• Home
  • Ruang Opini
  • Pandangan Mengenai Tax Amnesty Oleh Tim Peneliti PKM-PSH UR

Pandangan Mengenai Tax Amnesty Oleh Tim Peneliti PKM-PSH UR

Ditulis Oleh Kristine Tiurmauli Gultom
Sabtu, 08 Juli 2017 | 17:20
Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) adalah kebijakan yang mirip dengan Sunset Policy namun tidak berhasil diterapkan, kemudian di Juli 2016 kebijakan Tax Amnesty diberlakukan sebagai kebijakan yang dapat dikatakan turunan dari kebijakan ini. Tax Amnesty merupakan kebijakkan perpajakkan terbaru di Indonesia yang cukup menarik perhatian khalayak banyak tidak terkecuali mahasiswa Universitas Riau yang tergabung dalam Tim Penelitan yang berkompetisi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial dan Humaniora (PSH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Republik Indonesia. Tim penelitian ini mengangkat beberapa variabel yakni Keputusan Investasi, Profitabilitas, dan Harga Saham dimana Tax Amnesty sebagai moderating antara variabel-variabel tersebut, untuk menilai bagaimana Tax Amnesty mempengaruhi saham-saham di Indonesia terkhususnya dalam Indeks LQ45. 

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada 3 bulan sebelum pemberlakuan Tax Amnesty, saham-saham dalam Indeks LQ45 memiliki kemampuan memperoleh laba yang dilihat dari nilai Return On Equity (ROE) mencapai titik-titik tertentu yang dapat dikatakan lebih baik daripada kuartal yang selanjutnya, atau dapat dikatakan penurunan terjadi saat diberlakukannya tax amnesty. Penurunan yang terjadi berkisar diantara 0,06% - 35,02% dan dari 25 saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 selama periode Februari 2013 Juli 2017, 17 saham mengalami penurunan setelah diberlakukannya tax amnesty. Nilai ROE diketahui dari pembagian antara Laba Bersih dengan Modal Sendiri.

Penurunan ini bisa saja dikarenakan oleh perusahaan telah melaksanakan program tersebut yang menyebabkan total penerimaan bersih atau laba operasi berkurang. Siklusnya adalah ketika laba operasi berkurang hal ini bisa disebabkan oleh 3 jenis pengeluaran kas, yaitu beban-beban, pembayaran bunga dan pembayaran pajak, dan perusahaan mengeluarkan kas yang berasal dari ketiga jenis pengeluaran tersebut lebih besar daripada kuartal sebelumnya. Disisi lain, perusahaan tidak memaksimalkan sumber dayanya yakni modal/ekuitas yang besar dan laba operasi yang besar untuk membagikan dividen yang lebih besar kepada investor. Logikanya adalah jika nilai ROE meningkat akibat pembagian dividen yang besar dan mengurangi nilai ekuitas maka ROE perusahaan otomatis naik. Sisi lainnya, terdapat 8 saham mengalami peningkatan kemampuan memperoleh laba yang cukup pesat yaitu berkisar antara  4,94% - 16,36% dan hal ini terjadi setelah adanya pemberlakuan tax amnesty. 3 hal yang dapat dijadikan alasan mengapa hal ini dapat terjadi, yaitu perusahaan belum melaksanakan program tersebut dan total penjualan mengalami peningkatan, prediksi investor terhadap saham ini adalah baik sehingga keputusan investasi pada saham ini meningkat dan mempengaruhi modal perusahaan tersebut, serta perusahaan melakukan Manajemen Laba agar terlihat baik dimata investor. Intinya pada aspek Profitabilitas, nilai Return On Equity (ROE) menurun akibat Tax Amnesty yang menyebabkan kebijakkan ini membuat dampak negatif pada ROE saham-saham di LQ45.

Selain itu, pada aspek Keputusan Investasi yang dilihat dari nilai Price Earning Ratio (PER) penurunan yang terjadi berkisar diantara 0,68%-13,70%. Dari 25 saham yang terdaftar dalam Indeks LQ45 selama periode Februari 2013 Juli 2017, 7 saham mengalami penurunan setelah diberlakukannya tax amnesty. Dalam kasus nilai PER, nilai PER yang turun menandakan bahwa harga saham tersebut turun. Ini akan menjadi perhatian bagi investor dimana siklusnya adalah pembelian saham akan terjadi jika harga saham yang ingin dituju mengalami penurunan, artinya investor akan melakukan BUY. Namun, para investor juga harus memperhatikan apakah penurunan ini selama jangka pendek atau jangka panjang. Jumlah saham yang mengalami penurunan ini tidak berarti karena 18 saham lainnya mengalami peningkatan nilai PER yang cukup pesat yaitu berkisar antara  0,63%-16,57% dan hal ini terjadi setelah adanya pemberlakuan tax amnesty. Peningkatan nilai PER menandakan harga saham akan mengalami peningkatan. Investor akan mengambilkan tindakan HOLD atau menahan dulu untuk melakukan investasi pada saham tersebut. Karena pada saat itu harga saham sedang mengalami OVERVALUE dimana nilainya sudah melewati harga wajarnya dipasaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk apsek Keputusan Investasi, Tax Amnesty memberikan dampat positif. Diaspek Harga Saham, terdapat 16 saham mengalami penurunan dan 9 saham mengalami peningkatan, sehingga Tax Amnesty memberikan dampak negatif bagi saham-saham di LQ45. 

Atmosphere yang seperti ini memberikan keraguan bagi investor untuk memilih saham-saham mana yang layak untuk diinvestasikan, dengan adanya fenomena yang terjadi peneliti memberikan solusi berupa buku panduan untuk menuntun para calon investor ataupun investor untuk memilih saham-saham yang layak untuk di investasikan yang berjudul "5 Tips Investasi Cerdas" sehingga diharapkan para calon investor ataupun investor tidak perlu ragu lagi untuk menginvestasikan dananya.***




BERITA LAINNYA
Perlunya Reformasi pendidikan
Senin, 24 Juli 2017 | 20:35
Sel Otak Hilang Akibat Kurang Tidur
Selasa, 06 Juni 2017 | 16:21
Pentingnya Pembentukan Karakter pada Anak
Minggu, 04 Juni 2017 | 14:49
Kisah Dibalik Honorer Kuansing
Rabu, 10 Mei 2017 | 16:24
Ada Apa dengan APBD Kuansing Tahun 2017?
Minggu, 16 April 2017 | 13:01
BERIKAN KOMENTAR
Top