalah Al Falah Edisi 313, April 2014, hal.58)  Salah satu tujuan negara yang tersirat dan tersurat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 ialam mencerdaskan bangsa  Keluarga adalah bagian terkecil dari negara.   Di negara maju, mantan Presiden Amerika Serikat, John F. Keneddy mengatakan "Janganlah kamu tanyakan apa yang saya dapat dari negara, tapi tanyakan apa yang dapat saya sumbangkan kepada negara"   Bila mengacu hal tersebut maka tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tanggung jawab/partisipasi setiap warga negara..

Bangkitkan semangat membaca

Menurut Ustadz, "mengaji" (membaca Kitab Suci Al Qur'an secara tartil dan benar), meski tidak tahu artinya (Al Qur'an dalam bahasa Arab), mendapat pahala.  Apalagi mengerti, memahami dan mengamalkan, tentunya besar pahalanya dan dambaan setiap insan  Menurut sejarah, surat pertama yang diturubkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah surat ""Iqra'" yang artinya "bacalah.  Membaca dalam arti sempit ialah melafalkan rangkaian huruf atau kata-kata, sedangkan dalam arti luas ialah belajar/mempelajari.  Kata bijak mengatakan "Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat", dengan demikian "belajar" tidak mengenal usia, juga tidak mengenal tempat/lokasi, sesuai pepatah "Tuntutlah Ilmu sampai kenegeri China""                                                                                                                             

Bila kita cermati saat ini di Surabaya terdapat 800 Perpustakaan (Jawa Pos, 27 April 2014, hal.11, artikel dibalik Buku, tema Surabaya setelah Socrates Award).  Pertanyaannya adalah, sudah kentalkah budaya baca masyarakat ?         

Sepanjang pengetahuan penulis, diluar jawa ada Kabupaten/Kota yang menetapkan dan menerapkan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur kegiatan membaca bagi masyarakat.   Kalau boleh saya berpendapat, sebaikny ada payung hukum (Undang-Undang, Perda, dsb) yang memberlakukan setiap pelajar kelas 6 (Sekolah Dasar), pelajar kelas 9 (SLTP), pelajar kelas 12 (SLTA) wajib membuat Karya Tulis, sebagai salah satu persyaratan kelulusan.                                                                                  

Penulis berkeyakinan, apabila Pemerintah/negara, setiap warga negara  sungguh-sungguh mencerdaskan bangsa, antara lain dengan membua payung hukum tersebut, insya Allah, negeri tercinta ini semakin mendekati kemajuan. Semoga.!



BERITA LAINNYA
Penyebab Tingginya Perceraian
Minggu, 01 Oktober 2017 | 13:45
Buku Sarana Menggapai Kemajuan
Senin, 25 September 2017 | 11:33
Jangan Ada Korban Berjatuhan
Kamis, 21 September 2017 | 19:11
Selamat Datang Mimpi
Minggu, 03 September 2017 | 20:45
Perlunya Reformasi pendidikan
Senin, 24 Juli 2017 | 20:35
BERIKAN KOMENTAR
Top