Mengenal Dakwah Digital Ustadz Abdul Somad Pekanbaru

Selasa, 18 Juli 2017 | 11:46
Foto youtube
TAMPAKNYA  momen Ramadan 1438 H, menjadi titik cuat nama Ustadz Abdul Somad (UAS), penceramah muda bernas dari Pekanbaru, Riau. Demikian viral ceramah lengkap darinya, termasuk cuplikan durasi 3-6 menit lintas aneka gawai beserta aneka media sosial perantaranya.

Selain viral, decak kagum banyak bermunculan karena penguasaan ilmu, terutama hadist, seolah mengalir tak bertepi. Sekalipun tak bisa ditahan pula, saat bersamaan, tak sedikit yang keberatan, benci, bahkan muncul rumor dirinya dilaporkan ke kepolisian atas materi dakwah yang dinilai anti kebhinekaan.

Penelusuran penulis menunjukkan setidaknya pada dua kanal utama ceramahnya di Youtube, yakni Tafaqquh Online dan Fodamara, video UAS sudah ditonton total akumulasi 16,255 juta view dari total 1.410 video yang mencakup dirinya. So, rerata satu video ditonton hampir 12.000 kali.

Di fanspage facebook maupun instagram, dua akun personal media sosial yang aktif digunakannya, total pengikutnya mendekati 300.000. Karenanya, namanya demikian berseliweran di jagat daring tanah air kurun beberapa bulan terakhir.

Apa yang membuat ceramahnya, dalam arsip digital maupun streaming, kerap diburu banyak warganet Indonesia kontemporer? Adakah rahasia komunikasi publik Islami yang dilakukannya dalam rentang dakwah dan mengajar kembali di Indonesia sejak 2008 lalu?

Setelah menelusuri nomor kontak awal dari humas Tafaqquh Online, penulis akhirnya bisa bersilaturahmi digital dengan Bang Hidayat, asisten pribadi UAS. Setelah memperlihatkan contoh tulisan di detik atas jurnal i'tikaf 10 hari terakhir Ramadhan, atensi mulai muncul namun terkendala waktu sempit.

Dan, akhirnya wawancara bisa dilakukan melalui telepon pada Jumat (14/7/2017) siang selepas da'i kelahiran 18 Mei 1977 ini shalat Jumat-an. Hampir setengah jam lebih berbincang tak terasa, yang dalam waktu bersamaan, menyisakan hikmah dan kesan mendalam.

Bagi alumni S1 Al-Azhar, Mesir serta S2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko tersebut, tidak ada sesuatu yang baru dalam dakwahnya, sekalipun banyak warganet menyebutnya sebagai penceramah berilmu tinggi namun rendah diri, tegas prinsip namun lembut perangai, dan serius tapi santai.

"Tidak ada hal baru (dalam ceramah saya), hanya melanjutkan perintah Allah Swt dan Rasul SAW. Bahwa kita ummat terbaik, yang diperintahkan untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sekalipun kita semua bermunajat, berdoa rame-rame, namun jika tak amar ma'ruf nahi munkar, maka doa takkan dikabulkan," katanya.

Jadi, sambung UAS, yang dilakukan dalam dakwahnya simpel dan sederhana saja yakni menegakkan QS Ali Imran 110: Ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia guna menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah Swt.

Dalam perspektif lain, merujuk cendekia besar Muslim Hasan Al-Banna, kewajiban menyampaikan kebenaran ini adalah manunggal dengan muslim di manapun. Nahnu duat qobla kulli sya'in, alias semua dari kita adalah pendakwah sebelum menjadi siapa-siapa.

Lalu, jika benar sesimpel dan senormatif begitu, sergah penulis, mengapa dampak tausyiah UAS terasa lebih masif? Bukankah itu pula yang sekian tahun dilakukan oleh banyak asatidz, dari kampung hingga kota, dari yang direkam ataupun tidak?

Menurut ayah satu anak ini, pembobotan materi tentu menjadi nilai tambah. Misal seniornya sesama lulusan Al-Azhar di Pekanbaru, Dr. Mustafa Umar, LC, MA, yang fokus membahas tafsir Al-Quran, terutama dari Tafsir Al-Ma'rifat. Demikian pula dirinya, yang lulusan sekolah hadist utama di dunia tersebut, maka hadist menjadi fokus subtansi dakwahnya.

"Demikian pula juga jika ada pendakwah ahli politik, akan bahas sisi tersebut [untuk menarik audiens]. Intinya, apapun spesialisasi kita, maka luruskan niat untuk amar ma'ruf nahi munkar, sehingga akan terjaga dari saling mengejek dan saling menjatuhkan yang lain," sambung pria tinggi ini.

Saling mengejek, bahkan tahdzir (memperingatkan orang lain dari kemunkaran, red) intensif kemudian menjadi kosakata yang cukup lekat dengan UAS. Terutama terkait dengan sejumlah pemikirannya, baik dari sisi praktik ibadah maupun pendiriannya terkait jihad.

Polemik malah berkepanjangan ketika pendapat UAS soal bom bunuh diri di Palestina diplintir demikian rupa, melenceng dari substansi karena sampai dikaitkan dengan bom bunuh diri di Kampung Melayu. Menariknya, proses klarifikasi berulang disampaikan, terutama di fanspage Facebook serta Instagram miliknya.

"Begini, dakwah itu identiknya di mimbar, hanya ceramah. Identiknya juga amar ma'ruf, mengajak shalat saja. Namun jika ada kebathilan dilekatkan pada kita, maka menyingkap kebathilan itu adalah dakwah. Singkaplah dengan klarifikasi, dengan tabayyun, karena ketika orang benar namun diam saja, maka pihak yang bathil justru merasa benar," jelasnya, tegas.

Bagi UAS, kondisi ummat sekarang bisa digolongkan tiga rupa; Para pencinta yang mereka tak perlu kau jelaskan apapun, para pembenci yang percuma kau jelaskan apapun, dan yang abu-abu dalam bersikap.

Nah, sambung dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau ini, terutama yang abu-abu inilah yang harus dicerdaskan dengan penjelasan komprehensif sehingga tujuan akhir mengajak kebaikan dan cegah kemunkaran via dakwah tetap terjaga. Itupun porsinya jangan-lah berlebihan.

Dalam salah satu videonya, Abdul Somad pernah bertekad sekembalinya ke Indonesia, akan banyak buat buku terkait hadist. Apa daya, waktunya kemudian kadang habis menjelaskan khilafiyah furuiyah dari mulai celana isbal, kewajiban qunut, tahlilan, dan banyak lagi.

"Saya klarifikasi, tapi saya tak habiskan waktu untuk itu, cukup sekali. Melalui teks sekali, video sekali. Alhamdulillah-nya, kawan seperti Ustadz Abdul Hadrami, Ustadz Oemar Mita, ikut bantu menjelaskan sehingga saya tinggal posting pernyataan mereka," sambungnya.

Baginya, situasi ini menjadi tantangan dakwah mutakhir di Indonesia. Satu manhaj cenderung menjelekkan dan mencari titik lemah, bukan saling mengisi. Namun sebagai lulusan Timur Tengah, dia faham jika ada agenda pesanan semacam itu sudah biasa terjadi, sehingga bukan sesuatu yang menurutnya luar biasa.

Justru, kata dia, dengan keberlimpahan media digital saat ini, terutama jejaring sosial Youtube, sebetulnya sedang terjadi proses pengambilan dalil dengan komparasi banyak ayat seperti dilakukan para begawan sekaliber Imam Syafi'i dan Imam Nawawi.

"Masyarakat sekarang melihat ceramah yang putih, hitam, abu, ini sama dulu himpun banyak ayat sebelum tentukan dalil. Maka masyarakat pun akan lihat video yang satu dengan lainnya, Insya Allah ummat makin cerdas," katanya.

Hal menarik lain adalah bahwa Ustadz Somad, sapaan lainnya, tak pernah secara khusus belajar komunikasi publik dakwah dan syiar. Saat kuliah di Mesir sejak 1998, sama sekali tak pernah ceramah.

"Waktu S2 di Maroko, sesekali saja mengisi ceramah dan khutbah Jum'at di KBRI. Begitu pulang ke Indonesia tahun 2008, di Pekanbaru, kita berguru [cara dakwah] kepada Ustadz Dr. Mustafa Umar, LC, MA, dan Ustadz Mawardi M. Saleh," katanya.

Kesempatan isi tausyiah rutin kepadanya terjadi di Mesjid Raya An-Nur Pekanbaru, manakala Dr. Mustafa Umar memiliki jadwal isi ceramah di Pekanbaru dua pekan dan dua pekan berikutnya di Malaysia.

Dia diwariskan kebiasaan Ustadz Dr. Mustafa Umar yang selalu mendokumentasikan ceramah tafsir Qur'an-nya di mesjid tersebut sejak awal. Seniornya tersebut berpikiran ke depan, karena ingin membuat tafsir qur'an namun berbentuk video.

Mau tak mau, ketika UAS menggantikan jadwal, rekaman pun terjadi jauh sebelum memuncaknya platform media sosial (Youtube, Instagram, dan Facebook) seperti pada saat ini. Tidak dikhususkan untuk sekarang, bahkan bahan sudah banyak tersedia sekalipun viralitas baru terjadi beberapa saat terakhir.

"Jadi video ini (dibuat) tidak khusus generasi milenial. Tapi ini bukti validnya ayat Qur'an bahwa dakwah harus billisani qoumihi, menggunakan bahasa kaum-mu. Bahasa kaum di Indonesia sekarang yang efektif mungkin video, youtube. Dan ini sangat produktif, betapa banyak santri tanpa pesantren, atau orang yang dulu malas ke mesjid, tergugah dengan video dakwah saya," sambungnya.

Baginya, semua gaya public speaking-nya berjalan natural. Tak dibuat-dibuat, tak pula menyamakan dengan seseorang, atau merujuk sejumlah video ustadz lainnya yang kerap dilihatnya yakni Buya Yahya, Ustadz Idrus Romli, dan Ustadz Adi Hidayat.

Gaya bicara tak satupun yang dia tiru, namun gaya orasi ini diakuinya ada wasilah tetesan gen dari kakeknya, Datuk Zakaria. Di kampung mesjid, hingga akhir hayatnya, sang kakek konsisten menjadi khatib jum'at di sela tugas keseharian sebagai petugas pencatat pernikahan.

Maka itu, dengan situasi yang dibawakannya sekarang yakni dakwah digital memikat, maka dalam hemat penulis, konten komunikasi publik UAS akan makin sering menjumpai masyarakat Indonesia. Artinya, dalam waktu bersamaan, popularitasnya otomatis makin menanjak.

Di mata dosen UIN Sultan Syarif Kasim, Riau ini, popularitas bukan hal menakutkan. Ada berkah, namun bisa jadi musibah. Tapi selama kita punya kemampuan mengatur ini semua, maka popularitas takkan pernah merugikan.

"Kalau karena popularitas maka kita punya jadwal misal sampai di 10 televisi hingga tak bisa bergerak kemana-mana, itu kita perlu intropeksi. Ini mau syiar atau mau menonjolkan diri sendiri? Apa yang mau dicari dari hidup ini?" katanya, balik bertanya. Semoga diberkahi istiqomah dan kesehatan selalu, UAS.


Muhammad Sufyan Abdurrahman
Dosen Digital Public Relations Telkom University
via detik.com

BERITA LAINNYA
Jangan Mengeluh & Syukuri Menjadi Seorang Pendidik
Minggu, 10 Desember 2017 | 13:56
Penyebab Tingginya Perceraian
Minggu, 01 Oktober 2017 | 13:45
Buku Sarana Menggapai Kemajuan
Senin, 25 September 2017 | 11:33
Jangan Ada Korban Berjatuhan
Kamis, 21 September 2017 | 19:11
Selamat Datang Mimpi
Minggu, 03 September 2017 | 20:45
BERIKAN KOMENTAR
Top