Pendidikan Sekuler Lahirkan Murid Cacat Moral

Oleh: Siti Maysaroh,Amd.AK
Jumat, 03 Maret 2017 | 16:54
Foto Ilustrasi
SAAT INI jika kita berbicara tentang potret pendidikan dalam negeri sungguh sangat memprihatinkan. Berbagai problematika membelit tak diketahui ujung pangkalnya. Belum tuntas problem yang ini datang lagi masalah yang baru. Khususnya moral dan akhlak pelajar terhadap guru saat ini sungguh jauh dari kata baik. Banyak murid yang tidak lagi menghargai guru, padahal guru adalah sosok yang berjasa dalam menyebarkan ilmu dan membentuk kepribadian manusia.

Bentuk peremehan terhadap sosok guru tampak pada kasus yang direspon anggota Komisi X DPR, Reni Marlinawati. Dia menyesalkan tindak kekerasan terhadap Dasrul, guru SMKN 2 Makassar, oleh Adnan Achmad, orang tua siswa. Menurut Reni, kasus tersebut membuat profesi guru menjadi tidak bermarwah. "Kondisi ini menjadi preseden tidak baik. Guru yang semestinya menjadi teladan dan panutan menjadi tidak memiliki marwah (karena sering menjadi korban aksi kekerasan)," kata Reni di Jakarta, Jumat (12/8).

Yang lebih memilukan lagi adalah kasus pembunuhan terhadap tenaga pendidik yang terjadi di Medan, tepatnya saat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin (2/5). Seorang dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) tewas ditikam mahasiswanya. (2/5/2016, Merdeka.com)

Dua kasus di atas hanyalah secuil potret buram sistem pendidikan negeri ini. Di satu sisi ada UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Di sisi  lain ada UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Kedua UU ini bias dan menimbulkan dilema dalam proses pendidikan.

Guru seringkali dihadapkan pada situasi sulit dalam menghadapi siswa yang sulit diatur, tidak disiplin, tidak hormat, dan berani kepada guru. Jika tidak diberikan tindakan yang tegas, akan membuat siswa semakin  bebas dan berani. Jika diberikan tindakan tegas (sanksi), guru digugat bahkan dikriminalkan oleh siswa maupun orang tua.

Sejatinya permasalahan negeri ini sebab diterapkannya sekulerisme pendidikan. HAM, liberalisme, dan hedonisme menjadi akar persoalan yang mempengaruhi perilaku siswa. Mereka menjadi semakin sulit diatur dan jauh dari pemahaman Islam.

Dalam pandangan Islam, guru adalah sosok yang berperan penting dalam pembentukan perilaku anak. Islam mengajarkan adab-adab seorang murid kepada gurunya. Akhlak serta adab yang baik merupakan kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, serta yang tidak mengerti hak ulama (guru)." (HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami).

Al Imam As Syafi'i pernah berkata, "Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya".

Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya, maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula. Hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.

Disamping itu Islam memberi tuntunan terhadap orang tua dalam memberikan dukungan moral kepada guru  sebagai mitra dalam mendidik anak-anak mereka. Islam juga memastikan peran negara dalam memberikan tuntunan, dukungan, dan penghargaan bagi guru, sehingga dapat mendidik secara optimal sesuai tuntunan syariah.

Itu semua hanya akan mampu terwujud dalam sistem Khilafah yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dengannya kita akan menjadi umat terbaik, seperti yang dikabarkan Allah swt dalam firmanNya, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Wallahu 'alam bi shawab


Ditulis Oleh: Siti Maysaroh Amd AK
Penulis adalah Teknisi Lab Patologi Anatomi RSUD AA Pekanbaru dan Aktivis MHTI Riau


BERITA LAINNYA
Penyebab Tingginya Perceraian
Minggu, 01 Oktober 2017 | 13:45
Buku Sarana Menggapai Kemajuan
Senin, 25 September 2017 | 11:33
Jangan Ada Korban Berjatuhan
Kamis, 21 September 2017 | 19:11
Selamat Datang Mimpi
Minggu, 03 September 2017 | 20:45
BERIKAN KOMENTAR
Top